Thursday, June 23, 2011

Islam tapi Rasis?


“Dasar lu cina! Pulang kampung aja lo! Dasar arab, pelit!”
Bukan sekali dua kali, saya mendengar kalimat kebencian seperti tadi. Kebencian, prasangka atau stereotip terhadap suatu bangsa, etnis atau ras, sepertinya sudah bukan barang baru di masyarakat Indonesia. Setidaknya yang saya alami hingga saat ini. Hal seperti ini sepertinya sudah biasa terdengar oleh saya (dan mungkin sebagian dari kita) sejak kecil. Dan sepertinya ini bukan hal yang aneh. Jarang saya dengar ketika saya ada kalimat kebencian, atau prasangka seperti tadi, ada yang menyanggah, atau membantahnya. Sepertinya ini sudah menjadi bagian dari cara pandang kita. Suku, etnis, bangsa atau ras tertentu lebih hina, atau rendah daripada kita. Dan ini terkadang saya dengar dari sebagian lingkungan saya yang mayoritas Islam. Bahkan saya pernah dengar, ada khotib Jumat yang berkata dengan nada kebencian serupa.

Entah mengapa hal ini saya anggap biasa, normal dan cenderung mengiyakan. Mungkin karena dari kecil, saya sudah terbiasa mendengarnya. Mereka yang dibenci, memang sudah dari lahirnya seperti itu. Lahir dengan sifat-sifat jahat, pelit, kikir, sombong dan lain-lain. Yang paling sering jadi sasaran di Indonesia (setahu saya) adalah etnis Tionghoa, atau Cina kata masyarakat umum. Sekarang malah disebut China (dilafalkan dengan pengucapan bahasa Inggris). Entah kenapa di ucapkan seperti itu. Padahal, bahasa Indonesia tidak mengenal kata ‘China’. Saya sendiri akan membiasakan menyebutnya tionghoa. Seperti yang biasa di sebut oleh sejarahwan, Ong Hok Ham.

Namun pola pandang ini berubah tatkala saya mengenal Malcolm X. Aktivis kulit hitam di Amerika Serikat.[1] Setelah membaca bukunya, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana pandangan rasis ini? Apakah benar atau salah? Bagaimana kalau saya jadi orang ‘cina’, atau ‘negro’, atau lainnya? Apa saya tetap berhak diperlakukan tidak adil? Dipandang dengan prasangka negatif? Apakah benar sikap rasis ini?

Rasis sendiri mulai di pakai dalam kata ilmiah sejak tahun 1930an.[2] Tatkala menggambarkan politik Nazi di Jerman. Namun, telah dituliskan sebagai istilah resmi dalam kamus di Spanyol pada tahun 1611. Kamus tersebut mengartikan istilah ‘raza’, sebagia istilah yang menghormati suatu ‘kasta atau kualitas, kuda-kuda asli’. Dan diartikan pula sebuah istilah yang merendahkan,yang mengacu pada silsilah bangsa yahudi dan moor (bangsa muslim dari Afrika, yang tinggal di Spanyol).[3] Pandangan terhadap ras ini cenderung berdampak dan diwarnai pada berbagai aspek. Yang paling fatal adalah penyerangan, atas dasar ras. Mulai dari penindasan terhadap bangsa Indian di Amerika, reconquista di Spanyol, Yahudi di Jerman, era kolonial, terhadap kulit hitam di Amerika, sampai pada pemusnahan etnis di Bosnia, Kosovo dan Checnya, serta yang berlangsung sampai saat ini dan di dukung banyak negara, yaitu pemusnahan terhadap bangsa Palestina. Rasisme atau rasialisme, berarti, 1. prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yg berat sebelah thd (suku) bangsa yg berbeda-beda; 2 paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yg paling unggul.[4]

Semakin menyedihkan tatkala kita melihat sebagian Muslim di Indonesia masih memiliki cara pandang rasialis ini. Padahal sebagai Muslim, harusnya kita memiliki cara pandang (worldview) yang digariskan Islam. Lalu bagaimana Islam memandangnya? Nyatanya Islam sudah memerangi rasisme sejak hampir 1400 tahun yang lalu. Seorang muslim disuruh memahami, bahwa manusia itu memang beragam suku dan bangsa,

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujarat : 13)

Setelah manusia menginsyafi adanya keragaman dalam dunia ini dan saling mengenal, maka mereka disuruh berpikir,
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.(QS. Ar Rum : 22)

Inilah tanda-tanda dari Tuhan. Bukan sekedar diketahui, tapi kembali mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhannya. Jika sampai saat ini kita masih berpikir rasis, maka sadarkah kita dengan cara pandang itu, maka yang paling awal timbul adalah prasangka? Maka Allah melarang kita bersikap seperti itu,
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah : 8)

