<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329</id><updated>2012-01-16T00:24:24.640-08:00</updated><category term='Islam'/><category term='indonesia in the time of revolution'/><category term='film'/><category term='pikir-mikir'/><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-8772477104278840525</id><published>2011-09-26T03:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T03:19:15.840-07:00</updated><title type='text'>It's 1945 in Palestine</title><content type='html'>Namanya Sudarpo Sastrosatomo. Usia baru duapuluh tahunan. Tapi hari itu ia mengemban tugas sangat penting. Mewartakan pada dunia nasib bangsanya. Walau usianya masih muda, namun ia bukan sembarang orang. Pergaulannya dengan insan pers telah dimulainya sejak dini. Sebelum bermukim di New York ia sudah sering bergaul dengan koresponden asing di Jawa seperti Stan Swinton, Arnold Brackman, dan Graham Jenkins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah hujan propaganda pemerintah Belanda saat itu, sebagai Atase Pers Repubik Indonesia di New York, ia menjadi ujung tombak Republik yang masih muda untuk mengabarkan kondisi bangsanya, dan mencari dukungan pengakuan kemerdekaan Indonesia diantara bangsa-bangsa sedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, bulan Maret 1949 ia membagikan makalah kepada pejabat publik Amerika Serikat, wartawan dan perwakilan negara-negara lain di PBB.  Ia tahu, walaupun namanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tetapi lembaga bangsa-bangsa sedunia itu dipengaruhi oleh segelintir negara, diantaranya Amerika Serikat. Maka, dengan cerdas pada makalah yang dibagikan, ia mencoba mencari persamaan revolusi dan semangat kemerdekaan Indonesia dengan revolusi Amerika Serikat. Ia tahu Amerika Serikat mengenal George Washington dan Thomas Jefferson sebagai founding fathers yang dicintai rakyat Amerika Serikat. Ia pun menyadari Deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat  yang ditanda tangani tahun 1776 di Philedelphia menjadi dokumen yang dipuja dan disakralkan rakyat Amerika Serikat.  Amerika Serikat memiliki alasan yang kuat untuk merdeka. Begitu pula dengan Indonesia Maka ia pun membagikan makalah berjudul "It's 1776 in Indonesia". [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, enampuluh tahun kemudian, saat Indonesia telah merdeka, sebuah negara mencari pengakuan di PBB. Palestina,-diantara bangsa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia 66 tahun yang lalu-berjuang untuk menjadi anggota PBB agar bisa diakui sebagai negara dan lepas dari penjajahan kejam Israel. Namun-telur yang belum menetas- itu pun sudah di hancurkan oleh ancaman hak veto Amerika Serikat. AS sebaga sekutu setia Israel tidak mungkin membiarkan begitu saja keinginan Palestina untuk merdeka. Barrack Obama-yang begitu dipuja oleh sebagian orang Indonesia- dalam pidatonya mengancam tidak akan menyetujui langkah itu.[2] Sungguh menyedihkan sekali jika masih ada orang Indonesia yang mengagumi Barrack Obama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBB, walaupun mengaku sebagai lembaga demokratis, setiap langkahnya harus di setujui oleh 'minoritas' lima anggota dewan keamanan PBB. Oleh karena itu tidaklah pantas PBB disebut lembaga demokratis. Bukan hal aneh AS akan menjegal setiap langkah sah Palestina. Pengaruh Israel yang begitu kuat terhadap pemerintahan dan ekonomi AS menjadi dikte bagi kebijakan AS.[3]   Jangan heran, Indonesia pun dulu, ketika mencari pengakuan dari AS tidak serta merta diakui. AS walaupun mengaku netral, ternyata dalam prakteknya lebih condong kepada Belanda.  Bahkan AS masih memberikan bantuan militer tersembunyi kepada Belanda ketika melakukan agresi kepada bangsa Indonesia. Pertimbangan ekonomi dan persahabatan menjadi alasan keberpihakan tersebut. [4]  Adalah naif, jika tidak mau dibilang bodoh, berharap AS akan membela dengan alasan demokrasi apalagi kemanusiaan. Bukankah itu hanya retorika semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bangsa Indonesia membela Palestina, dengan atau tanpa restu AS. Indonesia dan Palestina menolak segala macam penjajahan, kekejaman, genosida, rasisme, penindasan dan penghinaan yang dilakukan oleh Israel. Palestina memiliki semua alasan yang sama dengan Indonesia yang ingin merdeka. Kita menolak setiap bentuk penjajahan diatas muka bumi, karena kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Maka Palestina harus merdeka, because It's 1945 in Palestine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Frances Gouda &amp;amp; Thijs Brocades Zaalberg. Indonesia merdeka karena Amerika. 2007. Jakarta. Serambi&lt;br /&gt;[2] http://internasional.kompas.com/read/2011/09/23/05090146/Jalan.Palestina.Buntu&lt;br /&gt;[3] Petras, James. The Power of Israel In USA. Jakarta. Zahra&lt;br /&gt;[4] Frances Gouda &amp;amp; Thijs Brocades Zaalberg. Indonesia merdeka karena Amerika. 2007. Jakarta. Serambi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-8772477104278840525?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/8772477104278840525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=8772477104278840525' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8772477104278840525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8772477104278840525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/09/its-1945-in-palestine.html' title='It&apos;s 1945 in Palestine'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-9023874848258341285</id><published>2011-09-22T02:51:00.001-07:00</published><updated>2011-09-22T02:51:52.755-07:00</updated><title type='text'>Adil Sejak Dalam Pikiran</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk kesekian kalinya umat Islam di Indonesia mengalami Hari Raya  Iedul Fitri dengan perbedaan hari. Bukan barang pertama, malah sudah  berkali-kali. Sebagian sudah merasa lazim dengan hal ini dan tidak  mempersoalkannya lagi. Tapi bagi sebagian merasa hal ini sangat janggal.  Di jejaring sosial yang saya amati, beberapa mengungkapkan  kekesalannya. Umumnya pemerintah menjadi sasaran. Beberapa bertanya,  “Malaysia sudah, Brunei sudah, Arab Saudi juga sudah, kenapa kita  pinter-pinteran sendiri berbeda dengan yang lain?” Jika yang berkomentar  punya argument (dalil) yang kuat, tidak apa-apa. Tapi jika tidak, lucu  juga melihat komentar seperti ini. Baru kemarin, oleh sebagian orang,   Malaysia  dihujat sebagai maling, Arab Saudi dibilang sadis, kedaulatan  negara adalah yang utama. Kalau memang mau berdaulat, kenapa harus  mengekor pada negara lain? Komentar lain menyalahkan pemerintah dan  ormas Islam yang saling berbeda. Padahal yang berkomentar juga belum  tentu mengerti apa yang membuat mereka berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Majelis  Ulama Indonesia dan beberapa tokoh Islam mengingatkan kita agar tetap  saling menghormati. Namun bukan itu saja hikmah dari kejadian ini.  Kejadian ini mengingatkan kita untuk lebih mengenal dan mempelajari  Islam. Kita mencela orang-orang yang terlibat dalam penentuan Iedul  Fitri sebagai orang yang tidak pernah akur, namun, kita sendiri tidak  (mau) tahu, atau sedikit pun mempelajarinya. Pertanyaan sesungguhnya,  apakah kita tahu benar masalah ini hingga kita bisa menyalahkan mereka?  Apakah kita pernah mencari tahu mendalam mengenai masalah ini? Padahal  Allah telah mengingatkan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti  apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta  pertanggungan jawabnya.” (Al Isra : 36)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya  masalah salah-menyalahkan, cela- mencela dalam hal ini iedul fitri ini  hanyalah salah satu contoh betapa sering sebagian dari kita (umat Islam)  menyalahkan pihak lain tanpa pengetahuan. Ada kejadian ormas Islam  mendemo festival film bertema LBGT (Lesbian Gay dan transeksual),  sebagian berkomentar, “dasar kolot, ini negara demokrasi, biarin aja  dong festival itu!” Padahal Allah telah mengecam perbuatan homoseksual  sebagi perbuatan yang melampaui batas [1].  Ketika umat Islam mengecam  kelompok Ahmadiyah, maka sebagian berkata, orang Islam tidak toleran.  Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan, tidak ada Nabi setelah beliau  [2]. Maka ketika kita mentolerir kesesatan Ahmadiyah, kita sudah  mengabaikan perkataan beliau. Ketika ada pendapat menuntut penegakan  syariat Islam, kita malah mencemooh, “dasar nggak tahu diri, hukum jaman  dulu mau dipakai dijaman sekarang.”? Mungkin yang mencemooh lupa dengan  peringatan Allah tentang hal ini [3].&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang menjadi  pertanyaan adalah, apakah kita, sebelum berkomentar, sudah terlebih  dahulu mencari pengetahuan tentangnya? Sudahkah kita sebagai muslim,  setidaknya berusaha mencari tahu dahulu, apa yang sebenarnya Islam  ajarkan. Mengutip istilah sastrawan Pramoedya Ananta Toer,”Adil sejak  dalam pikiran” [4]. Sudahkah kita berbuat adil sejak dalam pikiran pada  agama sendiri? Di tiap sholat berdoa,” Sesungguhnya hidupku matiku hanya  untuk Allah”, tapi kenyatannya kita masih jarang untuk berusaha mencari  tahu apa yang diingatkan oleh Allah, sebaliknya malah mencela. Kita  seringkali tidak adil sejak dalam pikiran kepada agama kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sudah  saatnya kita berbuat adil dengan mempelajari (kembali) apa yang Islam  ajarkan. Sayangnya kita masih malas untuk belajar. Sikap sebagian besar  umat Islam ketika menyangkut pengetahuan tentang agamanya terbagi 2.  Satu mengikuti apapun yang dikatakan Ustad, kiyai, tokoh, habib atau  panutan lain. Yang kedua ketika ada persoalan yang berkaitan dengan  Islam, kita hanya menggunakan akal atau logika semata. Sikap pertama,  adalah sikap yang sangat umum dikalangan umat Islam. Apapun kata Ustad,  kiyai, habib atau tokoh panutan lainnya kita telan bulat-bulat. Padahal  yang wajib kita ikut dalam beragama Islam adalah Al Quran dan Sunnah  (hadis). Sesuai dengan firman Allah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan Kami turunkan kepadamu  Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta  rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl  : 89)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang  sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari  kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik  akibatnya.” (An Nisa : 59)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan sebagaimana wasiat Rasulullah kepada kita,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Aku  tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama  berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah  Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka dalam Islam ada dua  sumber utama Al Quran dan Sunnah Rasulullah (Hadis). Bukan kata ustad,  kiyai, habib atau cendikiawan muslim lulusan University of Chicago, atau  McGill yang kita ikuti begitu saja. Karena mereka juga manusia, tidak  terlepas dari kesalahan dan hawa nafsunya. Ketika mereka berpendapat,  kita lihat lagi, apakah sesuai dengan Quran dan Sunnah Rasulullah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sikap  kedua adalah menilai sesuatu hanya dengan akal semata. Kebanyakan dari  kita berusaha bersikap kritis, dan terkadang cenderung ‘mendewakan’  akal. Padahal akal juga memiliki keterbatasan. Ingin disebut modern,  progressif, maka akal-lah penentu segalanya. Padahal akal dan  pengetahuan manusia itu sendiri tidak terlepas dari beberapa hal. Tidak  terlepas dari latar belakang budaya, sosial, ekonomi serta hawa nafsu.  Ketika berbicara masalah seks bebas, akal orang Eropa menilai, itu  adalah sah selama dilakukan suka-sama suka. Ketika di Indonesia, hal itu  menjadi lain lagi. Akal dan pengetahuan menjadi relatif. Pengetahuan  bergerak sesuai kemajuan zaman. Tidak akan selalu tetap dan final. Dulu  orang menganggap bumi itu datar. Berikutnya diketahui ternyata bulat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lantas  dimanakah peran akal dalam Islam? Apakah Islam mengekang akal?  Sebaliknya, Islam justru mengakui keberadaan akal. Banyak ayat dalam Al  Quran menyuruh manusia untuk berpikir, memperhatikan, memahami dan  berakal. Akal dipakai untuk memikirkan tentang bukti-bukti kekuasaan  Allah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari  langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya  (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu  menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu  tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan  Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.An Nahl : 10 – 11)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan  Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan  bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda  (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),” ((QS.An Nahl : 12)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akal ciptaan Allah, tidak mungkin Allah menyuruh kita mengekang akal kita. Allah justru menyuruh kita untuk memakai akal kita,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hai  jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru  langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali  dengan kekuatan (ilmu). (QS. Ar Rahman : 33) [5]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jelaslah  Allah menciptakan akal untuk dipakai, namun bukan dengan kewenangan tak  terbatas, tetapi memakai pada tempatnya,terutama untuk memikirkan  bukti-bukti kekuasaan Allah. Akal dengan pancaindra sebagai alatnya  memiliki keterbatasan, itulah yang harus kita sadari. Tidak mungkin akal  kita bisa mengetahui segalanya. Akal kita tidak mungkin bisa mengetahui  zat Allah, karena pancaindra tidak bisa mencapainya. Akal manusia bisa  mengetahui bahwa bumi ini tercipta bukan oleh kebetulan, ada kekuatan  besar yang menciptakannya, namun akal hanya bisa sampai disitu. Tidak  bisa mengetahui siapa penciptanya. Maka Allah menurunkan wahyu untuk  manusia sebagai penuntun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lantas bagaimana dengan  ayat-ayat Allah atau sunnah Rasulullah yang tidak kita mengerti dengan  akal? Harus kita ingat bukan ayat Allah yang salah, namun akal kita yang  memang terbatas. Mungkin suatu saat nanti akal kita akan mengetahui  hikmah dari ayat tersebut, tapi bagi kita sekarang yang belum cukup  pengetahuannya, cukup dengan meyakininya saja. Karena Allah tidak  mungkin salah. Seperti yang dilakukan oleh para generasi terdahulu.  Ketika mereka mendengar ayat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,” (Qs An Naziat : 32)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan  ilmu pengetahuan zaman dahulu, mustahil bisa diketahui maksud ayat ini  secara jelas, mereka cukup dengan meyakininya saja. Tetapi 1400 tahun  kemudian, secara ilmu geologi modern dapat diketahui bahwa gunung memang  memiliki akar yang menghujam kebawah mencapai 10-15 kali tinggi gunung  tersebut. [6 ]. Sesuailah akal (pengetahuannya) dengan ayat Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maka  dengan berpedoman pada Al Quran dan Hadislah kita belajar memahami  agama ini. Dengan kedua hal tadi pula kita berpedoman dalam hidup ini.  Allah jelas-jelas telah mengatakan bahwa Al Quran sebagai pedoman hidup,  tapi kita cenderung mengabaikannya. Perumpamaan sederhana adalah, jika  kita membeli barang elektronik, kita pasti mempercayai buku manual yang  diciptakan pabriknya dan mengoperasikan sesuai buku manualnya. Maka saat  Allah penciptanya, dan Al Quran dan Sunnah adalah buku manualnya, maka  kenapa kita tidak mau menjalankan sesuai manual yang diturunkan Allah  pada kita. Padahal Allah-lah yang mengetahui segala sesuatu, Ia tahu  yang terbaik yang harus dijalankan hamba-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mari kita  mulai untuk belajar berbuat adil pada agama kita sendiri, sejak dalam  pikiran, dengan mempelajarinya. Sehingga bisa menilai segala sesuatu  sesuai dengan Islam. Jangan lagi kita menjadi manusia yang hanya bisa  mengikuti tanpa pengetahuan. Ketika kita mendengar opini mengenai  pluralisme agama, kita langsung mengikuti tanpa bersikap kritis.  Harusnya kita bertanya, apa itu pluralisme agama? Bagaimana Islam  memandangnya? Apakah sama pluralisme dengan toleransi? Apakah Islam  sudah memberikan panduan tentang toleransi beragama? Ketika kita  mendengar Islam merendahkan wanita, dan aturan  Islam tentang wanita  harus direvisi, kita langsung menyetujuinya saja. Bahkan tidak mau  mencari tahu bagaimana Islam memandang wanita dan kedudukan wanita dalam  Islam? Begitu juga soal lainnya seperti ibadah, ekonomi, politik,  hukum, sampai rumah tangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita seringkali tidak mau  berprasangka baik pada agama sendiri, dan tidak mau mempelajarinya  terlebih dahulu. Kita seringkali lebih percaya pendapat orang-orang yang  disebut cendikiawan, tanpa mau menilai apakah pendapat mereka sesuai  dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Kita seringkali bersikap kritis  jika menyangkut Islam, tapi kita jarang mau bersikap kritis pada  pendapat-pendapat yang berasal dari luar Islam. Maka mulailah kita  bersikap adil pada Islam sejak dalam pikiran. Dan belajar adalah salah  satu sikap untuk memulainya. Wallahu alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesungguhnya  kamu      mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka),  bukan kepada      wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui  batas. (Qs Al A’raf : 81)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku Penutup para nabi.      Tidak ada lagi sesudahku. (HR Ahmad dan Al Hakim)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Dan  tidaklah patut bagi      laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi  perempuan yang mu'min, apabila      Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan  suatu ketetapan, akan ada bagi mereka      pilihan (yang lain) tentang  urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai      Allah dan Rasul-Nya maka  sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”      (Qs Al Ahzab : 36)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bumi Manusia – Pramoedya Ananta      Toer&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fiqhud Da’wah. Muhammad      Natsir. 2006. Jakarta. Media Dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keajaiban Al Quran. Harun      Yahya. 2008. Bandung. Arkan Publishing.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-9023874848258341285?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/9023874848258341285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=9023874848258341285' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/9023874848258341285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/9023874848258341285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/09/adil-sejak-dalam-pikiran.html' title='Adil Sejak Dalam Pikiran'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-8403418301138522594</id><published>2011-07-13T19:05:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T19:11:25.670-07:00</updated><title type='text'>Amerikanisasi dalam Iklan Cetak Marlboro</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;Tulisan ini sebenernya tugas kuliah. tapi iseng aja ah, posting di blog. siapa tau ada manfaatnya :D&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dunia berubah begitu cepat. Kemajuan teknologi dalam 30 tahun terakhir mengubah semuanya. Saat ini sekat-sekat antar negara hampir tidak terlihat. Dunia ini seperti menjadi datar.Penduduk di bumi belahan selatan dapat mengetahui apa yang terjadi saat itu juga di bumi belahan utara. Jarak tidak lagi membatasi akses informasi bagi manusia saat ini. Televisi dan internet menjadi lokomotif perubahan gelombang informasi bagi manusia. Semua menyerap informasi yang sama hampir tanpa batasan. Proses inilah yang seringkali disebut sebagai globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Beragam informasi muncul dalam kehidupan kita, dari berbagai belahan bumi yang berbeda. Termasuk informasi yang membawa pesan ekonomi dalam bentuk iklan. Anda tak akan lagi sulit menemukan iklan produk dari belahan bumi yang berbeda. Energizer dengan ikon kelincinya, walaupun anda tak tahu bagaimana kelinci tersebut mengikat dirinya dengan Energizer. Mac dengan logo apelnya, meskipun kita tak paham apa hubungan produk teknologi dengan sebuah apel. Juga iklan rokok Marlboro dengan para koboinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Saya jadi ingin tahu, kenapa iklan yang mengusung budaya yang jauh berbeda bisa tampil di tengah masyarkat. Contohnya iklan Marlboro. Karena Marlboro, dimanapun iklannya, selalu menggunakan Koboi sebagai ikonnya, walaupun dalam negara yang dituju, koboi bukanlah sesuatu yang familiar, seperti di Indonesia. Sepertinya, globalisasi terutama ekonomi dan budaya sebagai sebab pendorong Marlboro selalu menggunakan ikon koboi ini. Globalisasi ini yang menyebabkan Amerikanisasi pada sebuah budaya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa melihat lebih dalam tentang hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 0.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisasi begitu sering didengung-dengungkan. Namun kita harus memahami makna pasti dari globalisasi tersebut. Maka ada baiknya kita mengetahui makna dari globalisasi itu sebelum membahas lebih jauh. Menurut Cambridge Dictionaries Online&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, globalisasi adalah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 10.0px 36.0px; line-height: 18.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The increase of trade around the world, especially by large companies producing and trading goods in many different countries&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (peningkatan perdagangan di seluruh dunia, terutama oleh perusahaan yang memproduksi dan memperdagangkan barang-barang di banyak Negara).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;When available goods and services, or social and cultural influences, gradually become similar in all parts of the world&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (ketika barang dan jasa yang ada, atau pengaruh sosial dan budaya, secara bertahap menjadi sama di semua wilayah di dunia).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jadi ketika membahas globalisasi maka kita akan menemukan yang berkaitan dengan ekonomi (perdagangan baik produk maupun jasa), sosial dan budaya. Namun menurut Manfred Steger&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;3 &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, globalisasi ekonomi tidak terlepas dari globalisasi politik. Karena ada motif politik dibalik tindakan globalisasi ekonomi. Proses globalisasi politik dan ekonomi ini menjadi kritik pengamat, seperti Kenichi Ohmae&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, yang menganggap, ketika munculnya dunia tanpa batas yang dilahirkan oleh kapitalisme, negara tidak lagi menjadi relevan. Karena menghilangkan peran negara dalam perdagangan.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;5 &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Dalam bukunya, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Making Globalization works&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, peraih nobel ekonomi, Joseph Stiglitz, juga mengkritik hal yang serupa&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisasi budaya  juga patut dipertimbangkan. Karena pembahasan judul buku ini juga menyangkut sisi budaya. Pertanyaan yang timbul mengenai dampak globalisasi budaya adalah, apakah globalisasi budaya akan menyebabkan keragaman atau malah homogenitas budaya? Roland Robertson mengatakan bahwa, yang akan dihasilkan justru keragaman budaya.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; Karena ketika arus budaya global mendera sebuah wilayah, maka yang akan dihasilkan justru “glokalisasi”. Artinya semacam interaksi unik antara budaya lokal dan global, yang menjadi sebuah peminjaman budaya global oleh budaya lokal. Hal ini juga diamini oleh Thomas L. Friedman. &lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; Menurutnya, budaya lokal tidak akan tergerus, justru yang dihasilkan adalah budaya lokal yang menglobal. Karena menurutnya, proses &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;uploading &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;akan mendorong semua budaya untuk muncul. Tentu saja ada juga kritik tentang globalisasi budaya, seperti yang ungkapkan sosiolog Amerika, George Ritzer, yang mengkritik amerikanisasi budaya.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;9 &lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sebagai tambahan, Appadurai, seperti dikutip Steger&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, menuturkan bahwa ada lima dimensi konseptual yang dibentuk arus globalisasi budaya. Pertama, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Etnoscapes&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (perpindahan populasi yang melahirkan turis, imigran, pengungsi dan pelarian). Kedua, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tecnhoscapes&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (perkembangan teknologi). Ketiga, Financescapes (aliran capital global). Keempat,&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; Mediascapes&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (Kemampuan elektronik untuk memproduksi dan menyebarkan informasi). Kelima, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ideoscapes &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;(ideologi Negara-negara dan gerakan sosial).  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sejarah Singkat Marlboro &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sejatinya Marlboro pertama kali muncul di Inggris tahun 1847. Awalnya rokok Marlboro disasar untuk pasar wanita. Namun tidak sukses. Tahun 1920, Marlboro menyasar pasar wanita di Amerika Serikat. Dan hasilnya ternyata baik. Tahun 1950, mereka kembali mengeluarkan produk inovasinya. Kampanyenya tentang buruknya dampak merokok non filter. Pada saat itu, mayoritas rokok adalah non filter, dan Marlboro sebagai produsen rokok filter ingin mengambil hati melalui kampanye kesehatan mereka. Tahun 50’an, Marlboro mulai mengalihkan pasar mereka dari rokok wanita menjadi rokok para pria. Maka berikutnya dimulailah kampanye mereka. Kemunculan pertama, iklan pria ber-&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tatto. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Berikutnya muncul iklan-iklan mereka dengan citra pria yang sehat dan beragam aktivitas luar ruangan. Saat awal kampanye, tokoh pria pelaut dan koboi menjadi citra mereka. Berikutnya semakin kuat dengan dicitrakan sebagai pria macho. Pada tahun 1954, ikon koboi  “Marlboro Man”, yang kita kenal sampai sekarang, muncul. Tahun 1963, Marlboro Man ditetapkan sebagai satu-satunya ikon mereka. Marlboro adalah koboi dan koboi adalah Marlboro. Citra itu begitu melekat hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Iklan Cetak Marlboro &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Iklan Marlboro biasanya di dominasi oleh sebuah foto besar, entah itu seorang Koboi yang sedang merokok, atau sedang melempar tali &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;lasso&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, atau sedang menunggang kuda. Namun, ide utamanya tetap kehidupan koboi. Sebuah tagline melengkapi kalimat tersebut. Yang menarik adalah visualisasi iklan Marlboro tersebut. Jika dahulu diperlihatkan Koboi yang sedang merokok, maka seiring ketatnya aturan adegan merokok dihilangkan. Begitu juga gambar kemasan rokok. Kalimat “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin, ” terletak di bagian bawah iklan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ketika melihat iklan-iklan ini maka kesan yang penulis tangkap adalah iklan ini ingin mengesankan  jantan, dan gagah. Kesan sehat juga ditangkap, karena melakukan aktivitas olahraga luar ruangan. Iklan ini tampak sederhana namun memeberikan kesan yang kuat. Kesan dari citra Marlboro. Citra yang kuat tentang jantan dan gagah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisasi dan Iklan Marlboro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tak banyak dari masyarakat kita yang begitu familiar dengan dunia koboi. Penulis pun masih menyangsikan, apakah koboi berkesan gagah dan jantan bagi masyarkat Indonesia? Lalu kenapa Marlboro tetap menampilkan citra koboi pada produknya? Bukankah budaya tersebut tidak familiar dengan masyarkat Indonesia? Globalisasi budaya bisa menjawabnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Menurut Tomlinson, seperti dikutip Steger&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, ketika citra dan gagasan dialihkan dari satu tempat, ke tempat lainnya, maka akan berdampak besar pada cara orang menjalani kehidupan sehari-harinya. Kultur tidak lagi berkaitan dengan lokalitas yang tetap seperti kota atau negara. Tetapi mendapat makna baru yang mencerminkan tema yang dominan dalam konteks global. Menurut pendapat sejumlah pemikir, hal ini mendorong munculnya kultur global yang homogen. Kultur yang ditopang oleh nilai-nilai Anglo-Amerika, atau bisa dikatakan “amerikanisasi.” Seperti yang diilustrasikan oleh George Ritzer&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, cara kerjanya mirip restoran McDonalds. Mendominasi di segala lapisan masyarkat Amerika dan seluruh dunia. Ia menyebutnya Mcdonaldisasi. Dominasi kata yang tepat menggambarkan hegemoni kebudayaan. Edward Said, mengutip Gramsci, menuturkan bahwa, bentuk-bentuk kebudayaan tertentu lebih dominan daripada kebudayaan lainnya, sebagaimana gagasan tertentu berpengaruh daripada gagasan lainnya&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;. Begitu hegemoniknya, sehingga gagasan itu membuat membuat orang tak bisa mengelak dari hal yang disampaikan gagasan yang kukuh itu. Bukankah ketika pihak yang berkuasa (dalam ekonomi dan politik) berarti turut juga mendominasi budaya pihak yang didominasi? Artinya, ketika Marlboro, ingin menyampaikan citra yang sebenarnya tak sama dengan kultur kita, ia dapat dengan mudah menyampaikannya. Karena hegemoni dan globalisasi budaya tersebut. Tak masalah jika citra itu menampilkan koboi sekalipun.  DImensi konseptual seperti yang dicetuskan Appedurai, yaitu dimensi &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;mediascapes &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;turut membantu tersebarnya citra yang didukung budaya hegemonik ini. Budaya hegemonik yang akhirnya menciptakan Amerikanisasi melalui iklan Marlboro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Maka ketika kita berbicara dalam konteks iklan Marlboro, tidak mengherankan mereka menampilkan citra yang berbeda dengan budaya kita (baca : koboi adalah gagah dan jantan). Globalisasi terutama budaya turut mendorong hal tersebut. Apalagi ketika arus informasi mendera seluruh muka bumi ini. Bumi menjadi datar. Semua mendapatkan informasi dalam waktu yang sama. Perkembangan teknologi yang mendorong ekspansi budaya memang tak bisa dielakkan. Arus ini bisa membentuk sikap resistensi. Sikap yang memprovokasi resistentsi politik juga kultural, seperti yang dituturkan oleh Benjamin R. Breber&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;. Di satu sisi, serbuan arus budaya ini juga dapat melahirkan glokalisasi, seperti yang sudah dituturkan di atas. Namun bukanlah sikap yang bijak jika kita membiarkan diri terbawa arus globalisasi budaya. Sikap kritis dan bijaksana menjadi penyaring yang baik bagi masyarakat untuk menyikapi arus ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Memang ironis, ketika merokok di negara seperti Amerika diatur secara ketat, Marlboro justru berekspansi ke Indonesia&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;. Ekspansi ini tidak hanya membawa motif ekonomi. Tapi secara tidak langsung juga membawa kultur yang berbeda. Kultur yang dikemas sedemikan rupa untuk motif ekonomi.  Menurut penulis, tidaklah tepat, ketika sebuah budaya yang asing (baca : Koboi) dibawa dan dikampanyekan dengan cara yang sama (menggambarkan sebuah citra jantan dan gagah) untuk sebuah produk rokok bernama Marlboro ini. Namun banyak faktor seperti ekonomi, politik dan teknologi yang akhirnya membuat ini terjadi. Dan yang terjadi justru Amerikanisasi pada sebuah budaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial; min-height: 14.0px"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;1. Friedman, Thomas L. 2006. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The World Is Flat, Sejarah ringkas abad ke 21&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;. Jakarta : Dian Rakyat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;2. www. dictionary.cambridge.org&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;3. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;4. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;5. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;6. Stiglitz, Joseph E. 2007. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Making Globalization Works. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jakarta : Mizan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;7. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;8. Friedman, Thomas L. 2006. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The World Is Flat, Sejarah ringkas abad ke 21&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;. Jakarta : Dian Rakyat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;9. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;10. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Arial"&gt;&lt;span style="font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;11. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;HYPERLINK "http://en.wikipedia.org/wiki/Marlboro_(cigarette)"&lt;/span&gt;&lt;span style="font: 12.0px Arial; text-decoration: underline ; color:#0000ff;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Marlboro_(cigarette)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;12. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;13. Said, Edward W. 2010. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Orientalisme, Menggugat hegemoni Barat dan mendudukkan timur sebagai subjek. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Pustaka Pelajar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;14. Steger, Manfred B. 2002. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Globalisme, Bangkitnya ideologi pasar. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jogjakarta : Lafadl&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 12.0px Arial"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;15. www. en.wikipedia.org/wiki/List_of_smoking_bans_in_the_United_States&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style=" ;font-family:Arial;font-size:12px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-8403418301138522594?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/8403418301138522594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=8403418301138522594' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8403418301138522594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8403418301138522594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/07/amerikanisasi-dalam-iklan-cetak.html' title='Amerikanisasi dalam Iklan Cetak Marlboro'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-664416576062148133</id><published>2011-06-23T18:02:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T03:17:19.389-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Islam tapi Rasis?</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); line-height: 16px;font-family:'lucida grande';font-size:11px;"  &gt;&lt;p  style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px;  line-height: 1.5em; font-size:11px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" line-height: 16px; font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p size="11px" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px;  line-height: 1.5em; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“Dasar lu cina! Pulang kampung aja lo! Dasar arab, pelit!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Bukan sekali dua kali, saya mendengar kalimat kebencian seperti tadi. Kebencian, prasangka atau stereotip terhadap suatu bangsa, etnis atau ras, sepertinya sudah bukan barang baru di masyarakat Indonesia. Setidaknya yang saya alami hingga saat ini. Hal seperti ini sepertinya sudah biasa terdengar oleh saya (dan mungkin sebagian dari kita) sejak kecil. Dan sepertinya ini bukan hal yang aneh. Jarang saya dengar ketika saya ada kalimat kebencian, atau prasangka seperti tadi, ada yang menyanggah, atau membantahnya. Sepertinya ini sudah menjadi bagian dari cara pandang kita. Suku, etnis, bangsa atau ras tertentu lebih hina, atau rendah daripada kita. Dan ini terkadang saya dengar dari sebagian lingkungan saya yang mayoritas Islam. Bahkan saya pernah dengar, ada khotib Jumat yang berkata dengan nada kebencian serupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Entah mengapa hal ini saya anggap biasa, normal dan cenderung mengiyakan. Mungkin karena dari kecil, saya sudah terbiasa mendengarnya. Mereka yang dibenci, memang sudah dari lahirnya seperti itu. Lahir dengan sifat-sifat jahat, pelit, kikir, sombong dan lain-lain. Yang paling sering jadi sasaran di Indonesia (setahu saya) adalah etnis Tionghoa, atau Cina kata masyarakat umum. Sekarang malah disebut China (dilafalkan dengan pengucapan bahasa Inggris). Entah kenapa di ucapkan seperti itu. Padahal, bahasa Indonesia tidak mengenal kata ‘China’.  Saya sendiri akan membiasakan menyebutnya tionghoa. Seperti yang biasa di sebut oleh sejarahwan, Ong Hok Ham.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Namun pola pandang ini berubah tatkala saya mengenal Malcolm X. Aktivis kulit hitam di Amerika Serikat.[1]   Setelah membaca bukunya, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana pandangan rasis ini? Apakah benar atau salah? Bagaimana kalau saya jadi orang ‘cina’, atau ‘negro’, atau lainnya? Apa saya tetap berhak diperlakukan tidak adil? Dipandang dengan prasangka negatif? Apakah benar sikap rasis ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rasis sendiri mulai di pakai dalam kata ilmiah sejak tahun 1930an.[2]  Tatkala menggambarkan politik Nazi di Jerman. Namun, telah dituliskan sebagai istilah resmi dalam kamus di Spanyol pada tahun 1611. Kamus tersebut mengartikan istilah ‘raza’, sebagia istilah yang menghormati suatu ‘kasta atau kualitas, kuda-kuda asli’. Dan diartikan pula sebuah istilah yang merendahkan,yang mengacu pada silsilah bangsa yahudi dan moor (bangsa muslim dari Afrika, yang tinggal di Spanyol).[3]   Pandangan terhadap ras ini cenderung berdampak dan diwarnai pada berbagai aspek. Yang paling fatal adalah penyerangan, atas dasar ras. Mulai dari penindasan terhadap bangsa Indian di Amerika, reconquista di Spanyol, Yahudi di Jerman, era kolonial, terhadap kulit hitam di Amerika, sampai pada pemusnahan etnis di Bosnia, Kosovo dan Checnya, serta yang berlangsung sampai saat ini dan di dukung banyak negara, yaitu pemusnahan terhadap bangsa Palestina. Rasisme atau rasialisme, berarti, 1. prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yg berat sebelah thd (suku) bangsa yg berbeda-beda; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yg paling unggul.[4]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semakin menyedihkan tatkala kita melihat sebagian Muslim di Indonesia masih memiliki cara pandang rasialis ini. Padahal sebagai Muslim, harusnya kita memiliki cara pandang (worldview) yang digariskan Islam. Lalu bagaimana Islam memandangnya? Nyatanya Islam sudah memerangi rasisme sejak hampir 1400 tahun yang lalu. Seorang muslim disuruh memahami, bahwa manusia itu memang beragam suku dan bangsa,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujarat : 13)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; min-height: 13px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setelah manusia menginsyafi adanya keragaman dalam dunia ini dan saling mengenal, maka mereka disuruh berpikir,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.(QS. Ar Rum : 22)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; min-height: 13px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Inilah tanda-tanda dari Tuhan. Bukan sekedar diketahui, tapi kembali mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhannya. Jika sampai saat ini kita masih berpikir rasis, maka sadarkah kita dengan cara pandang itu, maka yang paling awal timbul adalah prasangka? Maka Allah melarang kita bersikap seperti itu,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Maidah : 8)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; min-height: 13px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika memang itu yang sudah digariskan dalam Islam, maka sebagai Muslim, mengapa kita harus bersikap rasis? Untuk kita (di Indonesia) yang terbiasa dengan sikap rasis ini, maka sebaiknya kita tahu bahwa rasisme adalah bagian dari politik pemerintah Kolonial belanda, yang membagi masyarakat di Indonesia menjadi 3 golongan, yaitu golongan eropa, timur asing (yang termasuk didalamnya etnis tionghoa, baik peranakan dan bukan peranakan) serta golongan bumi putera (pribumi). Politik lainnya dari kolonial Belanda adalah politik Wijkenstelsel, yaitu politik yang mengharuskan setiap suku bangsa tinggal di kampung-kampung tersendiri, agar tidak ada hubungan, kecuali perdagangan antar etnis atau suku bangsa dalam suatu kota. [5]  Bahkan hingga pendidikan pun penjajah itu memilah-milahnya, dengan memberikan sekolah yang berbeda-beda, yaitu HIS (hollandsch-Inlandsche School) untuk bumiputera/pribumi, HCS (hollandsch-Chineese School) untuk etnis tionghoa dan peranakannya, serta ELS (Europeesch Lagere School) untuk anak-anak Belanda.[6]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Maka dampaknya masih terasa hingga saat ini. Ketika sebagian orang memilih tinggal bersama etnisnya, dan sulit membaur. Tak bisa disalahkan begitu saja, mengingat ini sudah berjalan sejak era penjajahan. Dan tak mudah memerangi prasangka ras yang satu ini di Indonesia. Namun mungkin dengan mengaitkan Islam dengan etnis tionghoa, maka akan ditemui, bahwa, Islam telah memulai kontak resmi dengan pemerintah China (dinasti Tang) pada masa khalifah Usman Bin Affan.[7]  Jikalah memang Islam mengajarkan kebencian pada etnis tionghoa, maka mengapa pula sahabat Rasulullah, khalifah Usman Bin Affan, memulai hubungan diplomatik dengan dinasti Tang?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saat ini rasisme dapat kita anggap sebagai musuh bersama. Namun ironisnya, justru sebuah negara bernama Israel menjadi sebuah negara yang mendukung rasisme. Ini adalah sebuah masalah fundamental sejak awal berdirinya Israel. Israel tak ubahnya, bahkan lebih kejam dan jahat, jika dibandingkan dengan Afrika Selatan semasa poltik apherteid mereka. Denis Goldberg, seorang yahudi, yang mencoba melawan system apherteid di Afrika Selatan dipenjarakan pada tahun 1985. Ia dapat dibebaskan dengan campur tangan Israel, namun ia menolak dipindahkan ke Israel. Alasannya, “Saya melihat banyak kesamaan antara penindasan terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan dengan penindasan terhadap orang Palestina.”