Jika memang itu yang sudah digariskan dalam Islam, maka sebagai Muslim, mengapa kita harus bersikap rasis? Untuk kita (di Indonesia) yang terbiasa dengan sikap rasis ini, maka sebaiknya kita tahu bahwa rasisme adalah bagian dari politik pemerintah Kolonial belanda, yang membagi masyarakat di Indonesia menjadi 3 golongan, yaitu golongan eropa, timur asing (yang termasuk didalamnya etnis tionghoa, baik peranakan dan bukan peranakan) serta golongan bumi putera (pribumi). Politik lainnya dari kolonial Belanda adalah politik Wijkenstelsel, yaitu politik yang mengharuskan setiap suku bangsa tinggal di kampung-kampung tersendiri, agar tidak ada hubungan, kecuali perdagangan antar etnis atau suku bangsa dalam suatu kota. [5] Bahkan hingga pendidikan pun penjajah itu memilah-milahnya, dengan memberikan sekolah yang berbeda-beda, yaitu HIS (hollandsch-Inlandsche School) untuk bumiputera/pribumi, HCS (hollandsch-Chineese School) untuk etnis tionghoa dan peranakannya, serta ELS (Europeesch Lagere School) untuk anak-anak Belanda.[6]
Maka dampaknya masih terasa hingga saat ini. Ketika sebagian orang memilih tinggal bersama etnisnya, dan sulit membaur. Tak bisa disalahkan begitu saja, mengingat ini sudah berjalan sejak era penjajahan. Dan tak mudah memerangi prasangka ras yang satu ini di Indonesia. Namun mungkin dengan mengaitkan Islam dengan etnis tionghoa, maka akan ditemui, bahwa, Islam telah memulai kontak resmi dengan pemerintah China (dinasti Tang) pada masa khalifah Usman Bin Affan.[7] Jikalah memang Islam mengajarkan kebencian pada etnis tionghoa, maka mengapa pula sahabat Rasulullah, khalifah Usman Bin Affan, memulai hubungan diplomatik dengan dinasti Tang?

Saat ini rasisme dapat kita anggap sebagai musuh bersama. Namun ironisnya, justru sebuah negara bernama Israel menjadi sebuah negara yang mendukung rasisme. Ini adalah sebuah masalah fundamental sejak awal berdirinya Israel. Israel tak ubahnya, bahkan lebih kejam dan jahat, jika dibandingkan dengan Afrika Selatan semasa poltik apherteid mereka. Denis Goldberg, seorang yahudi, yang mencoba melawan system apherteid di Afrika Selatan dipenjarakan pada tahun 1985. Ia dapat dibebaskan dengan campur tangan Israel, namun ia menolak dipindahkan ke Israel. Alasannya, “Saya melihat banyak kesamaan antara penindasan terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan dengan penindasan terhadap orang Palestina.”[8]

Simak pula komentar peraih nobel, Uskup Desmond Tutu, ketika berkunjung ke Yerussalem pada tahun 1989. Ia berkata, “Saya seorang berkult hitam Afrika Selatan, dan seandainya saya boleh menyamakan, gambaran peristiwa yang sedang terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dapat menggambarkan apa yang terjadi di Afrika Selatan.”[9] Majelis Umum PBB secara resmi pada 10 November 1975 mengeluarkan resolusi yang mendefinisikan zionisme sebagai bentuk rasisme dan diskriminasi rasial. [10] Maka kita sebagai muslim menolak rasisme dan menolak eksistensi negara rasis dan kolonialis bernama Israel.

Sudah jelas apa yang di perintahkan oleh Allah kepada hambanya mengenai rasisme. Maka, jika telah mengetahuinya, wajiblah kita menghilangkan perilaku dan cara pandang rasis. Memulai dari diri sendiri, walau tak mudah, adalah tindakan yang paling mungkin untuk dilakukan. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita mengingat, khutbah ‘perpisahan’ Nabi Muhammad SAW, di bukit arafah pada 9 Dzulhijah (6 Maret 632 M)[11], di depan ribuan jamaahnya, umatnya,
Wahai manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan kukatakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini…Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah; kecuali karena takwa dan amal salihnya. Ketahuilah bahwa setiap orang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzalimi. Ingatlah satu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian. [ 12]

Khutbah ini disampaikan oleh Rasulullah, sebuah pengakuan akan hak azasi manusia, pengakuan menolak rasisme. Yang disampaikan hampir 1400 tahun sebelum Deklarasi HAM PBB tahun 1948.[13] Maka Islam sudah menggariskan bagaimana memandang hidup ini dengan beragam persoalannya, termasuk masalah rasisme. Mengapa masih mencari yang lain sebagai pegangan dan pandangan hidup? Sampaikanlah pesan Rasulullah ini. Sudahkah kita mengamalkan dan menyampaikannya? Wallhualam.