[8]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Simak pula komentar peraih nobel, Uskup Desmond Tutu, ketika berkunjung ke Yerussalem pada tahun 1989. Ia berkata, “Saya seorang berkult hitam Afrika Selatan, dan seandainya saya boleh menyamakan, gambaran peristiwa yang sedang terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dapat menggambarkan apa yang terjadi di Afrika Selatan.”[9]  Majelis Umum PBB secara resmi pada 10 November 1975 mengeluarkan resolusi yang mendefinisikan zionisme sebagai bentuk rasisme dan diskriminasi rasial. [10]  Maka kita sebagai muslim menolak rasisme dan menolak eksistensi negara rasis dan kolonialis bernama Israel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Sudah jelas apa yang di perintahkan oleh Allah kepada hambanya mengenai rasisme. Maka, jika telah mengetahuinya, wajiblah kita menghilangkan perilaku dan cara pandang rasis. Memulai dari diri sendiri, walau tak mudah, adalah tindakan yang paling mungkin untuk dilakukan. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita mengingat, khutbah ‘perpisahan’ Nabi Muhammad SAW, di bukit arafah pada 9 Dzulhijah (6 Maret 632 M)[11], di depan ribuan jamaahnya, umatnya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Wahai manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan kukatakan  dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini…Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah; kecuali karena takwa dan amal salihnya. Ketahuilah bahwa setiap orang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzalimi. Ingatlah satu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian. [ 12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; min-height: 13px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Khutbah ini disampaikan oleh Rasulullah, sebuah pengakuan akan hak azasi manusia, pengakuan menolak rasisme. Yang disampaikan hampir 1400 tahun sebelum Deklarasi HAM PBB tahun 1948.[13] Maka Islam sudah menggariskan bagaimana memandang hidup ini dengan beragam persoalannya, termasuk masalah rasisme. Mengapa masih mencari yang lain sebagai pegangan dan pandangan hidup? Sampaikanlah pesan Rasulullah ini. Sudahkah kita mengamalkan dan menyampaikannya? Wallhualam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[1]. Malcolm X. Sebuah otobiografi. 2002. Yogyakarta. Ikon Teralitera.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[2]  Fredrickson, George M. Rasisme : Sejarah Singkat. 2005. Yogyakarta. Bentang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[3] ]  Fredrickson, George M. Rasisme : Sejarah Singkat. 2005. Yogyakarta. Bentang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan. pusatbahasa.kemdiknas.go.id/&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kbbi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[5] Ong Hok Ham. Riwayat Tionghoa Peranakan Di Jawa. 2005. Jakarta. Komunitas Bambu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[6] Ong Hok Ham. Riwayat Tionghoa Peranakan Di Jawa. 2005. Jakarta. Komunitas Bambu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[7] Alatas, Alwi. Pasang Surut Islam di Cina. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://alwialatas.multiply.com/journal/item/97/Pasang_Surut_Islam_di_Cina"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://alwialatas.multiply.com/journal/item/97/Pasang_Surut_Islam_di_Cina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[8] Burge, Gary M. Palestina Milik Siapa? 2010. Jakarta. BPK Gunung Mulia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[9] Burge, Gary M. Palestina Milik Siapa? 2010. Jakarta. BPK Gunung Mulia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[10] Garaudy, Roger. Mitos dan Politik Israel. 2000. Jakarta. Gema Insani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[11] Arif, Syamsuddin. Orientalis &amp;amp; Diabolisme Pemikiran. Islam dan Rasisme. 2008. Jakarta Gema Insani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; line-height: 16px; font: normal normal normal 11px/normal 'Lucida Grande'; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[12]  Arif, Syamsuddin. Orientalis &amp;amp; Diabolisme Pemikiran. Islam dan Rasisme. 2008. Jakarta Gema Insani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-664416576062148133?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/664416576062148133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=664416576062148133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/664416576062148133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/664416576062148133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/06/islam-tapi-rasis.html' title='Islam tapi Rasis?'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-8137367141094899150</id><published>2011-06-16T09:42:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T09:43:18.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia in the time of revolution'/><title type='text'>Cinta Bangsa dan Tanah Air?</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Baru saja beberapa pekan belakangan tersiar berita tentang beberapa sekolah Islam yang menolak upacara bendera [1] dan radio Islam yang menolak menyiarkan lagu kebangsaan[2]. Komentar-komentar bermunculan. Dari perbuatan makar, hingga pengkhianat. Kejadian seperti ini mudah membakar emosi orang-orang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang tak sependapat dengan sekolah atau radio tersebut. Apalagi belakangan memang santer masalah NII, penolakan terhadap pancasila dan sebagainya. Maka tak heran menolak upacara bendera dan menolak menyiarkan lagu kebangsaan dianggap sebagai penolakan terhadap NKRI, tidak nasionalis, yang berujung pada tudingan pengkhianat. Tapi apakah pantas, orang yang menolak upacara bendera disebut pengkhianat? Apakah pantas menolak menyiarkan lagu kebangsaan dituding tidak mencintai Indonesia? Lalu apa tolak ukur rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air? Lebih khusus lagi, apa tolak ukur bagi seorang Muslim mencintai tanah airnya? Apakah harus dengan upacra bendera? Dengan menyanyikan lagu kebangsaan? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ada baiknya kita lihat pendapat seorang Haji Agus Salim. Salah seorang tokoh besar bangsa ini. Sekaligus seorang tokoh Islam di Indonesia. Kecintaannya pada bangsa ini tentu tidak diragukan lagi. Ialah generasi awal tokoh gerakan modern kemerdekaan Indonesia. Sesungguhnya ia pernah membahas persoalan cinta bangsa dan tanah air puluhan tahun yang lampau. Tepatnya Juli 1928. Ketika ia memulai polemik dengan Soekarno lewat media massa. Polemik tentang cinta tanah air dan bangsa, bahkan ketika sumpah pemuda pun belum di ikrarkan oleh pemuda kita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berawal dari perkataan Soekarno pada massa PNI. Soekarno menggambarkan betapa Indonesia, yang ia anggap sebagai ibu, begitu indah, teramat kaya dan ia cintai. Maka, kata Soekarno, tak lebih dari wajibmu apabila kamu menghambakan, membudakkan dirimu kepada Ibumu Indonesia, menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Haji Agus Salim lalu menulis dalam Fajar Asia, dan menurutnya adalah wajar mencintai tanah air dan bangsanya yang elok dan teramat kaya. Tapi,sebagai muslim, harus dengan asas yang benar, dan tujuan utama yang akan dinilai oleh Allah. Ia mencontohkan betapa banyak, bangsa yang dicintai dan diagungkan kemudian, menjajah bangsa lain. Ia kemudian melanjutkan, “inilah bahayanya, apabila kita ‘menghamba’ dan ‘membudak’ kepada ‘Ibu-dewi yang menjadi tanah air kita karenanya sendiri saja; karena eloknya dan cantiknya; karena kayanya dan baiknya, karena ‘airnya yang kita minum’ atau nasinya yang kita makan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena menurut Haji Agus Salim, janganlah kita mencintai karena sifat duniawi. Ia mengingatkan, “ atas dasar pehubungan yang karena benda dunia dan rupa dunia belaka, tidaklah akan dapat ditumbuhkan sifat-sifat keutamaan yang perlu untuk mencapai kesempurnaan.” Ia kemudian melanjutkan, “ maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga cinta tanah air, mesti kita menunjukkan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak (kebenaran), keadilan dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Subhanahuwa Ta’ala. ” Artinya kita sebagai muslim, mencintai tanah air ini, tidak melebihi cinta dan cita kita pada Allah. Dan Allah telah menentukan kadarnya. Bagaimana kadarnya? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Haji Agus Salim mencontohkan kadar cinta Nabi Ibrahim pada tanah airnya. Sebagai mana ia kutip surat Ibrahim ayat ke 37. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ia menerangkan bahwa, bahwa men-tanah air-kan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semata karena untuk menyembah Allah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Hanyalah akan tempat untuk menyembah Allah semata-mata”, tulisnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saya yakin, sebagaimana Haji Agus Salim juga yakin pada Soekarno, bahwa kita sama-sama mencintai tanah air dan bangsa ini. Tapi ada perbedaan yang mendasar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Sama Haluan : Cinta bangsa dan tanah air. Sama tujuan : Kemuliaan Bangsa dan Tanah air. Tapi berlainan asas dan niat, “ tandas Haji Agus salim. “Asas Kita agama, yaitu Islam. Niat kita Lillahi Ta’aala, ” Lanjutnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka sebagai seorang muslim, kita mencintai tanah air ini karena Allah. Semata agar menyembah Allah.Tidak menyembah bangsa dan tanah air ini. Apa yang Allah telah gariskan dan tentukan, itulah yang kita jalankan di tanah air kita ini. Toh semata-mata agar tanah air ini mendapat kemuliaan. Kemuliaan dengan ridho Allah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Itulah kadar cinta bangsa dan tanah air ini untuk seorang muslim. Maka apabila ada teman-teman kita, yang menolak untuk melakukan upacara bendera, menyiarkan lagu kebangsaan, janganlah dituding sebagai pengkhianat atau berbuat makar. Bagi seorang muslim, ia mencintai tanah air dan bangsanya bukan diukur dari upacara bendera, atau menyiarkan lagu kebangsaan. Bukan dari kebendaan atau simbolik semata. Tapi bagaimana di tanah air tersebut, ia menyembah Allah semata. Bagaimana usahanya ditanah air tersebut menegakkan keadilan dan kebenaran sesuai yang di tuntunkan oleh Allah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tidakkah lebih baik kita tudingkan kata pengkhianat bagi para wakil rakyat yang mengkhianati rakyatnya sendiri? Bagi para pejabat yang menjual aset dan harta bangsanya sendiri pada pihak asing? Bagi para pimpinan yang menipu bangsanya sendiri? Mereka bisa berupacara dan menyanyi dengan baik, tapi tidak menegakkan kebenaran dan keadilan? Wallahualam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[1] http://news.okezone.com/read/2011/06/13/340/467589/sd-di-solo-juga-tolak-hormat-bendera&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[2] http://www.detiknews.com/read/2011/06/09/105609/1656496/10/sebuah-radio-tolak-putar-indonesia-raya-karena-tak-sesuai-syariat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;[3] Kumpulan tulisan Haji Agus Salim, tema cinta bangsa dan tanah air dalam 100 Tahun Haji Agus Salim. 1996. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-8137367141094899150?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/8137367141094899150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=8137367141094899150' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8137367141094899150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8137367141094899150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/06/cinta-bangsa-dan-tanah-air.html' title='Cinta Bangsa dan Tanah Air?'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-2851706548132911703</id><published>2011-04-22T08:25:00.001-07:00</published><updated>2011-04-22T08:25:30.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia in the time of revolution'/><title type='text'>Perhatian Kartini Pada Seorang Pemuda</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;21 April kemarin, bangsa ini kembali memperingati Hari Kartini. Hari yang ditujukan sebagai penghormatan terhadap tokoh bernama Kartini. Semua orang rasanya tahu, Kartini dikenang sebagai sosok wanita yang memberi perhatian terhadap wanita di Indonesia. Namun sedikit dari kita tahu bahwa Kartini, lebih seratus tahun yang lalu pernah memberikan perhatian pada seorang pemuda. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pemuda itu bernama Masyudul Haq. Lahir 18 Oktober 1884 di Sumatera Barat, ia lebih muda lima tahun dari Raden Ajeng Kartini. Masyudul adalah anak di seorang &lt;i style=""&gt;hoofdjaksa &lt;/i&gt;Riau.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saat sekolah di European Lagere School (ELS), sekolah yang biasanya hanya untuk anak eropa, Masyudul dikenal anak yang brilian, terlebih dalam pelajaran bahasa Belanda. Oleh karena itu, seorang gurunya berkebangsaan Belanda bernama Brouwer, meminta Masyudul tinggal di rumahnya, agar bisa memberinya bimbingan lebih. Namun ayahnya hanya mengizinkan Masyudul sesekali tinggal dirumah gurunya tersebut. Kelak inilah yang menggemblengnya hingga ia tidak minder terhadap orang bangsa lain dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Lulus dari ELS, ia melanjutkan ke sekolah menengah Hogere Burgerschool (HBS) di Jakarta. Lagi-lagi ia tinggal bersama seorang Belanda, bernama Koks. Di Sekolah ini, ia menjadi sedikit dari anak pribumi yang bersekolah di sana. Saat lulus, ia menjadi juara pertama dari HBS, tidak hanya HBS sekolahnya saja, tetapi tiga HBS, yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mungkin jika diibaratkan, ia adalah juara nasional seluruh sekolah di Hindia Belanda saat itu. Prestasi pemuda ini menjadi tersebar ke seluruh nusantara saat itu. Kabar juara itu sampai juga ke Kartini. Apalagi setelah ia tahu bahwa pemuda tersebut ingin melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda, namun tak mampu melanjutkannya. Karena tidak ada biaya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ada baiknya kita ketahui, bahwa Kartini sejak lama ingin mendapat pendidikan tambahan di Belanda. Berkat bantuan teman-temannya berkebangsaan Belanda, pemerintah Hindia Belanda saat itu menyetujui permohonannya. Maka pada tanggal &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;7 Juni 1903, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang mengabulkan permohonannya dan menanggung seluruh biaya sebesar 4800 gulden. Impian Kartini akhirnya terkabul. Namun takdir berkata lain. Kartini tidak diizinkan orang tuanya untuk bersekolah jauh. Dan Dalam waktu dekat ia akan memasuki jenjang pernikahan. Maka ia tahu bagaimana rasanya bagi seorang Masyudul Haq, agar bisa melanjutkan sekolahnya di Belanda. Akhirnya Kartini berinisiatif menghubungi kenalannya, Ny. Abendanon, seorang istri pejabat tinggi pendidikan di Belanda. Ia menulis surat kepada Ny. Abendanon di tahun yang sama, 1903.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kartini menulis, &lt;i style=""&gt;"Saya punya permohonan yang penting sekali untuk Nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditujukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya?"&lt;/i&gt; Besar keinginan Kartini agar Masyudul berbahagia. Hal itu dibuktikan dalam kalimat di surat tersebut,&lt;i style=""&gt; " Kami tertarik sekali pada seorang anak muda, kami inign melihat ia dikaruniai bahagia. Anak muda itu ingin sekali pergi ke negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali keadaan keuangannya tidak memungkinkan." &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kartini mengajukan sebuah upaya, yang serupa dengannya, yaitu agar pemuda itu memperoleh bantuan yang sama, seperti yang pernah pemerintah Hindia Belanda kabulkan padanya. Kartini menulis, &lt;i style=""&gt;"Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Teringat kami pada SK Gubermen &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tetanggal 7 Juni 1903....."&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh karena Kartini tidak dapat menerima bantuan tersebut, ia ingin agar Masyudul, -walaupun tak mengenal Kartini- yang menerimanya. Kartini bertanya dalam suratnya pada Ny. Abendanon, &lt;i style=""&gt;"Apakah tak mungkin orang lain menerima manfaatnya?"&lt;/i&gt; Begitu besar keinginan Kartini membantu Masyudul, hingga ia terus membujuk dalam suratnya, &lt;i style=""&gt;" Berikan kami rasa bahagia, dengan membahagiakan orang lain yang menerima manfaatnya."&lt;/i&gt; Berpuitis pula Kartini dalam surat itu,&lt;i style=""&gt; " Wahai, jangan biarkan jiwa hidup yang muda serta indah itu mati di kuncup!"&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Surat itu dikirmkan 24 Juli 1903, atau tepat sebulan setelah permohonan Kartini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda, saat pemuda tersebut berusia 19 tahun. Namun beasiswa tersebut tidak pernah sampai ke Masyudul. Takdir Allah berkata lain. Pemuda brilian yang saat lulus HBS menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Perancis itu, menempuh jalan yang akan mengubah hidupnya. Ia, yang selama ini jauh dari Islam berubah menjadi mendekat, ketika ia bekerja untuk &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Konsul Belanda di Jedah. Sambil bekerja, ia juga belajar Islam pada seorang ulama besar minangkabau yang menetap di Jedah. Syekh Ahmad Khatib. Setelah sedari kecil mendapatkan pendidikan dari Belanda hingga dewasa, ia akhirnya mencoba untuk mengenal Islam. Syekh ahmad Khatib, seorang ulama yang juga guru dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis Masyudul dengan memuaskan. 17 tahun kemudian Masyudul mengenang kembali masa-masa pencarian Islam, yang ia tulis dalam surat kabar Bendera Islam tanggal 2 Mei 1927,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;"Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja. Dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. " Dan setelah lima tahun di Saudi Arabia ia mengakui,"...dan bertambah sikap saya terhadap agama, daripada tidak percaya menjadi syak, dan daripada syak menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan agama Allah."&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pulang dari Jedah, di tanah air, Masyudul sempat mengajar dan mengelola sekolah selama 3 tahun dikampung halamannya, Sumatera Barat. Setelah itu ia mendapat tugas dari temannya, untuk memata-matai pergerakan yang sedang bangkit di Jawa. Pergerakan itu bernama Syarikat Islam. Namun sungguh lucu, ia malah berhenti menjadi mata-mata dan bergabung bersama Sarekat Islam (SI). Seperti yang pernah diakuinya, ini memang jalannya&lt;i style=""&gt;, " Itulah perkenalan saya dengan Sarekat Islam. Lagi-lagi jalan hidup saya memang menuju ke Agama Islam..."&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sarekat Islam adalah pergerakan islam dan nasional terbesar saat itu. Di pimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Seorang yang dianggap sebagai ratu adil, karena karismanya begitu besar. Ia sampai disebut, Raja Hindia Tanpa Mahkota. Bergabungnya Masyudul Haq ke Sarekat Islam menandai mereka menjadi generasi awal pergerakan Islam modern di Nusantara. Selanjutnya mereka menjadi motor kebangkitan Islam di Nusantara. Karena pada saat itu umat Islam dilanda rasa rendah diri. Beridentitas Muslim tapi malu mengakuinya. Hal ini terlebih karena Islam dianggap tidak modern. Namun keberadaannya bersama Tjokroaminoto di sana menjadi simbol kebangkitan Islam saat itu. Ia juga menjadi pengayom organisasi pemuda Islam, Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi yang menghasilkan generasi kedua pergerakan Islam moderen di Indonesia, seperti Muhammad Natsir, Moh. Roem, Kasman Singodimedjo dan lain-lain. Seperti diakui M. Natsir,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Masyudul &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seperti pembimbing bagi mereka. Setiap kesulitan diadukan kepadanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masyudul aktif dalam berbagai kegiatan politik. Ia duduk di Volksraad (semacam dewan rakyat yang dibentuk pemerintah kolonial Belanda) mewakili SI. Ialah yang pertama kali berpidato menggunakan bahasa melayu di Volksraad, sebagai kritikan terhadap pemerintah kolonial yang tak pernah memperhatikan bangsa Indonesia. Itu pulalah pertama kali tercatat dalam sejarah, bahasa melayu dipakai dalam forum resmi dengan pemerintah kolonial.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama itu pula ia menjadi pemimpin dari beberapa media massa. Ia menjadi corong pergerakan Islam dan Indonesia melalui media. Ia membela pergerakan Islam melaui medianya. Ia pernah berpolemik dengan Dr. Soetomo yang memojokkan dirinya dan Sarekat Islam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahkan ia pernah berpolemik lewat tulisan dengan Soekarno, yang saat itu menjadi simbol kebangkitan nasionalisme. Dalam tulisannya tentang cinta bangsa dan tanah air di surat kabar Fadjar Asia, ia mengingatkan Soekarno, agar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jangan sampai menghamba pada tanah air itu sendiri. Semua harus diniatkan karena Allah, bukan karena tanah airnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Meskipun begitu, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ia dan Soekarno akhirnya bahu membahu dalam usaha kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi anggota panitia 9 yang menyiapkan pembukaan UUD Republik Indonesia. Setelah Indonesia merdeka ia beberapa kali diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Ialah yang berkeliling ke Asia dan Afrika (terutama negara-negara Islam) untuk mencari dukungan atas kemerdekaan Indonesia. Berkat kemampuan bahasanya yang sangat bagus (ia menguasai paling tidak 7 bahasa) ia menjadi diplomat ulung Indonesia. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di akhir hayatnya ia menjadi Guest Lecture di Cornell University.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;4 November 1954, ia wafat di usianya yang ke 70 tahun. Masyudul Haq, seorang pemuda yang pernah mendapat perhatian dan kepedulian dari R.A kartini, memang tak berhasil mengecap sekolah kedokteran di Belanda. Namun ia menulis catatan dalam lembar sejarah Indonesia. Ia akhirnya dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional RI. Namun bangsa ini tak mengenalnya dengan Masyudul Haq. Bangsa ini mengenalnya dengan nama panggilan oleh pembantunya, seorang Jawa, saat ia kecil. Ia dipanggil Gus. Kemudian lafal belanda memanggilnya dengan Agus (August). Ayahnya bernama Sutan Mohammad Salim. Sehingga ia akhinya dikenal kemudian dengan nama Haji Agus Salim.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-2851706548132911703?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/2851706548132911703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=2851706548132911703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2851706548132911703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2851706548132911703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/04/perhatian-kartini-pada-seorang-pemuda.html' title='Perhatian Kartini Pada Seorang Pemuda'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-5607182921184218051</id><published>2011-04-19T05:59:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T06:00:38.121-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Kiri atau kanan?</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bukan hal yang aneh, banyak pemuda bangsa ini mengenakan kaos bergambar Che Guevara. Mereka menganggap diri mereka “orang kiri”. Tokoh revolusi Kuba tersebut dianggap mewakili akan gerakan perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Kiri, memang identik dengan gerakan perlawan terhadap ketidakadilan pihak penguasa, melawan gelombang kapitalisme. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun di sebut kiri sebagai gerakan baru dalam membela kepentingan rakyat. Hasan Hanafi bahkan menulis karya terkenalnya, Islam Kiri. Karya yang identik dengan semangat perlawanan dan sikap kritis. Wajar jika gerakan kiri ini menjadi gerakan yang tumbuh subur di kalangan pemuda. Termasuk pemuda Islam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sejatinya penyebutan kiri ini berawal dari pembedaan kelompok di Majelis Nasional Perancis 1789, pada masa awal revolusi Perancis. Wakil yang mendukung perubahan radikal menuju tatanan sosial yang lebih setara berada di sayap sebelah kiri ruangan. Sedangkan yang membela status quo tradisional berada di sayap sebelah kanan ruangan. Sedangkan deputi perancis yang mendukung perubahan moderat duduk di tengah ruangan. Pembagian atau pembedaan ini terus berlanjut menempel pada gerakan-gerakan yang radikal atau progresif, termasuk gerakan marxis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ternyata bukan pengertian dalam politik saja yang membagi antara kiri dan kanan. Islam memiliki juga pembedaan golongan kiri dan kanan. Dalam surat Al Balad ayat 10 – 20 dijelaskan pembagian golongan kiri dan kanan menurut Islam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;” Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;(90:10-11)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Allah telah memberikan pilhan pada manusia untuk menempuh sebuah jalan dalam hidup ini. Yang mudah dan yang sulit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;“ Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, atau (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang tertanah. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”&lt;/i&gt; (90 : 12-18)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Begitulah menurut Islam orang pada golongan kanan. Menghapuskan perbudakan, saling membantu sesama manusia, menasehati, dan menghilangkan kesenjangan dalam hidup ini. Adapun disebutkan termasuk orang golongan kiri adalah, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (90 : 19-20)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jelaslah dalam Islam orang-orang kiri dan kanan tidak sama pengertiannya dengan pengertian politik yang berasal dari eropa. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jika kita memang mengaku muslim, pastilah kita akan memilih jalan yang kanan. Jalan yang memang tidak mudah, menolong orang lain, menghapuskan perbudakan, menghapuskan kesenjangan ekonomi dan saling menasehati untuk berkasih sayang dan bersabar. Jalan yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;memberi makan orang miskin yang tertanah. Tertanah, maksud Buya Hamka adalah melarat. Hingga kadang rumah pun beralaskan tanah. Inilah yang wajib kita beri makan (bantu). Tidak seperti pemerintah yang menggunakan angka-angka sebagai indikator kemiskinan, Islam melihat realitanya. Betapa sekarang penilaian kemiskinan yang dikeluarkan pemerintah memakai GDP, seperti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak realistis. Pemerintah berkata, angka kemiskinan turun, padahal kita melihat semakin hari semakin sulit rakyat kita, semakin banyak yang kelaparan. Jalan yang sukar tapi mulia ini sebenarnya ada kesamaan dengan yang ingin diperjuangkan teman-teman muslim yang mengaku “kiri”. Sama-sama ingin menghapus kesenjangan sosial dan menghapus perbudakan. Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar-nya, dalam bahasa arab, perbudakan disebut Raqabatin. Asal katanya berarti leher. Seseorang yang telah jatuh dalam perbudakan, samalah artinya dengan yang telah terbelenggu lehernya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jika kita merenungi lebih lanjut dapat dilihat pula sebenarnya saat ini bangsa kita pun telah terbelenggu. Terbelenggu oleh system ekonomi yang liberal, hingga bangsanya pun terbelenggu oleh hutang dengan jumlah luar biasa. Terbelenggu hasil alamnya oleh asing, sehingga rakyatnya hanya sedikit merasakan manfaatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika memang jalan ini memperjuangkan hal yang sama bahkan lebih mulia,-karena diingatkan untuk saling menasehati, mengingatkan sesame manusia dan saling berkasih sayang- kenapa harus memilih jalan lain? Jalan yang memaknai manusia hanya sebagai faktor produksi semata, yang berlandaskan materialisme semata.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika memang muslim, mengapa harus menambahkan muslim (Islam) kiri? Mungkin ada yang akan menjawab, jalan kami mengkritisi pemerintah yang zalim. Ketahuilah, dalam Islam, itu adalah sebuah jihad. Bukankah, ketika Rasulullah saw ditanya tentang jihad yang paling utama, beliau bersabda, &lt;i&gt;"(yaitu) mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zhalim." &lt;/i&gt;(Diriwayatkan Ibnu Majah, Ahmad, dan An-Nasai.)? Mungkin ada yang menjawab, kiri adalah ideologi. Islam pun menjadi sebuah ideologi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Muhammad Natsir (mantan perdana menteri Indonensia era 50an) menulis dalam Capita Selecta-nya, "Islam adalah satu falsafah hidup, satu levensfilosofie, satu ideologi, satu sistem perikehidupan.” Lalu mengapa memilih jalan lain? Dalam Islamlah perjuangan tidak hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Semoga kita bukan termasuk golongan kiri. Golongan yang menolak ayat-ayat Allah dan terkunci dalam neraka. Wallahu alam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-5607182921184218051?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/5607182921184218051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=5607182921184218051' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5607182921184218051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5607182921184218051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/04/kiri-atau-kanan.html' title='Kiri atau kanan?'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1631636868741807176</id><published>2011-03-10T20:28:00.000-08:00</published><updated>2011-03-10T20:40:47.516-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nsqgvK3eYOc/TXml5hJUvjI/AAAAAAAAAHI/415HQLMxcH4/s1600/Picture%2B1.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 397px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nsqgvK3eYOc/TXml5hJUvjI/AAAAAAAAAHI/415HQLMxcH4/s400/Picture%2B1.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582675620671045170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pagi ini saya kembali melewati sebuah SMP di bilangan Tebet, jakarta selatan. Sebuah SMP yang konon paling digemari seantero jakarta, favorit, bertaraf internasional. Sebuah sekolah yang menyisakan kenangan 15 tahun yang lalu. Sekarang ia menjadi salah satu sumber macet kalau pagi hari. Di depan sekolah, sekilas saya lihat, kalimat yang berhubungan dengan standar internasional mereka. Sekolah SMP standar internasional? Sekolah lain ada yang rintisan internasional, lalu yang tidak? apa berarti mutunya jelek? Hal ini sudah menganggu pikiran saya sejak lama? ada apa dengan dunia pendidikan kita saat ini? semua ingin serba internasional, seakan sekolah saat ini punya kastanya masing-masing. Tanpa sadar, negara ini mengkastakan pendidikannya. Ada yang internasional (pintar &amp;amp; mahal), nasioanl (agak pintar &amp;amp; agak mahal) tak ada standarnya (seadanya &amp;amp; terjangkau). Itukah yang ingin dicapai? Internasional = pintar = kaya. anda boleh bolak-balik urutan tadi sesukanya. Tapi hasilnya tetap sama. apakah lawannya : lokal = bodo = miskin? silakan cari sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi bukan itu yang saya mau kemukakan. Tampaknya bangsa ini melalui pemerintahnya, telah salah kaprah mengurus pendidikannya. Mengkastakan sekolah adalah salah satu jalan menyingkirkan masyarakat tidak mampu (baca : miskin) semakin terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Jalan lain yang ditempuh pemerintah adalah dengan mem-privatisasi-kan sejumlah perguruan tinggi negeri. Coba keliling jawa, dan cari berapa bayaran uang kuliah + uang masuk masuk PTN seperti UI, ITB dan UGM. Bandingkan dengan gaji buruh pabrik di tempat yang sama. Sanggupkah mereka membiayai kuliah anaknya? Konstitusi kita memang mengamanahkan untuk menyisihkan 20% APBN untuk pendidikan. Tapi ini hanya teori semata. Prakteknya jauh. Sekolah dasar negeri di beberapa tempat di Jakarta memang ada yang menggratiskan SPP nya. Tapi mereka lupa untuk menggratiskan uang buku dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sesungguhnya para founding fathers bangsa ini telah mengajarkan sesuatu yang amat bernilai. Haji Agus Salim, sepulang dari Jedah, setelah bekerja sbg konsul Belanda, sempat bekerja sebentar lalu membuka sekolah dan mengajar di Sumatera Barat. Tan Malaka, sebelum menjadi buronan pemerintah kolonial, mengajar di Sumatera Utara. Mohammad Natsir, mantan Perdana menteri Indonesia, pemimpin Masyumi, partai Islam terbesar di Indonesia, malah berakar dari dunia ajar. Dengan pendidikan Islam-nya ia mendirikan pusat pengajaran di Bandung, mengajarkan Islam dan mempelopori paduan ilmu Agama dan pengetahuan non agama. Atau sebut juga Soewardi Soeryaningrat alias Ki hajar Dewantara dengan Taman Siswanya. Bahkan Mohammad Hatta sewaktu menjadi buangan, ia mengajar kepada sesama orang-buangan. Waktu itu ia mengajar filsafat yunani dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ketika pemerintah kolonial memeberlakukan ordonansi sekolah liar, segenap elemen pendidikan melakukan perlawanan. Mereka menganggap semua berhak untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan. Tanpa harus dapat restu Belanda untuk mendirikan sekolah. Mereka semua mengajar bukan untuk uang, itu pasti. Namun yang lebih penting adalah, mereka mengajar karena menganggap semua berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Miskin atau kaya, sama saja. Semua dilahirkan untuk mendapatkan pendidikan, karena dengan pendidikanlah bangsa ini dapat maju.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekarang, jika untuk sekolah sajabagi orang yang tak mampu  makin sulit, , maka, bagaimana jadinya bangsa ini kedepannya? Apakah pengetahuan akan di miliki oleh yang mampu saja? Apa orang miskin dilarang pintar? Sedikit pertanyaan oleh saya, apakah Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono yang terhormat pernah mengajar? apakah para pemimpin partai negeri ini pernah mengajar? Bapak-bapak menteri? Jika belum, sudilah mereka mengajar di negeri ini, agar tahu pentingnya pendidikan untuk semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto : Koleksi Antara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1631636868741807176?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1631636868741807176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1631636868741807176' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1631636868741807176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1631636868741807176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2011/03/pendidikan-kita.html' title='Pendidikan Kita'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nsqgvK3eYOc/TXml5hJUvjI/AAAAAAAAAHI/415HQLMxcH4/s72-c/Picture%2B1.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-2515932795807058843</id><published>2010-12-22T17:53:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T18:04:01.866-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesia in the time of revolution'/><title type='text'>Dwi tunggal dalam kenangan</title><content type='html'>Saat memasuki bandara, terlihatlah 2 patung sosok proklmator Republik Indonesia, Soekarno &amp;amp; Hatta. Begitu lekat kedua nama tersebut, seakan-akan seperti tak bisa dipisahkan ketika menyebut salah satunya. Begitu lekatnya dalam benak pemuda seperti saya, yang tidak pernah hidup sezaman dengan mereka, hingga dalam benak banyak pemuda saat ini mereka seperti dua jiwa yang menyatu, yang selalu kompak, saling sepaham. Dwi tunggal, begitu julukannya. Tapi siapa sangka ternyata mereka adalah dua pribadi yang berbeda, pikiran yang berlawanan, dan seringkali tidak sepaham, bahkan berseteru. Banyak romantika mengisi kata dwi tunggal tersebut, baik sebelum menjadi dwi tunggal ataupun setelah tanggalnya dwi tunggal. Sedikit Kisah –kisah yang mengisi dwi tunggal itu mungkin yang akan memberi kita pandangan yang baru tentang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas kapan sebutan dwi tunggal muncul, yang kita tahu hanya kapan ia berakhir. Dalam hukum tata negara pun tak ada istilah dwi tunggal ini. Yang kita ketahui mungkin cara bekerja dwi tunggal ini. Dalam memutuskan persoalan-persoalan besar bangsa kala itu,  mereka berdua bermusyawarah terlebih dahulu, masing-masing saling mengeluarkan pendapatnya, setelah terdapat kata sepakat, pendapat tersebut kemudian dikeluarkan sebagai pendapat bersama. Dan begitu pendapat tersebut sudah dikeluarkan, akan dibela oleh keduanya. Itulah dwi tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun persoalannya tidak mudah mengeluarkan kata sepakat bagi Bung Karno dan Bung Hatta. Pribadi keduanya saja bertolak belakang, Bung Karno, yang terkenal, flamboyan, humoris dan berapi-api, terutama jika berpidato di depan massa yang banyak, ia beragitasi dan mengeluarkan semboyan yang membakar dan menggelegar. Sungguh 180o berbeda dengan Bung Hatta yang terkenal tidak banyak bicara, berpendirian teguh dan rendah hati. Bung Hatta berpidato dengan datar, namun tegas, dan terstruktur. Kita tak akan menemukan ia berpidato dengan emosi. Namun Keduanya dikenal pernah punya pidato yang mahsyur. Bung Karno dengan pledoi Indonesia Menggugat-nya di pengadilan Bandung ketika diadili pemerintah kolonial Belanda. Bung Hatta tak kalah hebat dengan pledoi Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka)  di pengadilan Den Haag yang terkenal dengan ucapan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada dijajah bangsa lain”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal pun bukannya mesra hubungan Bung Karno dan Bung Hatta itu, sejak masih di Belanda, Bung Hatta memperhatikan sepak terjang Bung karno, kritik pun sering ia sampaikan pada PNI–nya Soekarno. Salah satunya ketika ia mengkritik Bung Karno yang memang senang berpidato di depan massa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ Jika Soekarno berpidato, tidaklah cukup bagi pendengarnya untuk sekedar bertepuk tangan dengan ramainya. Tidaklah cukup jika orang sekedar menjadi Soekarnois. “&lt;/span&gt;  Bung Hatta dalam berpolitik memang lebih mengutamakan pendidikan para kader ketimbang memobilisasi massa seperti Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka membaik dan menyatu ketika keduanya sama-sama dibebaskan pemerintah jepang dari pembuangan dan mereka mulai bekerja sama dengan pemerintah penjajah Jepang waktu itu. Sama-sama menyiapkan kemerdekaan RI kemudian keduanya mejadi proklamator Republik Indonesia.  Bersatunya pribadi Soekarno dan Hatta menjadi proklamator, menyisakan tanda tanya bagi para pemuda saat itu, apa mungkin dua pribadi yang begitu berbeda dapat bersatu? Mengutip kesaksian dari Burhanudin Harahap, bekas perdana menteri termuda RI, yang saat itu masih menjadi mahasiswa. Bung Karno dan Bung Hatta mengundang para pelajar (Mahasiswa) untuk bertemu mereka. Saat Burhanudin sedang memberikan kata sambutan, Bung Karno spontan angkat bicara, merangkul Bung Hatta didepan para hadirin, dan berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ini bukti kami bersatu.”&lt;/span&gt; Tentu saja tindakan tokoh proklamasi ini menenangkan para pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang proklamasi, ada satu janji menarik Bung Hatta, bahwa ia akan menikah jika Indonesia sudah merdeka. Dan janji itu benar-benar ditepatinya. Saat itu ia berusia 45 tahun, dan Bung Karno-lah yang ia minta untuk melamarkan seorang gadis. Bung Karno, ditemani sahabat karibnya, dr. Soeharto saat itu datang larut malam ke rumah sang gadis.&lt;br /&gt;Diterima oleh Ny. Rachim, Ibu sang gadis, Bung Karno menyampaikan maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Begini”&lt;/span&gt;, kata Bung karno, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya ingin melamar.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Melamar siapa?”&lt;/span&gt;sahut Ny. Rachim.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Melamar Rahmi” &lt;/span&gt;jawabnya.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Untuk siapa?”&lt;/span&gt; sahut Ny. Rachim.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Untuk teman saya, Hatta”&lt;/span&gt;, kata Bung Karno dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu Ny. Rachim berinisitif untuk menanyakan terlebih dahulu pada anaknya, Rahmi, yang saat itu berusia 19 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu Ny. Rachim masuk ke kamar anaknya,  Rahmi langsung bertanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa yang datang, Mam?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bung Karno. Dia datang untuk melamar buat kamu.” &lt;/span&gt;Jawab Ny. Rachmi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Buat saya?, Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?"&lt;/span&gt;, cetus Rahmi yang akrab dipanggil Yuke.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ini bukan mahasiswa! Dia orang baik, Mohammad Hatta."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Yuke keluar kamar  menemui Bung Karno, dia berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Oom, saya merasa takut.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Takut apa?”&lt;/span&gt;, tanya bung karno. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya ini orang bodoh, dia terlalu pandai.“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bung karno kemudian menjawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak apa-apa, pokoknya dia orang baik, dia pemimpin yang baik dan dia sahabat saya yang baik. Kamu tidak akan kecewa, sebab Hatta adalah orang yang berbudi luhur, dan mempunyai prinsip yang tegas.”&lt;/span&gt; Akhirnya, Bung Hatta menikah tiga bulan setelah Indonesia Merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekompakan mereka semakin terasa pada sidang KNIP tahun 1947, saat membahas persetujuan Linggarjati.  Saat itu untuk meratifikasi persetujuan Linggarjati butuh persetujuan parlemen, namun terjadi perdebatan sengit di parlemen yamg mengarah pada perpecahan. Hingga akhirnya Bung Hatta membela Soekarno, dan berpidato, yang dikenang sebagai pidato Bung Hatta yang paling emosional. Saat itu ia membela Bung Karno dan berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ Terima persetujuan Linggarjati atau pilih presiden dan wakil presiden lain!”&lt;/span&gt; Keberanian ini membuat persetujuan Linggarjati akhirnya diterima oleh KNIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta kembali meledak saat situasi di tanah air penuh kegentingan tahun 1947. Pemerintah berniat untuk melaksanakan Perjanjian Roem-Royen, namun pihak tentara, dipimpin Jenderal Soedirman, menolak perjanjian itu. Situasi mengalami jalan buntu, hingga akhirnya Pak Dirman tak bisa lagi ikut pemerintah dan ingin mengundurkan diri saja. Bung Karno sudah menjelaskan semuanya namun tak mempan. Hingga akhirnya Bung Hatta meledak tangisnya dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalau saudara-saudara berhenti, maka lebih dahulu Soekarno-Hatta berhenti, terserah APRI memimpin perjuangan, Soekarno-Hatta akan mengikuti sebagai rakyat.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Pak Dirman tak jadi mengundurkan diri saat itu, dan mengikuti pemerintah.  Namun puncak Dwi tunggal adalah saat Madiun Affair yang dikenal dengan pemberontakan PKI September 1948. Pasukan Brigade 29 melakukan aksi sepihak dan menyerang divisi siliwangi, setelah menguasai kota Madiun. Mereka mendeklarasikan front nasional . Pemerintah menganggap Musso sebagai dalangnya. Maka pada malam 19 September 1948, Bung karno berpidato di radio dan mengajukan dua pilihan, :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ikut Musso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang akan  memimpin RI yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah puncak kekompakan Dwi tunggal, Indonesia disibukkan dengan intrik-intrik politik dalam negeri. Hingga akhirnya timbul ketidakcocokan lagi antara Bung Karno dan Bung Hatta. Salah satu yang diingat oleh Burhanudin Harahap adalah pertentangan di sidang kabinet antara Bung Karno dan Bung Hatta mengenai pencalonan KASAD baru, yang mengakibatkan jatuhnya kabinet Ali Sastroamidjojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang itu dibuka dengan suasana hening. Bung Karno dan Bung Hatta duduk bersama di sebuah kursi panjang, tapi berjauhan. Masing-masing duduk di ujung kiri dan kanan. Diantara mereka tergeletak peci Bung Karno. Burhanudin berpikir, mungkin Bung Karno kepanasan, hingga pecinya diletakkan di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta angkat bicara pada sidang itu. Setelah itu sidang kembali hening. Untuk memecah keheningan itu, Burhanudin bertanya pada Bung Karno, apakah beliau mau bicara. Dengan wajah yang pucat dan emosi, ditatap oleh semua hadirin peserta sidang kabinet, Bung Karno memuntahkan kejengkelannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sudah saya bilang, saya tidak mau bicara. Saya sudah minta supaya Kepala Staf diundang, supaya saya bisa bicara dengan mereka, sebagai seorang bapak terhadap anak.“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apa?!”&lt;/span&gt; Tiba-tiba Bung Hatta menyela dengan nada yang tinggi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bicara sebagai bapak dengan anak? Tidak bisa! Anak minta maaf dulu, baru kita bisa bicara sebagai bapak dengan anak. &lt;/span&gt;Ik spreek net met een rebel! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Saya tidak berbicara dengan pemberontak)”&lt;/span&gt;, tambah Bung Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa rebel?!”&lt;/span&gt; selang Bung karno. Saat itulah Burhanudin tahu, bahwa Dwi tunggal sudah memperlihatkan tanda-tanda yang memperihatinkan. Memang tak benar, tak lama kemudian, Bung Hatta, pada 20 Juli 1956, menulis surat pada ketua parlemen,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Setelah DPR yang dipilih oleh rakyat mulai bekerja, dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menyangka Bung Hatta akan mengundurkan diri, tapi orang tahu, dwi tunggal memang sudah tidak bisa berfungsi lagi, mereka memilih jalan yang berbeda.&lt;br /&gt;Bukan tak pernah beberapa pihak mencoba mendamaikan, tapi Bung Hatta adalah orang yang berpendirian teguh. Bahkan Bung Karno sendiri pernah mencoba membujuk Hatta mengubah pendiriannya. Bung Karno meminta Yuke, istri Bung Hatta untuk membujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“….Yuke…coba tolong dong…bilang sama Hatta…jangan mengundurkan diri…!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yuke hanya bisa menjawab,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Maaf Oom, apa yang sudah menjadi keputusan Kak Hatta, saya tidak bisa ikut campur, karena itu sudah prinsipnya.”&lt;/span&gt; Bung Karno hanya diam, karena ia juga tahu betapa kerasnya Bung Hatta memegang prinsipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya perbedaan pandangan politik Bung Hatta yang berseberangan dengan Bung Karno , membuatnya berkali-kali mengkritik Bung Karno.  Dalam salah satu suratnya kepada Bung Karno, yang sempat dibaca A. Halim, Bung Hatta menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Jang saja ingini memperingatkan kepada Saudara ialah bahwa, apabila konsepsi Saudara itu akan disuruh terima oleh partai-partai dan masjarakat dengan djalan terror dan intimidasi, hasilnja akan djauh berlainan daripada, jang saudara maksud. Dari usaha mencari “perdamaian nasional” ia akan menimbulkan perpetjahan dan mungkin menimbulkan perang saudara…"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya adalah kritikan Bung Hatta pada Bung Karno, melalu sebuah buku kecil, “Demokrasi Kita”, yang dianggapnya presiden sudah bertindak tidak sesuai dengan UUD, waktu presiden mengangkat dirinya sebagai formatur kabinet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun, perseteruan mereka di bidang politik, mereka tak pernah mencaci secara pribadi. Guntur Soekarno Putra, ingat sebuah kejadian, saat hubungan Bung Karno dengan komunis sedang dekat, Bung Hatta sering jadi bulan-bulanan serangan politik PKI. Pada satu acara mereka mengadakan pembacaan teks proklamasi yang pada alenia pentupnya hanya disebut nama Soekarno, tanpa Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Makan siang dengan ayahnya, Guntur bertanya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kok bapak kelihatannya sedang…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sedang apa???”&lt;/span&gt; sela Bung Karno.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sedang marah, hah?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Memang aku sedang marah…! Bukan, bukan sama kau…,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sama pemimpin PKI!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Orang boleh benci pada seseorang! Orang boleh dendam pada seseorang! Boleeeh entah apalagi!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kamu tahu? Aku kadang-kadang jedag dengan politiknya Hatta!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tapi menghilangkan Hatta dari teks proooklaamaasii, itu perbuatan pengecut!!!”&lt;/span&gt;, teriak Bung Karno. Sambil berdiri ia lalu meninju meja makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin diantara mereka sekalipun “saling gebung” dalam soal pendirian politik, terdapat pengertian yang mendalam, tak sudi mencaci pribadinya. Bahkan ketika Bung Karno mengalami masa kejatuhannya, Bung Hatta, menurut Mochtar Lubis, hanya berucap, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Soekarno salah perhitungan dengan orang komunis.”&lt;/span&gt; Itulah kata-kata Hatta yang paling keras terhadap Bung Karno, sejauh yang ia tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka berdua justru sangat dekat sebenarnya. Saat Guntur mau menikah, dan Bung Karno ditahan oleh pemerintah Soeharto, ia meminta izin pada Kodam V Jaya agar bisa hadir sebagai wali pernikahan anaknya. Tapi permohonan izin itu ditolak. Waktu Guntur menyampaikan kabar penolakan ini, Bung Karno sedang terbaring lunglai di kursi lusuh, di Wisma Yaso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Oh, kau Tok? Bagaimana dengan izin?"&lt;/span&gt;, tanya Bung Karno.&lt;br /&gt;Guntur hanya menggeleng, sambil menitikkan air mata. Bung Karno mengangguk, lalu mengepalkan tinju ke dadanya, mengisyaratkan agar Guntur tetap tabah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sini kau mendekat…”&lt;/span&gt;, bisik Bung Karno. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Minta Pak Hatta…jadi walimu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mana Pak Hatta mau? Aku nggak berani memintanya, Bapak yakin Pak Hatta mau…?” &lt;/span&gt;Tanya Guntur.&lt;br /&gt;Bung Karno mengangguk yakin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Suruh ibumu menyampaikan permintaan Bapak ini padanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guntur terbengong. Saat disampaikan pesan ini kepada Bu Fatmawati, Ia langsung menelpon Bung Hatta. Dan Bu Fatmawati mendapat jawaban spontan…&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Baiklah, saya bersedia!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hubungan unik dua pribadi ini mencapai ujungnya ketika Bung Karno sudah memasuki masa kritisnya. Bung Hatta mengajukan permohonan pada Presiden Soeharto untuk membesuk Bung Karno. Izin di dapatkan. Sore harinya beliau berangkat. Begitu masuk ruangan, Bung Hatta langsung ke tempat tidur Bung Karno, sambil berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aa..No..apa kabar?”&lt;/span&gt; Bung Karno diam beberapa saat sambil memandangi Bung Hatta. Kemudian berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Hoe Gaat het met jou?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, beberapa kali air mata beliau menetes ke bantal, sambil memandang Bung Hatta yang terus memijiti lengannya. Beliau malah minta dipasangkan kacamata agar dapat memandang Bung Hatta dengan lebih jelas. Tak ada kata-kata setelah itu. Pertemuan itu berlangsung 30 menit. 30 menit untuk selamanya. Karena beberapa hari kemudian Bung Karno wafat meninggalkan bangsanya. Dwi tunggal memang unik, dan hanya mereka berdua yang dapat memahaminya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-2515932795807058843?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/2515932795807058843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=2515932795807058843' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2515932795807058843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2515932795807058843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2010/12/dwi-tunggal-dalam-kenangan.html' title='Dwi tunggal dalam kenangan'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1933822852073849463</id><published>2010-02-09T06:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T06:07:35.358-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikir-mikir'/><title type='text'>Pluralisme, sebuah uraian singkat</title><content type='html'>Belakangan ini terdengar semakin keras gaung dari kata pluralisme. Sepertinya pluralisme menjadi “pedoman” baru dalam berwarga negara yang baik. Tidak mendukung pluralisme, berarti tidak menghargai keragaman. Salah satu gaung pluralisme yang kuat adalah pluralisme agama. Sebagian pendapat menerima dan mendukung ide pluralisme agama dan sebagian lagi menolaknya. Sebenarnya makna pluralisme agamapun masih beragam. Banyak orang dibingungkan dengan makna pluralisme agama. Tidak jelas mana yang pasti. Menurut KBBI, pluralisme adalah, “keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);. kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat.” Sedangkan menurut ensiklopedi atau kamus, “Religious pluralism (rel. comparative religion) is a loosely defined expression concerning acceptance of different religions, and is used in a number of related ways:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- As the name of the worldview according to which one's religion is not the sole and exclusive source of truth, and thus that at least some truths and true values exist in other religions.&lt;br /&gt;- As acceptance of the concept that two or more religions with mutually exclusive truth claims are equally valid. This posture often emphasizes religion's common aspects.&lt;br /&gt;- Sometimes as a synonym for ecumenism, i.e., the promotion of some level of unity, co-operation, and improved understanding between different religions or different denominations within a single religion.&lt;br /&gt;- And as a synonym for religious tolerance, which is a condition of harmonious co-existence between adherents of different religions or religious denominations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas makna pluralisme agama adalah kata-kata yang beragam dan bersayap. Kita dapat simpulkan pluralisme dalam beragam artinya, ialah : A. Mengakui keragaman agama dan budaya dalam masyarakat. B. menganggap semua agama sama benarnya. C. Menolak klaim kebenaran setiap agama. Pada poin A, mungkin semua umat beragama bisa menerimanya. Tapi pada poin B, dan C jelas bermasalah. Bagaimana mungkin Menganggap semua agama sama benarnya? Kita memilih memeluk sebuah agama jelas karena menganggap agama yang kita pilih benar, konsekuensinya agama lain jelas salah (minimal secara teologis dan konsep ketuhanan). Poin C pun tak masuk akal. Jika kita tak bisa mengklaim agama kita paling benar, lalu agama kita (mungkin) bisa salah. Berarti agama kita agama yang tidak sempurna? Apakah Tuhan menurunkan bimbingan pada umatnya dengan tidak sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiknya kita tak hanya melihat makna pluralisme itu, tapi juga bagaimana teori pluralisme agama menurut para pengusungnya? Salah satunya adalah John Hick, yang mengusung God-centredness, yaitu sebuah konsep yang menyatakan bahwa setiap agama menyembah Tuhan yang sama. Dia melihat dari posisi netral agama. Dalam memandang agama – termasuk konsep Tuhan masing-masing agama – Hick berdiri pada posisi netral agama. Ia tidak berdiri pasa posisi Islam, Kristen, Hindu, Yahudi, Budha dan sebagainya. Ia berdiri pada posisi di luar semua agama. Inti teorinya tetaplah sama, agama boleh berbeda, tapi Tuhannya tetap satu. Ini jelas sebuah pembodohan. Bagaimana mungkin agama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dll memiliki Tuhan yang sama. Setiap agama memiliki konsep ketuhanaan yang berbeda-beda, begitu pula definisi Tuhannya. Islam dalam konsep ketuhanannya adalah Tauhid. Kristen dengan Trinitasnya, lain pula Budha dan Hindu. Dalam Islam jelas, tiada Tuhan selain Allah. Jelas Hicks tidak menganggap ajaran agama lain. Telologi Dalam Kristen misalnya, keselamatan adalah kebenaran Tuhan di dalam karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib diterima melalui iman (Roma 3:28-30; 10: 9-10; Mat. 26:28). Dalam Islam, keselamatan adalah sinergi antara Iman dan amal manusia (QS.AL Baqarah : 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh pluralisme lainnya adalah Diana L Eck untuk melebur batas agama-agama (ekslusivisme). Dalam bukunya An Interpretation of Religion Hick menyatakan bahwa kebenaran itu relatif yang absolute hanya Tuhan dan manusia tidak pernah mampu memahami Tuhan. Apa yang dipahami manusia mengenai Tuhan hanyalah bersifat relatif. Sekali lagi, dalam beragama pun semuanya adalah relatif. Kata-kata ini seringkali digaungkan oleh pengusung pluralisme. Bagaimana mungkin Tuhan menurunkan wahyu-Nya yang bersifat relatif? Apakah Tuhan main-main dalam menurunkan wahyunya? Padahal Tuhan menurunkan wahyu untuk membimbing manusia. Pandangan relatif ini terjadi karena para pengusung ide pluralisme agama itu melihat wahyu Tuhan bukan sebagai wahyu yang suci, tapi produk atau bagian dari konstruksi sosial. Atau produk budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI sudah mengeluarkan Fatwa haram paham Pluralisme agama ini. Lagipula Paham pluralisme agama bukan saja ditentang umat Islam tapi juga agama lain, seperti Katolik. Tahun 2000, Vatikan juga mengeluarkan Dekrit Dominus Iesus yang menolak paham Pluralisme Agama. Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya, Dupuis menyatakan, bahwa ‘kebenaran penuh’ (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan– sebagaimana Kristen – menuju kebenaran penuh tersebut. Semua agama disatukan dalam kerendahan hati karena kekurangan bersama dalam meraih kebenaran penuh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jika paham pluralisme agama ini mempunyai banyak makna dan sebagian maknanya terdapat masalah bagi umat beragama, lalu kenapa dipakai dalam masyarakat kita. Bukankah ini akan menambah kerancuan? Niatnya mungkin baik, agar terjadi perdamaian (agama) dan pengertian dalam masyarakat. Tapi caranya jelas salah. Ini hanya menambah kerancuan bagi umat beragama. Umat beragama memiliki aturan dan konsep ketuhanan masing-masing. Dan masing-masing berhak mengklaim agamanya benar, hanya saja tidak boleh memaksakannya pada agama lain. Anehnya, kenapa kita tidak menggunakan kata toleransi umat beragama? Tidak menggunak Bhineka Tunggal Ika dalam bernegara? Sungguh aneh jika memaksakan istilah yang memilik banyak makna dan bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pluralisme dan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Umat Islam? Apakah Islam harus menyesuaikan dengan Pluralisme? Apa kita harus menjadi Umat Islam pendukung Pluralisme? Islam adalah agama yang paripurna. Sudah sempurna. Seperti firman Allah SWT,dalam Al Maidah ayat 3, “ada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Tidak perlu lagi dibumbui dengan Pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam dikenal konsep Tasamuh (toleransi). itu menjadi rambu-rambu bagi umat Islam dalam berhubungan dengan umat yang berbeda agama. Seperti dalam surat Al Baqarah ayat 256. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”; atau yang sangat jelas surah Al Kafirun, yang salah satu ayatnya berbunyi, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau surat Al Mumtahanah, ayat 8, yang berbunyi, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula Risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, sudah tumbuh ditengah-tengah umat yang beragam ras dan agama (memeluk Kristen, Yahudi, dan Majusi). dan memang tidak memerlukan lagi doktrin Pluralisme agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya menjadi umat Islam kita tak hanya harus cerdas tapi juga kritis dalam menerima ide-ide yang bertaburan di masyarakat. Apa yang sering di dengung-dengungkan oleh media belum tentu baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan besar adalah kenapa masih saja konsep pluralisme agama didengungkan dan cenderung seperti di paksakan pada umat beragama di Indonesia, terutama umat Islam? Seakan-akan, jika tidak menganut paham pluralisme berarti tidak toleran pada umat lain…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1933822852073849463?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1933822852073849463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1933822852073849463' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1933822852073849463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1933822852073849463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2010/02/pluralisme-sebuah-uraian-singkat.html' title='Pluralisme, sebuah uraian singkat'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6465477646851535246</id><published>2010-02-09T05:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T06:06:52.488-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikir-mikir'/><title type='text'>Lonceng Kematian perjanjian AFTA-Cina</title><content type='html'>Malam tahun baru 2010 mungkin malam yang sangat meriah bagi sebagian rakyat Indonesia. Malam penuh suka cita. Tapi bagi sebagian yang lain, khususnya bagi pelaku usaha yang berkaitan dengan produksi di Indonesia, hal ini menjadi mimpi buruk. Begitu trompet tahun baru dibunyikan, maka lonceng kematian bagi sebagian industri di Indonesia terutama industri kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai 1 Januari 2010 Indonesia secara resmi memasuki era perdagangan bebas dengan Negara Asean dan cina atau lazimnya disebut China-AFTA (China – ASEAN Free trade Area). Alasan yang selalu di dengungkan pemerintah adalah agar kualitas produk Indonesia semakin meningkat jika ikut dalam perdagangan bebas China – AFTA ini. Dengan liberalisasi perdagangan ini, produk-produk Indonesia bebas bersaing dengan produk cina dan Negara asean lainnya. Sehingga memungkinkan penambahan pasar ekspor bagi Indonesia. Sesungguhnya ini hanyalah kata-kata pemanis dari pemerintah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, ini mimpi buruk, bukan hanya pelaku usaha di Indonesia, tapi mungkin sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk yang paling rentan adalah kaum pekerja. Kenapa menjadi mimpi buruk bagi rakyat Indonesia? Bukankah produk kita tidak akan dikenakan lagi pajak jika kita menjual di negeri tetangga atau cina? Sehingga nilai jualnya lebih murah disana dan akhirnya akan meningkatkan ekspor kita? Ini adalah teori idealnya. Tapi fakta berbicara sebaliknya. Indonesialah yang akan diserbu produk asing terutama dari Cina. Sekitar 8000 kategori produk dari Cina akan menyerbu Indonesia tanpa penghalang apa pun.1 Sebelum di berlakukannya China – AFTA-pun produk Cina sudah menguasai pasar-pasar di Indonesia, terutama tekstil. Karena produk mereka yang massal, dengan kualitas sama tapi harga lebih murah. Apalagi dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas ini. Barang impor dari mereka tak akan di batasi dengan tariff (seperti pajak) lagi. Sehingga harganya lebih murah. Ibaratnya kemarin pagar masih ditutup sedikit, sekarang pagarnya sudah dibobol. Jelas produk-produk Indonesia tak laku lagi. Pengusaha-pengusaha lokal melalui asosiasinya sudah menjerit meminta pemerintah untuk melakukan sesuatu, termasuk melindungi usaha mereka2. Ambruknya usaha mereka akan diikuti dengan PHK besar-besaran. Ini sepertinya tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita sepertinya hidup dalam impiannya sendiri. Dengan mengikuti pasar bebas, kita siap menjadi negara yang lebih maju dengan eskpor yang lebih tinggi. Mereka lupa untuk terbangun dari mimpinya. Indonesia dengan mengikuti kesepakatan perdagangan bebas, sama saja dengan melemparkan rakyat dan industri dalam negerinya ke jurang. Keikutsertaaan Indonesia dalam perdangan bebas ibarat, kita mengikutsertakan Tim sekelas RT kita untuk ikut serta dalam kompetisi sepak bola liga inggris, tanpa persiapan yang matang. Alhasil kita hanya menjadi bulan-bulanan saja. Industri kita belum siap untuk bersaing dengan pasar Negara lain. Bukan soal kualitasnya, mungkin sebagian produk memiliki kualitas yang lebih dibanding negara lain. Tapi soal dukungan dari pemerintah itu sendiri. Infrastruktur pendukung yang masih bobrok seperti jalanan yang bagus, sistem birokrasi dan perizinan yang rumit, pungli yang masih merajalela. Hal – hal ini jelas akan menaikkan biaya produksi industri kita. Sehingga dari faktor harga, kita tak akan bisa bersaing. Contohnya adalah ongkos angkut kontainer dari Jakarta ke Batam hamper dua kali lipat dari ongkos angkut kontainer dengan ukuran yang sama, dari Singapura ke California. Atau jeruk impor bisa jauh lebih murah dibanding jeruk dari Brastagi karena membutuhkan biaya yang sangat mahal. 