[1]. Malcolm X. Sebuah otobiografi. 2002. Yogyakarta. Ikon Teralitera.
[2] Fredrickson, George M. Rasisme : Sejarah Singkat. 2005. Yogyakarta. Bentang.
[3] ] Fredrickson, George M. Rasisme : Sejarah Singkat. 2005. Yogyakarta. Bentang.
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan. pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/
[5] Ong Hok Ham. Riwayat Tionghoa Peranakan Di Jawa. 2005. Jakarta. Komunitas Bambu.
[6] Ong Hok Ham. Riwayat Tionghoa Peranakan Di Jawa. 2005. Jakarta. Komunitas Bambu.
[8] Burge, Gary M. Palestina Milik Siapa? 2010. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
[9] Burge, Gary M. Palestina Milik Siapa? 2010. Jakarta. BPK Gunung Mulia.
[10] Garaudy, Roger. Mitos dan Politik Israel. 2000. Jakarta. Gema Insani.
[11] Arif, Syamsuddin. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Islam dan Rasisme. 2008. Jakarta Gema Insani.
[12] Arif, Syamsuddin. Orientalis & Diabolisme Pemikiran. Islam dan Rasisme. 2008. Jakarta Gema Insani.

Thursday, June 16, 2011

Cinta Bangsa dan Tanah Air?

Baru saja beberapa pekan belakangan tersiar berita tentang beberapa sekolah Islam yang menolak upacara bendera [1] dan radio Islam yang menolak menyiarkan lagu kebangsaan[2]. Komentar-komentar bermunculan. Dari perbuatan makar, hingga pengkhianat. Kejadian seperti ini mudah membakar emosi orang-orang yang tak sependapat dengan sekolah atau radio tersebut. Apalagi belakangan memang santer masalah NII, penolakan terhadap pancasila dan sebagainya. Maka tak heran menolak upacara bendera dan menolak menyiarkan lagu kebangsaan dianggap sebagai penolakan terhadap NKRI, tidak nasionalis, yang berujung pada tudingan pengkhianat. Tapi apakah pantas, orang yang menolak upacara bendera disebut pengkhianat? Apakah pantas menolak menyiarkan lagu kebangsaan dituding tidak mencintai Indonesia? Lalu apa tolak ukur rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air? Lebih khusus lagi, apa tolak ukur bagi seorang Muslim mencintai tanah airnya? Apakah harus dengan upacra bendera? Dengan menyanyikan lagu kebangsaan?

Ada baiknya kita lihat pendapat seorang Haji Agus Salim. Salah seorang tokoh besar bangsa ini. Sekaligus seorang tokoh Islam di Indonesia. Kecintaannya pada bangsa ini tentu tidak diragukan lagi. Ialah generasi awal tokoh gerakan modern kemerdekaan Indonesia. Sesungguhnya ia pernah membahas persoalan cinta bangsa dan tanah air puluhan tahun yang lampau. Tepatnya Juli 1928. Ketika ia memulai polemik dengan Soekarno lewat media massa. Polemik tentang cinta tanah air dan bangsa, bahkan ketika sumpah pemuda pun belum di ikrarkan oleh pemuda kita.

Berawal dari perkataan Soekarno pada massa PNI. Soekarno menggambarkan betapa Indonesia, yang ia anggap sebagai ibu, begitu indah, teramat kaya dan ia cintai. Maka, kata Soekarno, tak lebih dari wajibmu apabila kamu menghambakan, membudakkan dirimu kepada Ibumu Indonesia, menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.

Haji Agus Salim lalu menulis dalam Fajar Asia, dan menurutnya adalah wajar mencintai tanah air dan bangsanya yang elok dan teramat kaya. Tapi,sebagai muslim, harus dengan asas yang benar, dan tujuan utama yang akan dinilai oleh Allah. Ia mencontohkan betapa banyak, bangsa yang dicintai dan diagungkan kemudian, menjajah bangsa lain. Ia kemudian melanjutkan, “inilah bahayanya, apabila kita ‘menghamba’ dan ‘membudak’ kepada ‘Ibu-dewi yang menjadi tanah air kita karenanya sendiri saja; karena eloknya dan cantiknya; karena kayanya dan baiknya, karena ‘airnya yang kita minum’ atau nasinya yang kita makan.”

Karena menurut Haji Agus Salim, janganlah kita mencintai karena sifat duniawi. Ia mengingatkan, “ atas dasar pehubungan yang karena benda dunia dan rupa dunia belaka, tidaklah akan dapat ditumbuhkan sifat-sifat keutamaan yang perlu untuk mencapai kesempurnaan.” Ia kemudian melanjutkan, “ maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga cinta tanah air, mesti kita menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak (kebenaran), keadilan dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahuwa Ta’ala. ” Artinya kita sebagai muslim, mencintai tanah air ini, tidak melebihi cinta dan cita kita pada Allah. Dan Allah telah menentukan kadarnya. Bagaimana kadarnya?

Haji Agus Salim mencontohkan kadar cinta Nabi Ibrahim pada tanah airnya. Sebagai mana ia kutip surat Ibrahim ayat ke 37.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Ia menerangkan bahwa, bahwa men-tanah air-kan semata karena untuk menyembah Allah. “Hanyalah akan tempat untuk menyembah Allah semata-mata”, tulisnya.

Saya yakin, sebagaimana Haji Agus Salim juga yakin pada Soekarno, bahwa kita sama-sama mencintai tanah air dan bangsa ini. Tapi ada perbedaan yang mendasar.

“Sama Haluan : Cinta bangsa dan tanah air. Sama tujuan : Kemuliaan Bangsa dan Tanah air. Tapi berlainan asas dan niat, “ tandas Haji Agus salim. “Asas Kita agama, yaitu Islam. Niat kita Lillahi Ta’aala, ” Lanjutnya.

Maka sebagai seorang muslim, kita mencintai tanah air ini karena Allah. Semata agar menyembah Allah.Tidak menyembah bangsa dan tanah air ini. Apa yang Allah telah gariskan dan tentukan, itulah yang kita jalankan di tanah air kita ini. Toh semata-mata agar tanah air ini mendapat kemuliaan. Kemuliaan dengan ridho Allah.

Itulah kadar cinta bangsa dan tanah air ini untuk seorang muslim. Maka apabila ada teman-teman kita, yang menolak untuk melakukan upacara bendera, menyiarkan lagu kebangsaan, janganlah dituding sebagai pengkhianat atau berbuat makar. Bagi seorang muslim, ia mencintai tanah air dan bangsanya bukan diukur dari upacara bendera, atau menyiarkan lagu kebangsaan. Bukan dari kebendaan atau simbolik semata. Tapi bagaimana di tanah air tersebut, ia menyembah Allah semata. Bagaimana usahanya ditanah air tersebut menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai yang di tuntunkan oleh Allah.

Tidakkah lebih baik kita tudingkan kata pengkhianat bagi para wakil rakyat yang mengkhianati rakyatnya sendiri? Bagi para pejabat yang menjual aset dan harta bangsanya sendiri pada pihak asing? Bagi para pimpinan yang menipu bangsanya sendiri? Mereka bisa berupacara dan menyanyi dengan baik, tapi tidak menegakkan kebenaran dan keadilan? Wallahualam.

[1] http://news.okezone.com/read/2011/06/13/340/467589/sd-di-solo-juga-tolak-hormat-bendera

[2] http://www.detiknews.com/read/2011/06/09/105609/1656496/10/sebuah-radio-tolak-putar-indonesia-raya-karena-tak-sesuai-syariat

[3] Kumpulan tulisan Haji Agus Salim, tema cinta bangsa dan tanah air dalam 100 Tahun Haji Agus Salim. 1996. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.

Friday, April 22, 2011

Perhatian Kartini Pada Seorang Pemuda

21 April kemarin, bangsa ini kembali memperingati Hari Kartini. Hari yang ditujukan sebagai penghormatan terhadap tokoh bernama Kartini. Semua orang rasanya tahu, Kartini dikenang sebagai sosok wanita yang memberi perhatian terhadap wanita di Indonesia. Namun sedikit dari kita tahu bahwa Kartini, lebih seratus tahun yang lalu pernah memberikan perhatian pada seorang pemuda. Pemuda itu bernama Masyudul Haq. Lahir 18 Oktober 1884 di Sumatera Barat, ia lebih muda lima tahun dari Raden Ajeng Kartini. Masyudul adalah anak di seorang hoofdjaksa Riau.