3 Harapan seiring berlakunya pasar bebas yang lain, adalah masuknya investasi asing yang akan diikuti, misalnya dengan pendirian pabrik-pabrik di Indonesia. Namun ini akan sulit karena merajalelanya pungli dan korupsi serta birokrasi yang berbelit belit. Mereka lebih baik mendirikan pabriknya dinegara dengan iklim invstasi yang nyaman seperti Vietnam lalu menjual barangnya ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan ekspor? Apakah kita mampu menembus pasar mereka? Jika di dalam negeri saja kita sudah tak mampu bersaing karena harga, apalagi diluar negeri. Belum lagi taktik negara lain yang menghalangi produk asing dengan kebijakan seperti penghalang nontarif (non tariff barrier). Contohnya dengan standar kualitas produk yang tinggi. Mereka menentukan sendiri standar yang mereka inginkan. Sulit untuk bisa menciptakan produk yang memenuhi standar negara lain, karena industri kita sulit untuk maju karena minimnya faktor pendukung dari pemerintah. Banyak hal–hal lain yang menunjukkan ketidaksiapan negara kita menuju pasar bebas. Dan pemerintah tampaknya menutup mata dan terus bersikukuh untuk terus memberlakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterapkannya konsep perdagangan bebas awalnya merupakan konsep penyelamatan ekonomi oleh IMF dan Bank Dunia yang menjadi bagian dari peminjaman bantuan kepada Negara-negara berkembang. IMF dan atau Bank Dunia memberikan pinjaman namun harus disertai aturan dan kontrol oleh IMF untuk mereformasi ekonomi Negara peminjam, yang disebut Structural Adjustment Program (SAP). Reformasi ekonomi antara lain mencakup, (1). pengetatan fiskal; (2) mengurangi alokasi dana pemerintah untuk sektor publik, seperti kesehatan, pendidikan; (3) liberalisasi nilai suku bunga; (4) deregulasi ; (5) privatisasi dan liberalisasi perdagangan, dan pembangungan infrastruktur, untuk dialihkan ke sektor yang lebih berorientasi profit. Oleh Ekonom John Williamson, reformasi ekonomi ini ia sebut Wahsington Consesnsus. Disebut Washington Consensus karena perumusannya melibatkan politisi Kongres, teknokrat dan birokrat, lembaga finansial dan agen ekonomi pemerintah AS yang semuanya berada di Washington. AKhirnya rumusan ini menjadi doktrin yang dipakai sebagai formulasi landasan kebijakan badan-badan multilateral dunia seperti IMF, Bank Dunia, dan Organisasi perdagangan Dunia (WTO).4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep perdangan dan pasar bebas sendiri sudah menjadi sasaran kritik habis-habisan oleh ekonom-eknonom dunia. Salah satunya adalah Joseph E. Stiglitz, pemenang nobel ekonomi, yang mengkritik dalam bukunya Making Globalization Works. Menurutnya, Negara berkembang menderita akibat perdagangan bebas dan tidak selalu mendapatkan manfaat peningkatan ekspor. Belum lagi soal pengangguran. Dampak perdagangan bebas yang menghasilkan pengangguran, pada negara maju, mungkin akan dapat diantisipasi dengan asuransi secara temporer atau jaminan sosial. Namun di negara berkembang hal itu sulit, para pekerja yang terkena PHK harus mencari sendiri jalan keluarnya karena asuransi dan jaminan sosial yang tak memadai, jika tak mau dibilang tidak ada. 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemerintah kita mau belajar, Sesungguhnya implementasi perdagangan bebas antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko (North American Free Trade Area) dapat menjadi contoh buat kita. Awalnya, NAFTA diharapkan agar membantu Meksiko, yang memiliki banyak pengangguran dan pendapatan yang berbeda jauh dari AS dan Kanada, menuju kemakmuran. Namun setelah 10 tahun dilaksanakan, NAFTA tak dapat mewujudkannya. Kesenjangan pendapatan antara AS dan Meksiko justru bertambah 10%. Bahkan NAFTA memperparah kemiskinan di Meksiko, karena para petani Meksiko tak bisa mengekspor produknya ke AS, karena dihalangi oleh penghalang nontarif (non tarrif barrier). Sementara NAFTA mengurangi tarif, semua penghalang nontarif tetap diberlakukan. Sebelum NAFTA, Tarif menghasilkan penerimaan pajak sebesar 7% bagi meksiko. Namun setelah nafta berlaku, turun menjadi 4%. 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pemerintah kita sudah cukup pandai dan (seharusnya) tahu dengan keburukan perdagangan bebas yang sekarang diikuti Indonesia tanpa persiapan yang memadai. Mereka tahu bahwa industri dalam negerinya akan ambruk, sehingga kita hanya akan menjdi bangsa konsumen, bukan produsen. Kita akan selalu bergantung pada produk luar negeri dan tak punya kemandirian ekonomi. Mereka juga tahu ada jutaan pekerja kita yang terancam oleh perjanjian ini. Namun, mereka tetap bersikukuh, entah kebijakan apalagi yang akan mereka keluarkan, setelah perlahan tapi pasti mengurangi subsidi untuk kebuthan publik seperti pendidikan7, memprivatisasi dan menjual sebagian usaha milik negara, melakukan perdagan bebas yang akan menghancurkan usaha dalam negerinya sendiri, sehingga Indonesia tak lagi punya kemandirian ekonomi. Jika sudah begitu semakin mudahlah bangsan lain mendikte kita. Maka jangan heran jika negara tetangga seperti Malaysia pun kurang menghargai kita. Jangan salahkan pemerintah negara lain, tapi tunjuk pemerintah sendiri, karena pemerintahnya tak peduli pada rakyatnya sendiri. Jika memang mereka bekerja untuk rakyat (seperti slogan-slogannya) tentu bukan hal-hal ini yang terjadi. Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Majalah Mingguan Tempo, 21 Desember 2009. Dampak Pasar bebas. Yang cemas, yang siap.&lt;br /&gt;2. Majalah Mingguan Tempo, 21 Desember 2009. Dampak Pasar bebas. Yang cemas, yang siap.&lt;br /&gt;3. The World is Flat. Thomas L. Friedman. Kata pengantar : Faisal H. Basri.&lt;br /&gt;4. Post Washington Consensus dan Politk Privatisasi di Indonesia. Centre For International Relation Studies Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;5. Making Globalization Works. Joseph E. Stiglitz.&lt;br /&gt;6. Making Globalization Works. Joseph E. Stiglitz.&lt;br /&gt;7. Post Washington Consensus dan Politk Privatisasi di Indonesia. Centre For International Relation Studies Universitas Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6465477646851535246?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6465477646851535246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6465477646851535246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6465477646851535246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6465477646851535246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2010/02/lonceng-kematian-perjanjian-afta-cina.html' title='Lonceng Kematian perjanjian AFTA-Cina'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-3500251538440263693</id><published>2008-10-27T02:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T03:11:17.751-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikir-mikir'/><title type='text'>heroik</title><content type='html'>&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, gw lihat salah satu cuplikan iklan kampanyenya Obama dan McCain di TV One. Saat itu TV One membandingkan kampanye iklan TV kedua kandidat. Iklan TV Obama di visualnya memperlihatkan pribadi Obama, serta kedekatannya dengan rakyat amerika (mirip-mirip kaya iklan disinilah, meluk2 anak kecil, ngobrol sama rakyat jelata). Sedangkan McCain berbeda. Ini dia yang mau gue critain. Visualnya memperlihatkan McCain saat perang Vietnam, mulai dari foto dia ditahan sama tentara Vietkong, sampai saat pulang ke Amerika. Iklannya benar-benar mengesankan sosok McCain yang heroik banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya sosok atau citra heroik di sebagian rakyat Amerika masih laku. (Iya lah, kalau nggak mana mungkin McCain jualan iklan seperti itu?) Mungkin disebagian pikiran rakyat Amerika, mereka adalah warga negara adidaya yang merindukan sosok heroik, yang bisa melindungi Amerika serta menumpas setiap lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan di pikir setiap warga Amerika itu pasti maju pikirannya. Masih ada yang berpikir Adalah hak Amerika menjadi polisi dunia yang harus mengamankan dunia menurut versinya. Orang Arab - Islam itu teroris yang harus di tumpas. Iran adalah negara sarang teroris yang mau menguasai dunia.&lt;br /&gt;Jadi nggak usah heran kalau film-film aksi Amerika yang memperlihatkan tipikal jagoan khas Amerika (biasanya musuhnya adalah teroris Arab atau Rusia). Plotnya gampang, Jagoan, agak bandel, adik atau kerabat atau saudara atau ceweknya di bunuh, bales dendam sama teroris, lalu bertemu dengan wanita pendukung si jagoan, ML sebentar, tumpas lawan dan menang. Aksi loncat sambil menembak para gerombolan teroris, (tentu saja si jagoan tak mati, luka pun cuma gores).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal heroisme Amerika. Dampaknya adalah Kita akan selalu menyaksikan dukungan sebagian rakyat Amerika yang mendukung perang (invasi tepatnya) di Afghanistan, pendudukan di Irak. Mungkin mereka terlalu terbuai oleh bayangan akan betapa kuasanya mereka, sehingga lupa bahwa aksi heroik mereka terkadang menjadi aksi kekejaman di pihak yang berlawanan. Dan sudah tanggung jawab kita mengingatkan bahwa aksi-aksi heroik mereka adalah salah. Bukan menjadi hak mereka untuk menjadi polisi, jaksa dan hakim di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin foto dari pemenang World Press Photo of The Year 2007 bisa mengingatkan mereka betapa tentara mereka juga tersiksa. Para tentara itu belum tentu menganggap aksi penjajahan negara lain adalah aksi yang heroik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SQWTVuKn1HI/AAAAAAAAAEU/EClXszKYt5w/s1600-h/Picture+1.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SQWTVuKn1HI/AAAAAAAAAEU/EClXszKYt5w/s400/Picture+1.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261773741031412850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumber foto : worldpressphoto.org&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-3500251538440263693?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/3500251538440263693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=3500251538440263693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/3500251538440263693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/3500251538440263693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2008/10/heroik.html' title='heroik'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SQWTVuKn1HI/AAAAAAAAAEU/EClXszKYt5w/s72-c/Picture+1.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-5793742772633169436</id><published>2008-10-07T02:14:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T02:18:18.834-07:00</updated><title type='text'>Antar Mereka dan Dia</title><content type='html'>Sabtu, lalu, gue dibangunkan oleh teman. Katanya, tonton saja Metro TV. Ternyata Debat Capres Amerika, McCain Vs. Obama. Gue penasaran, katanya Obama bicara seperti Malcom X yang melegenda. Ah, masa? ternyata tidak. Tapi bukan itu maksud tulisan ini. Bukan juga mau membahas kebijakan politik, ekonomi, atau gosip tentang mereka. Pasti banyak pengamat politik kita yang lebih jago soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang melihat debat itu memasuki topik Iran. Di sinilah masalahnya.  Baik Obama ataupun McCain masing-masing memaparkan bagaimana mereka menangani Iran. Mereka bilang Iran begini, maka akan ditangani begitu. istilahnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalau dia (Iran) begini, gue gebuk dia, yang satu lagi bilang, dia begitu, bakal gue damprat dia&lt;/span&gt;. Masing-masing membicarakan Iran ini-itu. Pikiran gue cuma satu. Bagaimana rasanya jadi Iran, warga Iran, atau Ahmadinejad ya? Coba bayangkan,   di depan jutaan orang, kita di bilang biang masalah, dan di depan jutaan orang pula dua orang berdebat bagaimana menangani kita. Tapi yang paling menyesakkan kita tidak dilibatkan sama sekali. Ibaratnya kita diadili atas kesalahan kita, dan mau diputuskan hukumannya, tapi kita tidak hadir di pengadilan itu, baik untuk membela diri ataupun sekedar ditanya. Pertanyaanya, Siapakah AS itu, hingga berhak menilai, mengadili dan menghukum negara lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kita seperti dipaksa mengakui kalau AS adalah polisi dunia, berhak mengatur segalanya. Ketika mereka bilang kita salah, berarti siap-siap ia masuk ke dalam kehidupan kita. Sepertinya sudah menjadi hukum alam. Pantaslah kalau Ahmadinejad berteriak-teriak, mencak-mencak terhadap Amerika dan sekutunya. Bagaimana tidak, negaranya dinilai, diadili bahkan diberi sanksi tanpa ia dilibatkan.  Negaranya jadi bahan kecaman dua kandidat yang berkampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ada apa dibenak jutaan orang lainnya. Yang jelas, wajar kalau Ahmadinejad mencak-mencak, Hugo Chavez memaki-maki, Eco Morales mengecam. Kita? Presiden kita? Sudah untung ia tidak ikut-ikutan mau "tampil" dalam debat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, Obama itu buat gue lebih baik dari McCain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;but he's just another prick on the wall.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-5793742772633169436?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/5793742772633169436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=5793742772633169436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5793742772633169436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5793742772633169436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2008/10/antar-mereka-dan-dia.html' title='Antar Mereka dan Dia'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-4977680489544956476</id><published>2008-10-07T01:45:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T01:52:31.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Film : The Assasination of Jesse James, By The Coward Robert Ford</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Assasination of Jesse James, By The Coward Robert Ford&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Casey Affleck. Brad Pitt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOsiL0-y5LI/AAAAAAAAAD8/4E4-Bf2RBxY/s1600-h/the-assassination-of-jesse-james.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 148px; height: 223px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOsiL0-y5LI/AAAAAAAAAD8/4E4-Bf2RBxY/s400/the-assassination-of-jesse-james.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254330976853746866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini Film koboy, Ya. Ini adalah fim yang isinya cuma dar-der-dor, salah besar. Justru minim tembak-tembakan. Buat gue ini film tentang kejiwaan. Lho? Ya, karena di film ini kita akan di suguhkan kondisi kejiwaan orang yang ketakukan, panik. Ceritanya Jesse James adalah garong kesohor di amerika jaman koboy. Terlalu sulit di ringkus aparat. akhirnya aparat mencari gerombolan dari Jesse James yang bisa dijadikan pengkhianat untuk meringkus (membunuh pun sudah bagus) Jesse James. Muncul nama Robert Ford. Dialah di pengkhianat itu. Ironisnya justru Robert Ford adalah penggemar berat Jesse James sejak kecil. Masalahnya muncul ketika Jesse James tahu bahwa ia sedang di khianati. Satu per satu ia mencurigai gerombolannya sendiri. Robert Ford panik setengah mati. Ia ketakutan di bunuh Jesse James.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana sisi kejiwaannya? Di hampir seluruh filmnya. Ekspresi dari Jesse James yang lepas kendali karena tahu ia di khianati. Ekspresi ketakutan dan mohon ampun dari teman-temannya Jesse James. Dan yang paling dahsyat, ekspresi ketakutan, panik, seorang penghianat yang takut ketahuan kedoknya. Terakhir, bagaimana dampak psikologis sebuah pengkhianatan bagi si pengkhianat. Walaupun tempo film ini berjalan lambat (menurut gue), tapi akting Dahsyat mampus Casey Afleck sebagai Robert Ford benar-benar luar biasa. Melampaui si Jesse James-nya sendiri. Oh iya, omong-omong, Jesse James nya adalah Brad Pitt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponten : 7,5.  Casey Affleck : 9.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-4977680489544956476?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/4977680489544956476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=4977680489544956476' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/4977680489544956476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/4977680489544956476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2008/10/film-assasination-of-jesse-james-by.html' title='Film : The Assasination of Jesse James, By The Coward Robert Ford'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOsiL0-y5LI/AAAAAAAAAD8/4E4-Bf2RBxY/s72-c/the-assassination-of-jesse-james.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1438497822767440500</id><published>2008-10-07T01:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T02:14:22.166-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Film : The Great Debaters</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;The Assasination of Jesse James, By The Coward Robert Ford&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Denzel Washington&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOshNsHKFsI/AAAAAAAAAD0/iSiLwbN71Og/s1600-h/tgd_finial-%282%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 155px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOshNsHKFsI/AAAAAAAAAD0/iSiLwbN71Og/s400/tgd_finial-%282%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254329909321012930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Film ini bercerita tentang Melvin Tolson (Denzel Washington), profesor di Wiley College Texas, yang membentuk sebuah tim debat sekolah. Settingnya di 1935, jaman si saat rasisme masih merajalela di Amerika. Tim Debat bentukan Melvin Tolson ini bukan saja harus mengasah kemampuan mereka tapi juga harus berjuang melawan diskriminasi di masyarakatnya. Walaupun begitu mereka berhasil memenangkan lomba demi lomba, bahkan pada akhirnya mereka harus berhadapan dengan tim debat dari Harvard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang benar-benar bermutu. Jangan lihat dari berapa nominasi penghargaan yang diraih film ini. Jangan lihat karena Oprah Winfrey produsernya. Jangan bengong dengan akting dahsyat Denzel Wahsington yang benar-benar terasa seperti guru debat (jangankan jadi guru debat, berperan jadi Malcolm X saja Denzel benar-benar mampu menguasainya!), di tambah lagi kisah yang (tak habis-habisnya) tentang perilaku rasis kulit putih Amerika. Lihat saja filmnya. Benar-benar film yang harus di tonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponten : 8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1438497822767440500?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1438497822767440500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1438497822767440500' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1438497822767440500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1438497822767440500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2008/10/great-debaters.html' title='Film : The Great Debaters'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KekTkgZveso/SOshNsHKFsI/AAAAAAAAAD0/iSiLwbN71Og/s72-c/tgd_finial-%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-7628317091600395650</id><published>2007-08-21T01:47:00.000-07:00</published><updated>2007-08-21T01:59:21.880-07:00</updated><title type='text'>Harry A Poeze : 36 Tahun Berburu Jejak Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RsqnJoZNecI/AAAAAAAAACc/EAmYBz5sK6o/s1600-h/harry%2Bpoeze.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RsqnJoZNecI/AAAAAAAAACc/EAmYBz5sK6o/s320/harry%2Bpoeze.