Saat sekolah di European Lagere School (ELS), sekolah yang biasanya hanya untuk anak eropa, Masyudul dikenal anak yang brilian, terlebih dalam pelajaran bahasa Belanda. Oleh karena itu, seorang gurunya berkebangsaan Belanda bernama Brouwer, meminta Masyudul tinggal di rumahnya, agar bisa memberinya bimbingan lebih. Namun ayahnya hanya mengizinkan Masyudul sesekali tinggal dirumah gurunya tersebut. Kelak inilah yang menggemblengnya hingga ia tidak minder terhadap orang bangsa lain dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Lulus dari ELS, ia melanjutkan ke sekolah menengah Hogere Burgerschool (HBS) di Jakarta. Lagi-lagi ia tinggal bersama seorang Belanda, bernama Koks. Di Sekolah ini, ia menjadi sedikit dari anak pribumi yang bersekolah di sana. Saat lulus, ia menjadi juara pertama dari HBS, tidak hanya HBS sekolahnya saja, tetapi tiga HBS, yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mungkin jika diibaratkan, ia adalah juara nasional seluruh sekolah di Hindia Belanda saat itu. Prestasi pemuda ini menjadi tersebar ke seluruh nusantara saat itu. Kabar juara itu sampai juga ke Kartini. Apalagi setelah ia tahu bahwa pemuda tersebut ingin melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda, namun tak mampu melanjutkannya. Karena tidak ada biaya.

Ada baiknya kita ketahui, bahwa Kartini sejak lama ingin mendapat pendidikan tambahan di Belanda. Berkat bantuan teman-temannya berkebangsaan Belanda, pemerintah Hindia Belanda saat itu menyetujui permohonannya. Maka pada tanggal 7 Juni 1903, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang mengabulkan permohonannya dan menanggung seluruh biaya sebesar 4800 gulden. Impian Kartini akhirnya terkabul. Namun takdir berkata lain. Kartini tidak diizinkan orang tuanya untuk bersekolah jauh. Dan Dalam waktu dekat ia akan memasuki jenjang pernikahan. Maka ia tahu bagaimana rasanya bagi seorang Masyudul Haq, agar bisa melanjutkan sekolahnya di Belanda. Akhirnya Kartini berinisiatif menghubungi kenalannya, Ny. Abendanon, seorang istri pejabat tinggi pendidikan di Belanda. Ia menulis surat kepada Ny. Abendanon di tahun yang sama, 1903.

Kartini menulis, "Saya punya permohonan yang penting sekali untuk Nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditujukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya?" Besar keinginan Kartini agar Masyudul berbahagia. Hal itu dibuktikan dalam kalimat di surat tersebut, " Kami tertarik sekali pada seorang anak muda, kami inign melihat ia dikaruniai bahagia. Anak muda itu ingin sekali pergi ke negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali keadaan keuangannya tidak memungkinkan."

Kartini mengajukan sebuah upaya, yang serupa dengannya, yaitu agar pemuda itu memperoleh bantuan yang sama, seperti yang pernah pemerintah Hindia Belanda kabulkan padanya. Kartini menulis, "Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Teringat kami pada SK Gubermen tetanggal 7 Juni 1903.....".

Oleh karena Kartini tidak dapat menerima bantuan tersebut, ia ingin agar Masyudul, -walaupun tak mengenal Kartini- yang menerimanya. Kartini bertanya dalam suratnya pada Ny. Abendanon, "Apakah tak mungkin orang lain menerima manfaatnya?" Begitu besar keinginan Kartini membantu Masyudul, hingga ia terus membujuk dalam suratnya, " Berikan kami rasa bahagia, dengan membahagiakan orang lain yang menerima manfaatnya." Berpuitis pula Kartini dalam surat itu, " Wahai, jangan biarkan jiwa hidup yang muda serta indah itu mati di kuncup!"

Surat itu dikirmkan 24 Juli 1903, atau tepat sebulan setelah permohonan Kartini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda, saat pemuda tersebut berusia 19 tahun. Namun beasiswa tersebut tidak pernah sampai ke Masyudul. Takdir Allah berkata lain. Pemuda brilian yang saat lulus HBS menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Perancis itu, menempuh jalan yang akan mengubah hidupnya. Ia, yang selama ini jauh dari Islam berubah menjadi mendekat, ketika ia bekerja untuk Konsul Belanda di Jedah. Sambil bekerja, ia juga belajar Islam pada seorang ulama besar minangkabau yang menetap di Jedah. Syekh Ahmad Khatib. Setelah sedari kecil mendapatkan pendidikan dari Belanda hingga dewasa, ia akhirnya mencoba untuk mengenal Islam. Syekh ahmad Khatib, seorang ulama yang juga guru dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis Masyudul dengan memuaskan. 17 tahun kemudian Masyudul mengenang kembali masa-masa pencarian Islam, yang ia tulis dalam surat kabar Bendera Islam tanggal 2 Mei 1927,

"Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja. Dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. " Dan setelah lima tahun di Saudi Arabia ia mengakui,"...dan bertambah sikap saya terhadap agama, daripada tidak percaya menjadi syak, dan daripada syak menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan agama Allah."

Pulang dari Jedah, di tanah air, Masyudul sempat mengajar dan mengelola sekolah selama 3 tahun dikampung halamannya, Sumatera Barat. Setelah itu ia mendapat tugas dari temannya, untuk memata-matai pergerakan yang sedang bangkit di Jawa. Pergerakan itu bernama Syarikat Islam. Namun sungguh lucu, ia malah berhenti menjadi mata-mata dan bergabung bersama Sarekat Islam (SI). Seperti yang pernah diakuinya, ini memang jalannya, " Itulah perkenalan saya dengan Sarekat Islam. Lagi-lagi jalan hidup saya memang menuju ke Agama Islam..."

Sarekat Islam adalah pergerakan islam dan nasional terbesar saat itu. Di pimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Seorang yang dianggap sebagai ratu adil, karena karismanya begitu besar. Ia sampai disebut, Raja Hindia Tanpa Mahkota. Bergabungnya Masyudul Haq ke Sarekat Islam menandai mereka menjadi generasi awal pergerakan Islam modern di Nusantara. Selanjutnya mereka menjadi motor kebangkitan Islam di Nusantara. Karena pada saat itu umat Islam dilanda rasa rendah diri. Beridentitas Muslim tapi malu mengakuinya. Hal ini terlebih karena Islam dianggap tidak modern. Namun keberadaannya bersama Tjokroaminoto di sana menjadi simbol kebangkitan Islam saat itu. Ia juga menjadi pengayom organisasi pemuda Islam, Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi yang menghasilkan generasi kedua pergerakan Islam moderen di Indonesia, seperti Muhammad Natsir, Moh. Roem, Kasman Singodimedjo dan lain-lain. Seperti diakui M. Natsir, Masyudul seperti pembimbing bagi mereka. Setiap kesulitan diadukan kepadanya.

Masyudul aktif dalam berbagai kegiatan politik. Ia duduk di Volksraad (semacam dewan rakyat yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda) mewakili SI. Ialah yang pertama kali berpidato menggunakan bahasa melayu di Volksraad, sebagai kritikan terhadap pemerintah kolonial yang tak pernah memperhatikan bangsa Indonesia. Itu pulalah pertama kali tercatat dalam sejarah, bahasa melayu dipakai dalam forum resmi dengan pemerintah kolonial.

Selama itu pula ia menjadi pemimpin dari beberapa media massa. Ia menjadi corong pergerakan Islam dan Indonesia melalui media. Ia membela pergerakan Islam melaui medianya. Ia pernah berpolemik dengan Dr. Soetomo yang memojokkan dirinya dan Sarekat Islam. Bahkan ia pernah berpolemik lewat tulisan dengan Soekarno, yang saat itu menjadi simbol kebangkitan nasionalisme. Dalam tulisannya tentang cinta bangsa dan tanah air di surat kabar Fadjar Asia, ia mengingatkan Soekarno, agar jangan sampai menghamba pada tanah air itu sendiri. Semua harus diniatkan karena Allah, bukan karena tanah airnya.

Meskipun begitu, ia dan Soekarno akhirnya bahu membahu dalam usaha kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi anggota panitia 9 yang menyiapkan pembukaan UUD Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka ia beberapa kali diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Ialah yang berkeliling ke Asia dan Afrika (terutama negara-negara Islam) untuk mencari dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Berkat kemampuan bahasanya yang sangat bagus (ia menguasai paling tidak 7 bahasa) ia menjadi diplomat ulung Indonesia. Di akhir hayatnya ia menjadi Guest Lecture di Cornell University.

4 November 1954, ia wafat di usianya yang ke 70 tahun. Masyudul Haq, seorang pemuda yang pernah mendapat perhatian dan kepedulian dari R.A kartini, memang tak berhasil mengecap sekolah kedokteran di Belanda. Namun ia menulis catatan dalam lembar sejarah Indonesia. Ia akhirnya dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional RI. Namun bangsa ini tak mengenalnya dengan Masyudul Haq. Bangsa ini mengenalnya dengan nama panggilan oleh pembantunya, seorang Jawa, saat ia kecil. Ia dipanggil Gus. Kemudian lafal belanda memanggilnya dengan Agus (August). Ayahnya bernama Sutan Mohammad Salim. Sehingga ia akhinya dikenal kemudian dengan nama Haji Agus Salim.

Tuesday, April 19, 2011

Kiri atau kanan?

Bukan hal yang aneh, banyak pemuda bangsa ini mengenakan kaos bergambar Che Guevara. Mereka menganggap diri mereka “orang kiri”. Tokoh revolusi Kuba tersebut dianggap mewakili akan gerakan perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Kiri, memang identik dengan gerakan perlawan terhadap ketidakadilan pihak penguasa, melawan gelombang kapitalisme. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun di sebut kiri sebagai gerakan baru dalam membela kepentingan rakyat. Hasan Hanafi bahkan menulis karya terkenalnya, Islam Kiri. Karya yang identik dengan semangat perlawanan dan sikap kritis. Wajar jika gerakan kiri ini menjadi gerakan yang tumbuh subur di kalangan pemuda. Termasuk pemuda Islam.