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101073311854328258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia mendedikasikan 36 tahun lebih sejak tahun 1971 untuk menguak perjuangan dan kematian Tan Malaka. Itulah pengabdian seorang Harry A Poeze (60), Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV di Leiden. Karya penelitian Poeze tentang babak akhir hidup Tan Malaka akhirnya tuntas Maret 2007 melalui penerbitan buku Tan Malaka: Verguisd en Vergeten (Tan Malaka: Dihujat dan Dilupakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari rasa ingin tahu saat dia masih menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah di Amsterdam Universiteit, Belanda, Poeze terpikat pada sejarah peralihan dari abad ke-19 ke abad ke-20 yang penuh eksotisme Hindia Belanda. Itulah masa yang jadi inspirasi penulis besar, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Rob Nieuwenhuis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindia Belanda kala itu berada dalam pengaruh kuat "Politik Etis" dan mempersiapkan putra-putra penggagas bangsa bernama Indonesia. Dia pun terpikat pada sebuah nama: Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama besar Tan Malaka berulang kali muncul dalam karya-karya ilmuwan Amerika Serikat (AS), Ruth McVey, tentang kelahiran komunis di Indonesia. Rasa penasaran Poeze membawa dia pada awal penelitian mendatangi bekas sekolah dan rumah Tan Malaka di Haarlem, tak jauh dari Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 1971 saya bertemu dengan 12 teman sekolah Tan Malaka yang masih hidup. Mereka sama-sama menempuh pendidikan guru (Kweek School) di Haarlem. Begitu dalam kesan yang ditinggalkan Tan Malaka. Bahkan, dokumentasi surat-surat dua guru dia di Sekolah Fort De Kock di Bukit Tinggi, yang memberi rekomendasi dan dukungan, masih terekam baik di Haarlem," cerita Poeze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka memang amat pandai karena dialah satu-satunya siswa kulit berwarna di Kweek School yang ditempuhnya tahun 1913-1919. Masa Perang Dunia pertama ia lalui di Belanda. Bahkan, setelah dia lulus, direktur Kweek School ketika itu khusus meminta warga Belanda di Sumatera Utara memperlakukan Tan Malaka sebagai orang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Che Guevara Asia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran awal itu menjadi dasar skripsi Poeze. Materi itu juga menjadi bahan penulisan buku Dari Penjara ke Penjara. Poeze lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 hingga S-3. Tan Malaka, yang menurut Poeze adalah "Che Guevara Asia", menjadi obyek penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran lebih lanjut dilakukannya di Eropa, Asia, Australia, dan AS. Arsip di Moskwa, Uni Soviet, pelbagai kota di Australia seperti Sydney dan Canberra, serta Washington DC, AS, jadi sumber penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsip Tan Malaka sebagai salah satu tokoh penting tercatat baik di AS dan Australia karena dua negara tersebut menjadi mediator perundingan Belanda-Indonesia pada pascakemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan disertasi tahun 1976, Poeze mengunjungi Indonesia dan membangun kontak di Jakarta. Namun, misteri Tan Malaka pasca-Proklamasi 1945 masih tertutup kabut gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas muncul tahun 1980 ketika Poeze bertemu dengan Hasan Sastraatmadja, mantan Sekretaris Tan Malaka, yang dengan antusias membuka pintu bagi penelitian Poeze. Hasan yang bermukim di Jakarta itu lalu memperkenalkan Poeze dengan sejumlah lawan maupun kawan Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai tokoh, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX hingga Wakil Presiden Adam Malik ditemui Poeze. Adam Malik secara terbuka mendukung ide kerakyatan Tan Malaka, meski dia berdiri di kubu Golongan Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan dia dengan para tokoh 1945 berlanjut, antara lain dengan Jenderal Abdul Harris Nasution, Muhamad Natsir (tokoh Masjumi), SK Trimurti, tokoh pemberontakan Madiun tahun 1948 Sumarsono, serta ratusan tokoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesibukan dan tuntutan kerja menghadang upaya penulisan buku pada tahun 1981, saat Poeze ditunjuk menjadi Direktur Penerbitan KITLV Press. Meskipun demikian, dia selalu menyempatkan diri kembali ke Indonesia untuk mengumpulkan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Gunung Wilis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan menuntaskan misteri Tan Malaka datang tahun 1997 saat Poeze mendapat sabbathical leave selama setahun, yang digunakan untuk menulis buku. Bab I, Tan Malaka Verguisd en Vergeten ternyata memerlukan waktu sepuluh tahun untuk diselesaikan, setebal 2.200 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poeze menemui pula tokoh-tokoh pada hari-hari terakhir Tan Malaka. Dia berkeliling ke beberapa pedesaan di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur, tempat Tan Malaka bergerilya melawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napak tilas ditempuhnya di Desa Belimbing yang menjadi markas dan pusat propaganda Tan Malaka bersama 50 anak buahnya. Desa Patje, tempat Tan Malaka ditahan pasukan Divisi Brawijaya pun dia sambangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat terakhir, Desa Selo Panggung, yang menjadi puncak riset Poeze adalah tempat Tan Malaka ditembak mati pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo. Tan Malaka tewas pada 21 Februari 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan, tubuhnya tak diperlakukan layak. Untung Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah berjanji mengirim tim forensik ke Desa Selo Panggung untuk mencari sisa jenazah Tan Malaka. Beliau bernasib tragis sebagai pahlawan nasional yang namanya timbul-tenggelam dalam sejarah, karena keberadaan dia tergantung pada kepentingan penguasa," tutur Poeze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta sejarah itu dipersembahkan Poeze untuk masyarakat Indonesia lewat buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sebanyak enam jilid. Buku tersebut akan diluncurkan akhir tahun ini. Bagi Poeze, Tan Malaka adalah sosok pemimpin kerakyatan yang ideal bagi generasi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta yang ditinggalkannya hanya sepasang kemeja, topi, celana, tongkat, pensil, dan buku tulis—benda yang menjadi andalan baginya untuk menulis sejarah. Tan Malaka membuktikan harta terbesar sebuah bangsa adalah kekayaan pemikiran yang disajikan lewat guratan pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian Kompas Senin, 13 Agustus 2007 - di comot dari indonesia buku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-7628317091600395650?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/7628317091600395650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=7628317091600395650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/7628317091600395650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/7628317091600395650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/08/harry-poeze-36-tahun-berburu-jejak-tan.html' title='Harry A Poeze : 36 Tahun Berburu Jejak Tan Malaka'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RsqnJoZNecI/AAAAAAAAACc/EAmYBz5sK6o/s72-c/harry%2Bpoeze.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1904751702640371724</id><published>2007-07-31T20:01:00.000-07:00</published><updated>2007-07-31T20:05:45.270-07:00</updated><title type='text'>Kejahatan Korporasi Aqua</title><content type='html'>haduh..abis baca ini gue semakin sedih..kebutuhan kita akan air semakin besar dan banyak, tapi justru sumber2 air hanya dikuasai segelintir orang, demi kekayaannya sendiri...kenapa manusia tega menyengsarakan manusia lainnya hanya demi kerakusannya akan harta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang aja gue udah berasa berat buat bayar air PAM yang sebulannya sekitar 120 ribuan...huh (keluh...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayo dong teman-teman...peduli dong...&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;dari apokalips.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan Korporasi Aqua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Used to be free&lt;br /&gt;Now it cost you a fee&lt;br /&gt;‘cause it’s all about&lt;br /&gt;getting that cash money&lt;br /&gt;-Mos Def, New World Water&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak kenal dengan merk dagang Aqua? Sangking terkenalnya, nama Aqua kini telah menjadi semacam nama generik dari produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) serupa di Indonesia. Coba perhatikan sekitar kita, berapa banyak orang yang kita temui menyebut nama Aqua saat mereka hendak membeli AMDK di warung atau toko? Dan perhatikan juga, jarang sekali ada pembeli yang protes saat mereka diberi VIT, RON 88 atau ADES oleh si penjual walaupun sebelumnya mereka meminta “Beli Aqua satu..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu mungkin sekali terjadi karena Aqua adalah pelopor bisnis AMDK dan menjadi produsen AMDK terbesar di Indonesia. Bahkan pangsa pasarnya sendiri saat ini sudah meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah dan Afrika. Di Indonesia sendiri mereka menguasai 80 persen penjualan AMDK dalam kemasan galon. Sedangkan untuk keseluruhan market share AMDK di Indonesia, Aqua menguasai 50% pasar. Saat ini Aqua memiliki 14 pabrik yang tersebar di Jawa dan Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produsen AMDK Aqua, PT. Golden Mississippi (kemudian bernama PT Aqua Golden Mississippi) yang bernaung di bawah PT. Tirta Investama (selanjutnya, dalam tulisan ini akan disebut sebagai Aqua saja, untuk mewakili korporasi produsen AMDK tersebut), didirikan pada 23 Februari 1973 oleh Tirto Utomo (1930-1994). Pabrik pertamanya didirikan di Bekasi. Sejak saat itu, orang Indonesia mulai mengubah salah satu kebiasaannya secara mendasar dengan membiasakan diri mengkonsumsi AMDK, membeli air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danone, sebuah korporasi multinasional asal Perancis, berambisi untuk memimpin pasar global lewat tiga bisnis intinya, yaitu: dairy products, AMDK dan biskuit. Untuk dairy products, kini Danone menempati posisi nomor satu di dunia dengan penguasaan pasar sebesar 15%. Adapun untuk produk AMDK, Danone juga mengklaim telah menempati peringkat pertama dunia lewat merek Evian, Volvic, dan Badoit. Untuk bisa mempertahankan diri sebagai produsen AMDK nomor satu dunia, Danone tentu saja harus berjuang keras menahan gempuran Coca-Cola dan Nestle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah kekuatannya, Danone mulai memasuki pasar Asia, dan mengambil alih dua perusahaan AMDK di Cina. Menyadari kekuatan kecil Aqua yang belum terjamah oleh Coca-cola atau korporasi lainnya, Danone buru-buru mendekati Aqua. Akhirnya, pada tanggal 4 September 1998, Aqua secara resmi mengumumkan “penyatuan” kedua perusahaan tersebut dan bertepatan dengan pergantian milenium, pada tahun 2000 Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua. Pada tahun 2001, Danone meningkatkan kepemilikan saham di PT. Tirta Investama dari 40% menjadi 74%, sehingga Danone kemudian menjadi pemegang saham mayoritas Grup Aqua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pertanyaannya adalah, datang dari manakah air bersih yang dijual oleh Aqua sehingga sekarang manusia perlu membayar hanya untuk mendapatkan air bersih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dari Sekitar Sumber Mata Air&lt;br /&gt;Salah satu dari sekian banyak mata air yang dieksploitasi dan disedot habis-habisan oleh Aqua hingga hari ini adalah mata air Kubang yang terletak di kampung Kubang Jaya, desa Babakan Pari yang berada di kaki gunung Salak, Sukabumi bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber mata air di Kubang mulai dieksploitasi oleh Aqua sejak sekitar tahun 1992-an. Kawasan mata air Kubang yang sebelumnya merupakan kawasan pertanian, kemudian oleh Aqua diubah menjadi kawasan seperti hutan yang tidak boleh digarap oleh warga setempat. Sekeliling kawasan mata air Kubang dipagari tembok oleh Aqua dan dijaga ketat oleh petugas keamanan sewaan selama 24 jam penuh setiap harinya. Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan tersebut tanpa surat ijin yang ditandatangani langsung oleh pimpinan kantor pusat Aqua Grup di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya air yang dieksploitasi oleh Aqua adalah air permukaan, yaitu air yang keluar secara langsung dari mata air tanpa dibor. Namun pada tahun 1994, Aqua mulai mengeksploitasi air bawah tanah dengan cara menggali jalur air dengan mesin bor bertekanan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak air di mata air Kubang disedot secara besar-besaran oleh Aqua, banyak perubahan yang dirasakan oleh warga sekitar. Yang paling terasa adalah menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air di desa, dan ini berdampak buruk pada kehidupan warga desa itu sendiri. Penurunan daya dukung air ini tampak dari mulai munculnya masalah-masalah terkait dengan pemanfaatan sumber daya air di tingkat komunitas sejak sumber mata air Kubang dikuasai oleh Aqua. Salah satu masalahnya adalah kurangnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari termasuk air untuk minum, memasak, mencuci, mandi dan lain-lain. Masalah ini dapat dilihat dari keadaan-keadaan sumur-sumur milik warga yang menjadi sumber pemenuhan akan kebutuhan air bersih sehari-hari. Sekarang, tinggi muka air sumur milik kebanyakan warga maksimal hanya tinggal sejengkal saja atau sekitar 15 cm. Bahkan beberapa sumur sudah menjadi kering samasekali. Padahal sebelum Aqua menguasai air di sana, tinggi muka air sumur biasanya mencapai 1-2 meter. Dulu, hanya dengan menggali sumur sedalam 8-10 meter saja, kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah sangat terpenuhi. Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17 meter untuk mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin pompa untuk menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali sedot menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja dan setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung, apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak membuat air sumur menjadi kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lainnya lagi adalah, kurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi pertanian. Masalah ini dialami oleh para petani dari hampir semua kampung di kawasan desa Babakan pari. Saat ini para petani di beberapa kampung tersebut saling berebut air karena ketersediaan air yang sangat kurang. Bahkan beberapa sawah tidak kebagian air dan mengandalkan air dari air hujan saja. Akibatnya, banyak sawah kekeringan pada musim kemarau dan tentu saja hal ini menimbulkan masalah perekonomian yang cukup serius bagi para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga terjadi di Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Aqua mengeksploitasi air secara besar-besaran dari tengah sumber mata air di Kabupaten Klaten sejak 2002. Sama dengan apa yang terjadi di desa Babakan Pari, mayoritas penduduk di daerah tersebut juga menopang kehidupannya dari pertanian. Karena debit air menurun sangat drastis sejak Aqua beroperasi di sana, sekarang para petani terpaksa harus menyewa pompa untuk memenuhi kebutuhan irigasi sawahnya. Untuk kebutuhan sehari-hari, penduduk harus membeli air dari tangki air dengan harga mahal karena sumur-sumur mereka sudah mulai kering akibat “pompanisasi” besar-besaran yang dilakukan oleh Aqua. Hal ini sangat ironis mengingat Kabupaten Klaten merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya air. Di satu Kabupaten ini saja sudah terdapat 150-an mata air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqua memiliki izin untuk mengambil air sebanyak 18 liter per detik melalui sumur bor di dekat mata air Sigedang, yang juga merupakan air sumber irigasi untuk lahan pertanian di lima kecamatan. Ironisnya, saat kurangnya air irigasi ini memicu konflik di antara petani itu sendiri dalam soal perebutan sumber air yang semakin mengering demi sawah-sawah mereka, Aqua malah mengajukan permintaan menaikkan debit dari 18 liter menjadi 60 liter per detik. Salah satu hal yang juga menjelaskan mengapa ide swasembada pangan semakin menjadi angan-angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini Grup Aqua memiliki 10 sumber mata air di: (1) Berastagi, Sumut, (2) Lampung (Jabung dan Umbul Cancau), (3) Mekarsari, Sukabumi (Kubang), (4) Subang (Cipondoh), (5) Wonosobo (Mangli), (6) Klaten (Sigedang), (7) Pandaan, Jatim, (8) Kebon Candi, Jatim, (9) Mambal, Bali dan (10) Menado (Airmadidi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, selain Aqua, terdapat 246 perusahaan AMDK yang beroperasi di Indonesia. Produksi AMDK amat boros air. Menurut catatan ASPADIN (Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia), perusahaan AMDK di seluruh Indonesia setiap tahun membutuhkan sekitar 11,5 miliar liter air bersih, namun yang pada akhirnya menjadi produk AMDK hanya sebanyak 7,5 miliar liter per tahun. Sisanya, 4 miliar liter air bersih, terbuang percuma untuk proses pencucian dan pemurnian air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan yang Terlupakan di Balik Legalitas&lt;br /&gt;Seperti sayur-sayuran, air yang merupakan sebuah produk alam, keluar dari muka bumi secara gratis dan tentu saja bukanlah “milik” siapapun. Sama seperti oksigen, seharusnya siapapun dapat mengakses air bersih. Apa yang terjadi di desa Babakan Pari dan Kabupaten Klaten tadi adalah contoh kecil bagaimana korporasi menguasai apa yang sudah seharusnya dapat diakses oleh semua orang, dan lalu menjualnya kembali kepada semua orang. Air bersih yang keluar dari muka bumi diklaim sebagai “milik” sebagian individu saja melalui jalur legal, disedot, disuling, dan dikemas oleh korporasi lalu ditenteng, dijajakan, diperiklankan, dan dijualbelikan kepada semua orang—karena semua orang membutuhkan air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian, ketersediaan air tawar saat ini kurang dari 1,5% dari seluruh air di muka bumi. Saban dua dasawarsa, kebutuhan umat manusia akan air tawar meningkat dua kali lipat. Angka itu dua kali lebih besar daripada tingkat pertumbuhan penduduk. Apabila kecenderungan ini berlangsung terus, pada tahun 2025 permintaan akan air tawar diduga meningkat sebesar 56% melebihi yang tersedia saat ini. Kita dapat bayangkan sendiri apa yang akan terjadi apabila masa tersebut tiba sementara air bersih dikuasai oleh beberapa individu saja melalui korporasi-korporasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh produsen AMDK seperti Aqua adalah sebuah bentuk “kejahatan legal”. Legal, karena hukum dan masyarakat mengakui bahwa Aqua “berhak” atas air yang keluar dari muka bumi secara gratis untuk menjadi “milik” mereka, karena mereka lalu memproduksinya secara “legal” serta menperjualbelikannya, dan semua itu dilakukan di bawah lindungan hukum. Artinya tidak melanggar hukum. Tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, legalitas dan hukum adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia, dan selalu ada kepentingan tertentu di balik apapun yang diciptakan manusia. Hukum memang diciptakan untuk melindungi kepentingan mereka yang mampu menciptakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebijakan neo-liberalisme, pengambilalihan sumber daya air ini adalah hasil diterapkannya praktek privatisasi. Gagasan privatisasi terhadap sumber daya air ini diajukan terutama oleh Bank Dunia dan IMF, tentu saja dengan dukungan korporasi-korporasi multinasional di baliknya. Privatisasi sumber daya air di banyak negara dilakukan untuk memenuhi persyaratan IMF dan Bank Dunia ketika memberikan pinjaman kepada negara tersebut (lihat artikel mengenai IMF di jurnal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini “hanya” air, tanah, api, dan udara yang bersih, suatu ketika mungkin akan sampai satu masa di mana bahkan sinar mataharipun menjadi barang dagangan dan tak tersisa sedikitpun hasil dari bumi ini yang bisa kita rasakan manfaatnya tanpa mengeluarkan uang. Masalahnya, tidak semua orang memiliki uang yang cukup, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan bertahan hidup. Dan ini semua tampak tidak seperti sebuah kejahatan, karena hukum melindungi dan melegalisir semua hal tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1904751702640371724?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1904751702640371724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1904751702640371724' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1904751702640371724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1904751702640371724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/07/kejahatan-korporasi-aqua.html' title='Kejahatan Korporasi Aqua'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6969743484857423437</id><published>2007-07-27T01:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T01:25:41.311-07:00</updated><title type='text'>Kematian Tan Malaka Terungkap</title><content type='html'>Berita yang baru saja gue baca, Jumat, 27 Juli 2007, pukul 15.13 di kompas.com. Berita menyedihkan skaligus melegakan. Akhirnya, kematian Tan Malaka Terungkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka di bunuh oleh bangsa sendiri (lagi-lagi militer..) Oleh Letnan Dua Sukotjo dari Batalyon Sikatan, Bagian divisi Brawijaya pada tanggal 21 Februari 1949, di Desa Selo Panggung, Kaki Gunung Wilis, Jatim. Eksekusi terjadi selepas agresi militer Belanda ke 2. Ekskusi berdasarkan Perintah Pangdam Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade Soerahmat. Petinggi Militer menganggap seuran Tan Malaka bahwa Penahanan Soekarno dan Hatta menciptakan kekosongan kepemimpinan serta menganggap enggannya militer untuk bergeriliya, dinilai petinggi militer berbahaya. Perlu diketahui Sukotjo ini pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya (sekali lagi kehebatan orde baru, yang mengangkat pembunuh sebagai pejabat negara...). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka pernah dipersiapkan Soekarno pada tahun 1945 untuk memimpin Indonesia jika sang proklamator dalam keadaan berbahaya sehingga tidak mampu bertugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada Harry A Poeze yang telah meneliti Tentang Tan Malaka dari tahun 1980-an..(lagi2 bukan bangsa indonesia sendiri yang menghargai pahlawannya..)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6969743484857423437?