Sejatinya penyebutan kiri ini berawal dari pembedaan kelompok di Majelis Nasional Perancis 1789, pada masa awal revolusi Perancis. Wakil yang mendukung perubahan radikal menuju tatanan sosial yang lebih setara berada di sayap sebelah kiri ruangan. Sedangkan yang membela status quo tradisional berada di sayap sebelah kanan ruangan. Sedangkan deputi perancis yang mendukung perubahan moderat duduk di tengah ruangan. Pembagian atau pembedaan ini terus berlanjut menempel pada gerakan-gerakan yang radikal atau progresif, termasuk gerakan marxis.

Ternyata bukan pengertian dalam politik saja yang membagi antara kiri dan kanan. Islam memiliki juga pembedaan golongan kiri dan kanan. Dalam surat Al Balad ayat 10 – 20 dijelaskan pembagian golongan kiri dan kanan menurut Islam.

” Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (90:10-11)

Allah telah memberikan pilhan pada manusia untuk menempuh sebuah jalan dalam hidup ini. Yang mudah dan yang sulit.

“ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, atau (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang tertanah. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (90 : 12-18)

Begitulah menurut Islam orang pada golongan kanan. Menghapuskan perbudakan, saling membantu sesama manusia, menasehati, dan menghilangkan kesenjangan dalam hidup ini. Adapun disebutkan termasuk orang golongan kiri adalah,

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (90 : 19-20)

Jelaslah dalam Islam orang-orang kiri dan kanan tidak sama pengertiannya dengan pengertian politik yang berasal dari eropa. Jika kita memang mengaku muslim, pastilah kita akan memilih jalan yang kanan. Jalan yang memang tidak mudah, menolong orang lain, menghapuskan perbudakan, menghapuskan kesenjangan ekonomi dan saling menasehati untuk berkasih sayang dan bersabar. Jalan yang memberi makan orang miskin yang tertanah. Tertanah, maksud Buya Hamka adalah melarat. Hingga kadang rumah pun beralaskan tanah. Inilah yang wajib kita beri makan (bantu). Tidak seperti pemerintah yang menggunakan angka-angka sebagai indikator kemiskinan, Islam melihat realitanya. Betapa sekarang penilaian kemiskinan yang dikeluarkan pemerintah memakai GDP, seperti tidak realistis. Pemerintah berkata, angka kemiskinan turun, padahal kita melihat semakin hari semakin sulit rakyat kita, semakin banyak yang kelaparan. Jalan yang sukar tapi mulia ini sebenarnya ada kesamaan dengan yang ingin diperjuangkan teman-teman muslim yang mengaku “kiri”. Sama-sama ingin menghapus kesenjangan sosial dan menghapus perbudakan. Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar-nya, dalam bahasa arab, perbudakan disebut Raqabatin. Asal katanya berarti leher. Seseorang yang telah jatuh dalam perbudakan, samalah artinya dengan yang telah terbelenggu lehernya. Jika kita merenungi lebih lanjut dapat dilihat pula sebenarnya saat ini bangsa kita pun telah terbelenggu. Terbelenggu oleh system ekonomi yang liberal, hingga bangsanya pun terbelenggu oleh hutang dengan jumlah luar biasa. Terbelenggu hasil alamnya oleh asing, sehingga rakyatnya hanya sedikit merasakan manfaatnya.

Jika memang jalan ini memperjuangkan hal yang sama bahkan lebih mulia,-karena diingatkan untuk saling menasehati, mengingatkan sesame manusia dan saling berkasih sayang- kenapa harus memilih jalan lain? Jalan yang memaknai manusia hanya sebagai faktor produksi semata, yang berlandaskan materialisme semata.

Jika memang muslim, mengapa harus menambahkan muslim (Islam) kiri? Mungkin ada yang akan menjawab, jalan kami mengkritisi pemerintah yang zalim. Ketahuilah, dalam Islam, itu adalah sebuah jihad. Bukankah, ketika Rasulullah saw ditanya tentang jihad yang paling utama, beliau bersabda, "(yaitu) mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zhalim." (Diriwayatkan Ibnu Majah, Ahmad, dan An-Nasai.)? Mungkin ada yang menjawab, kiri adalah ideologi. Islam pun menjadi sebuah ideologi. Muhammad Natsir (mantan perdana menteri Indonensia era 50an) menulis dalam Capita Selecta-nya, "Islam adalah satu falsafah hidup, satu levensfilosofie, satu ideologi, satu sistem perikehidupan.” Lalu mengapa memilih jalan lain? Dalam Islamlah perjuangan tidak hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat. Semoga kita bukan termasuk golongan kiri. Golongan yang menolak ayat-ayat Allah dan terkunci dalam neraka. Wallahu alam.

Thursday, March 10, 2011

Pendidikan Kita


Pagi ini saya kembali melewati sebuah SMP di bilangan Tebet, jakarta selatan. Sebuah SMP yang konon paling digemari seantero jakarta, favorit, bertaraf internasional. Sebuah sekolah yang menyisakan kenangan 15 tahun yang lalu. Sekarang ia menjadi salah satu sumber macet kalau pagi hari. Di depan sekolah, sekilas saya lihat, kalimat yang berhubungan dengan standar internasional mereka. Sekolah SMP standar internasional? Sekolah lain ada yang rintisan internasional, lalu yang tidak? apa berarti mutunya jelek? Hal ini sudah menganggu pikiran saya sejak lama? ada apa dengan dunia pendidikan kita saat ini? semua ingin serba internasional, seakan sekolah saat ini punya kastanya masing-masing. Tanpa sadar, negara ini mengkastakan pendidikannya. Ada yang internasional (pintar & mahal), nasioanl (agak pintar & agak mahal) tak ada standarnya (seadanya & terjangkau). Itukah yang ingin dicapai? Internasional = pintar = kaya. anda boleh bolak-balik urutan tadi sesukanya. Tapi hasilnya tetap sama. apakah lawannya : lokal = bodo = miskin? silakan cari sendiri.
Tapi bukan itu yang saya mau kemukakan. Tampaknya bangsa ini melalui pemerintahnya, telah salah kaprah mengurus pendidikannya. Mengkastakan sekolah adalah salah satu jalan menyingkirkan masyarakat tidak mampu (baca : miskin) semakin terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Jalan lain yang ditempuh pemerintah adalah dengan mem-privatisasi-kan sejumlah perguruan tinggi negeri. Coba keliling jawa, dan cari berapa bayaran uang kuliah + uang masuk masuk PTN seperti UI, ITB dan UGM. Bandingkan dengan gaji buruh pabrik di tempat yang sama. Sanggupkah mereka membiayai kuliah anaknya? Konstitusi kita memang mengamanahkan untuk menyisihkan 20% APBN untuk pendidikan. Tapi ini hanya teori semata. Prakteknya jauh. Sekolah dasar negeri di beberapa tempat di Jakarta memang ada yang menggratiskan SPP nya. Tapi mereka lupa untuk menggratiskan uang buku dan lainnya.

Sesungguhnya para founding fathers bangsa ini telah mengajarkan sesuatu yang amat bernilai. Haji Agus Salim, sepulang dari Jedah, setelah bekerja sbg konsul Belanda, sempat bekerja sebentar lalu membuka sekolah dan mengajar di Sumatera Barat. Tan Malaka, sebelum menjadi buronan pemerintah kolonial, mengajar di Sumatera Utara. Mohammad Natsir, mantan Perdana menteri Indonesia, pemimpin Masyumi, partai Islam terbesar di Indonesia, malah berakar dari dunia ajar. Dengan pendidikan Islam-nya ia mendirikan pusat pengajaran di Bandung, mengajarkan Islam dan mempelopori paduan ilmu Agama dan pengetahuan non agama. Atau sebut juga Soewardi Soeryaningrat alias Ki hajar Dewantara dengan Taman Siswanya. Bahkan Mohammad Hatta sewaktu menjadi buangan, ia mengajar kepada sesama orang-buangan. Waktu itu ia mengajar filsafat yunani dan ekonomi.
Ketika pemerintah kolonial memeberlakukan ordonansi sekolah liar, segenap elemen pendidikan melakukan perlawanan. Mereka menganggap semua berhak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan. Tanpa harus dapat restu Belanda untuk mendirikan sekolah. Mereka semua mengajar bukan untuk uang, itu pasti. Namun yang lebih penting adalah, mereka mengajar karena menganggap semua berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Miskin atau kaya, sama saja. Semua dilahirkan untuk mendapatkan pendidikan, karena dengan pendidikanlah bangsa ini dapat maju. Sekarang, jika untuk sekolah sajabagi orang yang tak mampu makin sulit, , maka, bagaimana jadinya bangsa ini kedepannya? Apakah pengetahuan akan di miliki oleh yang mampu saja? Apa orang miskin dilarang pintar? Sedikit pertanyaan oleh saya, apakah Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono yang terhormat pernah mengajar? apakah para pemimpin partai negeri ini pernah mengajar? Bapak-bapak menteri? Jika belum, sudilah mereka mengajar di negeri ini, agar tahu pentingnya pendidikan untuk semua kalangan.


foto : Koleksi Antara