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6969743484857423437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6969743484857423437' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6969743484857423437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6969743484857423437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/07/tan-malaka-terungkap.html' title='Kematian Tan Malaka Terungkap'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-656027494480677151</id><published>2007-06-25T22:55:00.000-07:00</published><updated>2007-06-25T23:04:39.345-07:00</updated><title type='text'>Imperealism - Che (1965)</title><content type='html'>Pidato luar biasa Che di sidang PBB 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/5vQfw--NYuw"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/5vQfw--NYuw" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-656027494480677151?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/656027494480677151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=656027494480677151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/656027494480677151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/656027494480677151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/06/imperealism-che-1965.html' title='Imperealism - Che (1965)'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1208148398946906465</id><published>2007-06-14T03:45:00.000-07:00</published><updated>2007-06-14T04:29:25.143-07:00</updated><title type='text'>Hitler dan Guevara</title><content type='html'>Ada dua buku yang gue baca terakhir yang pertama biografinya Che Guevara – Hidup cinta dan kematian Che Guevara, penulisnya Jorge Castenada. Penerbitnya Pustaka Promethea. GUe rasa kita akan sulit menemukan buku in di took buku besar macam Gramedia atau Gunung Agung. Seperti biasa, buku terbitan Jogja emang sulit menembus jaringan took bukui besar. Gue sendiri juga heran, padahal penerbit jogja banyak nerbitin buku-buku bermutu. Buku berikutnya Perang Eropa-nya PK Ojong edisi 1,2, dan 3. Komentar setelah membacanya? LUAR BIASA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/RnEmg_00sHI/AAAAAAAAABk/44D6vIgaFKM/s1600-h/che-guevara-habano.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/RnEmg_00sHI/AAAAAAAAABk/44D6vIgaFKM/s320/che-guevara-habano.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075880603353919602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;commandante ernesto guevara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang buku Che Guevara, Hidup, Cinta dan Kematian, buku ini gak seperti buku biografi che yang lain (tipis) buku ini lumayan tebel, enam ratusan halaman. Bukan apa-apa, buku- tipis kaya gitu gue udah agak2 males. Isinya Cuma sedikit, sekena-nya aja. Apalagi kalau untuk biografi, gue jamin, ga akan memberikan gambaran yang jelas. Dulu gue pernah baca biografi Che yang versi buku tipis-tipis, mengecewakan. Ga jelas siapa Che itu, isinya Cuma meng-agung-agungkan Che, tanpa kita tahu minimal sedikit dari gambaran pemikirannya. Nah, makanya gue beli buku Che ini. Sukurlah, si penulis merupakan orang yang cukup objektif dan sumber-sumbernya jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue ga bakal bercerita siapa Che itu, banyak sumbernya, search aja di Google. Di buku ini diceritakan keadaan keluarga Che, masa kecilnya, masa muda, siapa wanita-wanita yang pernah dekat dengannya, saat-saat dia mulai jadi geriliyawan, pemikirannya, masa –masa jayanya hingga saat-saat menjelang kematiannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut gue, setelah membaca kisahnya, Che adalah seorang pejuang anti kolonialisme, anti imperialisme sejati,  dengan caranya sendiri, geriliyawan sejati, orang yang keras pendiriannya juga. Saat berkesan buat gue adalah saat Che berpidato mewakili Kuba (warga Negara Argentina tapi jadi menteri di Kuba, hebat Euy!) di siding umum PBB. Di situ dia berpidato keras menentang imperialisme. Ternyata gue menemukan rekaman pidatonya tersebut di Youtube. Buat yang mau, ini URL nya : http://www.youtube.com/watch?v=5vQfw--NYuw. Luas biasa!Mirip pidatonya Hugo Chavez kemaren di siding DK PBB. Yang tragis ialah bagaimana pada masa akhir hidupnya dia berjuang sendirian dan ditinggalkan teman-temannya, anak buahnya…. Yang pasti menurut gue kok kisahnya sedikit mirip dengan Tan Malaka ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran gue, sebelum make-make kaos nya Che, cari tahu dulu siapa CHE!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/RnEdb_00sGI/AAAAAAAAABc/SGQkzKYlJOs/s1600-h/hitler.gif"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/RnEdb_00sGI/AAAAAAAAABc/SGQkzKYlJOs/s320/hitler.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075870621849923682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;der fuhrer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia buku pegangan wajib yang suka sejarah, yang suka HItler, ato yang pengen belajar dari kejadian penting. PERANG EROPA. Salut untuk PK Ojong yang udah nulis buku ini. Baca buku ini serasa hidup di jaman itu. PK Ojong pun mencerita kannya dengan ringan. Udahlah…baca aja sendiri!gue kasih ponten seratus buat buku ini!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1208148398946906465?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1208148398946906465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1208148398946906465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1208148398946906465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1208148398946906465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/06/hitler-dan-guevara.html' title='Hitler dan Guevara'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/RnEmg_00sHI/AAAAAAAAABk/44D6vIgaFKM/s72-c/che-guevara-habano.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-5366714491546064336</id><published>2007-05-21T03:18:00.000-07:00</published><updated>2007-05-21T03:30:34.115-07:00</updated><title type='text'>"New Rulers of The World" membuka mata saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RlF0dCAofYI/AAAAAAAAAA8/9BCXn8Ng32s/s1600-h/newrulersoftheworld.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RlF0dCAofYI/AAAAAAAAAA8/9BCXn8Ng32s/s320/newrulersoftheworld.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066959097873071490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru aja hari sabtu kemaren gue nonton film dokumenter yang membuat hati gue menjadi sesak. Miris tepatnya.&lt;br /&gt;Ini adalah film dokumenter kedua yang gue tonton yang menceritakan suatu masalah, yang contoh kasusnya adalah negara gue sendiri, Indonesia.&lt;br /&gt;Dokumenter pertama yang gue tonton adalah film tentang fotografe perang, James Nachtway-War Photographer.James memotret kehidupan kaum miskin di Jakarta dan suasaan pemilu 1999.&lt;br /&gt;Dokumenter kedua, yang gue tonton kemaren, adalah hasil download temen gue yang baik hati hario dari youtoube. Judulnya "New Rulers of The World". Dokumenter hasil jurnalis Inggris, yang bercerita tentang dampak globalisasi, khususnya ekonomi neo liberlisme yang dijalankan oleh WTO dan IMF. &lt;br /&gt;Untuk yang mau sadar, dan mau melihat realita yang ada tentang keadaan negara kita yang sebenarnya, film ini sangat gue rekomendasikan. Kebetulan lagi jalan-jalan di dunia maya, gue menemukan website tentang gerakan melawan penjajahan era baru, neo liberalisme. buka aja, www.apokalips.org. Di situs ini ada resensi filmnya.&lt;br /&gt;gue copy resensi tentang film ini ("New Rulers of The World") di bawah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"New Rulers of The World"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genre  : Film Dokumenter&lt;br /&gt;Penulis  : John Pilger&lt;br /&gt;Sutradara : Alan Lowery&lt;br /&gt;Produksi  : Carlton International Media Ltd.&lt;br /&gt;Narator  : John Pilger&lt;br /&gt;Format  : VCD&lt;br /&gt;Runtime : 53 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila negara dunia pertama adalah negara yang memiliki modal dan menguasai teknologi tetapi miskin sumber daya alam, sedangkan negara dunia ketiga adalah negara yang memiliki sumber daya alam tetapi tidak memiliki modal dan teknologi, maka akan terjadi pengintegrasian dari perekonomian nasional menjadi sebuah sistem ekonomi global yang dilakukan oleh negara dunia pertama. Aliran modal, teknologi, tenaga kerja hingga komoditas akan bebas bergerak melampaui batas negara. Pergerakan itu disebut sebagai sebuah proses dari globalisasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Film dokumenter karya John Pilger ini memaparkan bagaimana dampak globalisasi terhadap negara dunia ketiga yang bagi para penganutnya diyakini akan menciptakan kesejahteraan yang merata dan mengurangi pengangguran. Tetapi apa yang terjadi di banyak negara dan khususnya Indonesia tidak seperti itu. Globalisasi malah mempercepat proses pemiskinan dan menciptakan banyak penindasan. Film ini memperlihatkan bagaimana kondisi buruh yang bekerja di pabrik-pabrik perusahaan multinasional seperti Nike dan GAP dengan upah yang rendah, jam kerja yang tidak teratur, dan kondisi tempat kerja yang mengenaskan, dipaksa untuk terus bekerja dan seakan tidak punya pilihan lain selain terus melakukan apa yang diperintahkan oleh bos-bos pabrik. Dalam film ini diperlihatkan juga bagaimana kondisi tempat tinggal para buruh yang bisa dikatakan kumuh, dan bagaimana mereka menyiasati upah mereka agar mencukupi kebutuhan keluarganya dengan cara mengurangi porsi makan dan tingkat gizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini sedikit berbeda dengan film-film sejenis yang pernah saya tonton. John Pilger dengan berani menyusup membawa kamera tersembunyi ke dalam beberapa pabrik yang memproduksi merk-merk terkenal seperti Nike, Reebok, Adidas dan GAP dengan cara menyamar sebagai pembeli. Terdapat lebih dari 1000 pekerja dalam ruangan tanpa AC itu, menjadi tampak sesak dan sangat tidak kondusif. Selain kondisi kerja, jam kerja pun akan menjadi mimpi buruk para buruh apabila mendadak ada pesanan untuk ekspor. Para buruh dipaksa untuk bekerja selama 16 jam dalam kondisi berdiri. Selain mewawancarai beberapa buruh pabrik untuk mengetahui memang telah terjadi proses kerja yang tidak wajar, ada juga pernyataan dari Dita Sari, seorang mantan tapol dan pemimpin buruh di FNBI yang membenarkan bahwa kondisi buruh Indonesia memang memprihatinkan, yang akan melakukan kerja apapun dengan upah yang rendah karena terlalu banyaknya pengangguran.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada bagian lain, John Pilger sengaja mendatangi Nicholas Stern, pimpinan ekonom dari Bank Dunia untuk melakukan wawancara mengenai bagaimana proses terjadinya utang luar negeri yang berasal dari pinjaman Bank dunia kepada Indonesia dan hubungannya dengan pembantaian yang dilakukan oleh rezim orde baru demi terlaksananya proses globalisasi. Pada bagian ini bisa dilihat bahwa apa yang diramalkan para penganut globalisasi mengenai kesejahteraan itu salah. Pada kenyataannya, globalisasi malah memperjelas bagaimana proses pemiskinan terjadi melalui penghapusan subsidi beberapa sektor pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan. Selain itu, John Pilger juga melakukan wawancara kepada Stanley Fischer, wakil direktur IMF. Pilger mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan dihapuskannya hutang yang sangat diharapkan oleh 17 juta orang Indonesia itu dan diperkirakan dapat mengurangi kemiskinan. Sekali lagi, terungkap bahwa melalui rezim yang berkuasa, globalisasi yang didukung oleh lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia banyak menciptakan pelanggaran seperti diskriminasi terhadap hak asasi manusia dan pencabutan subsidi tarif dasar listrik dan bahan bakar minyak yang akan semakin mempercepat proses pemiskinan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Film ini di tutup oleh liputan aksi dari gerakan anti globalisasi di seattle untuk menghambat pertemuan World Trade Organization (WTO), dan aksi mayday di London yang bagi Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang sekaligus pimpinan partai buruh, disebut sebagai aksi turun ke jalan untuk “tujuan Palsu”. Gelombang menentang globalisasi yang tidak pernah diberitakan oleh media massa telah terjadi di banyak negara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhir kata, film ini mengenaskan sekaligus mendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini link buat yg pengen download filmnya di youtube :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 1 http://www.youtube. com/watch? v=8firb73r67g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 2 http://www.youtube. com/watch? v=kYaDY-xTzZ0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 3 http://www.youtube. com/watch? v=4se4jYI9KAc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 4 http://www.youtube. com/watch? v=4se4jYI9KAc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 5 http://www.youtube. com/watch? v=h0tIB9m_ BBg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 6 http://www.youtube. com/watch? v=Yf2CSUoxyOk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Part 7 http://www.youtube. com/watch? v=BUmyevPS2cY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please watch this film guys!!for the sake of our future&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-5366714491546064336?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/5366714491546064336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=5366714491546064336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5366714491546064336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/5366714491546064336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/05/new-rulers-of-world-membuka-mata-saya.html' title='&quot;New Rulers of The World&quot; membuka mata saya'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_KekTkgZveso/RlF0dCAofYI/AAAAAAAAAA8/9BCXn8Ng32s/s72-c/newrulersoftheworld.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-2274227594459037783</id><published>2007-05-07T04:01:00.000-07:00</published><updated>2007-05-07T04:03:02.452-07:00</updated><title type='text'>Menjelang Berakhirnya Pasar Malam</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/Rj8HMIJogaI/AAAAAAAAAA0/V79SyQXnO7o/s1600-h/untitled.0"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/Rj8HMIJogaI/AAAAAAAAAA0/V79SyQXnO7o/s320/untitled.0" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061772411115438498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingatkan kita akan setahun kematian seorang sastrawan besar dunia, Pramoedya Ananta Toer (30 April 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun Wafatnya Pramoedya &lt;br /&gt;Menjelang Berakhirnya Pasar Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Zenrs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://pejalanjauh.blogspot.com/2006/05/saat-saat-terakhir-pramoedya-menjelang.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ini tulisan lama. Pernah dipajang di sini setahun silam, seminggu setelah Pram wafat pada 30 April 2006. Sengaja ku pajang kembali untuk memeringati setahun wafatnya Pramoedya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman, dari jam setengah 10 malam sampai Minggu pagi, saya berada di kediaman Pram di Utan Kayu. Bersama sejumlah teman, saya mengalami langsung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana Pramoedya meregang nyawa, melawan maut, dan kemudian menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kembali proses-proses itu, saya seperti sedang membaca kembali Bukan Pasar Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ke rumah Pramoedya sekitar pukul 22.30, Sabtu malam, bersama Ella Devianti, gadis cantik yang baru saja menelurkan novel pertamanya, Paradoks Maggy. Sesampainya di sana, saya langsung disuruh masuk ke halaman rumah Pram. Saya lihat masih banyak orang di sana. Ada beberapa reporter televisi sedang menenteng kamera. Yang saya lihat secara jelas hanya reporter SCTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pram 2 meter di atas jalan, dan memasuki halamannya berarti kita mesti menaiki jalan masuk yang menanjak. Di sana saya belum melihat satu pun orang yang ku kenal. Saya duduk sesaat di tanjakan halaman rumah, persis di sebelah seorang lelaki paruh baya yang duduk tercenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beranikan diri bertanya: “Bagaimana kabar si Bung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak tahu persis. Katanya malah sudah meninggal,” jawabnya pendek. Ia langsung menunduk begitu usai menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terhenyak. Saya tak percaya tentu saja. Sebab 15 menit sebelum sampai, Muhidin M Dahlan, karib dan rekan sekantor, mengabarkan Pram masih bertahan setelah melewati masa krisis sebanyak tiga kali. Saya juga tak percaya karena sebelum berangkat saya sempat membuka detik.com, dan di sana dikabarkan bahwa Pram masih bisa bertahan, dan bahkan minta sebatang rokok kesayangannya, Djarum Super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tengok kanan-kiri. Saya lihat beberapa orang yang ku kenal. Bersama Ella saya kemudian mendekati mereka yang duduk mengelilingi sebuah meja kaca, persis di samping kanan rumah. Saya bertanya pada Muhidin. Dan Chavchay Syaifullah, wartawan Media Indonesia yang baru saja melaunching bukunya tentang Chairil Anwar, menjawab: “Aman, bung. Terkendali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lega. Saya hisap sebatang rokok. Dua batang rokok. Tiga batang rokok. Sembari terus saja bercakap-cakap. Membincangkan apa saja. Selama proses inilah belasan sms dari karib-karib saya masuk menanyakan kebenaran kabar wafatnya Pram. Sekitar pukul setengah 12, sms Faiz Ahsoul masuk, juga menanyakan kabar Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab: “Pram masih bertahan. Dia baru saja melewati krisisnya yang ketiga. Dan dia malahan meminta rokok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kepada Faiz, sms itu juga saya kirim ke Arief Santoso, redaktur budaya Jawa Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 menit kemudian Faiz kembali membalas. “Syukurlah. Saya sedang di Kaliurang, menyaksikan Merapi yang mulai memanas. Mungkin Pram dan merapi sudah berjanji saling menunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam. Tak ku jawab sms itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Susilo Ananta Toer, adik termuda Pramoedya keluar menemui beberapa wartawan televisi. Susilo bilang bahwa Pram pernah berjanji untuk bertahan hingga 100 tahun. “Bertahan, Bung. Ini baru 81, belum seratus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. Siapa yang tahu dan siapa yang sebetulnya menentukan usia?&lt;br /&gt;Yang saya tahu, Susilo pula yang sempat bersikukuh agar Pram tetap dirawat di RS Carolus. Susilo tidak ingin kejadian di mana ayah mereka akhirnya wafat setelah 3 hari dibawa pulang dari rumah sakit. Hal itu bisa dibaca dalam Bukan Pasar Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Di hari Minggu yang masih begitu dini, kurang lebih sekitar jam 2 pagi, Astuti Ananta Toer, putri yang begitu dekat dengan Pram, tiba-tiba menghambur dari kamar tempat ayahnya dibaringkan. Ia berteriak-teriak: “Oma… Oma….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu tamu dan pelayat sudah banyak yang undur. Ointu gerbang berwarna hiau sudah ditutup. Kami, yang ada di sebelah kanan kediaman Pram di Utan Kayu, refleks bangkit dari masing-masing duduknya dan langsung menghambur masuk ke dalam kamar depan tempat Pram dibaringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan yang lain hanya diam terpaku, di ruang tamu, dengan mata yang nanar menatap dari kejauhan, terdengar jelas hentakan nafas satu-satu yang susah payah dihela Pram. Maestro yang dikagumi ribuan anak muda itu tampak tergeletak lemah. Ia diselimuti dengan selimut berwarna coklat bercorak kembang putih-putih. Sepasang lengannya mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Sejumlah selang menancap di pergelangan tangan dan hidungnya. Infus dan oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada persis di ujung sepasang kaki Pram. Saya lihat sepasang kakinya keluar dari selimut. Sepasang kaki yang lemah dan tampak letih. Dibungkus kaus kaki coklat tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya ingat Bukan Pasar Malam. Si tokoh, pada kedatangannya yang pertama mengunjungi ayahnya yang terbaring sakit, memerikan bagaimana sepasang kaki ayahnya; sebuah pemeriaan yang secara luarbiasa akhirnya terulang pada diri Pram sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.” (Bukan Pasar Malam, hal. 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya…. Seperti juga Pram yang meraba kaki ayahnya, saya menyentuh kaki Pram yang masih menyisakan sejumput udara hangat. Saya melolosi sepasang kaus kaki coklat tipis yang membungkus sepasang kaki Pram yang letih dan berkarat oleh waktu dan sejumlah pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat Yukio Mishima, sastrawan Jepang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara seppuku yang luarbiasa dramatis, sebuah gaya artisitik memerlakukan kematian tak ubahnya sebuah panggung teater. Mishima yang bunuh diri pada 1970 itu juga pernah menulis sebuah novelet, sama seperti Bukan Pasar Malam, judulnya Patriotisme. Di cerpen itu, Mishima mengisahkan secara detail bagaimana seorang perwira Jepang melakukan seppuku. Dan sungguh menakjubkan, Mishima juga mati dengan cara yang sama seperti ia pernah tuliskan sebelumnya dalam novelet Patriotisme itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya ke mana-mana. Saya berdiri persis di tiang tempat di man botol infus digantungkan. Saya perhatikan botol infus itu. Saya perhatikan, tetes-tetes infus begitu lambat menetes. Dan semua orang, saya kira, juga merasa detik begitu lama beranjak. Lama sekali. Saya pernah ingat seorang suster yang dulu semasa kecil pernah merawat saya sewaktu saya diterjang penyakit demam berdarah. Kata dia, kalau infus cepat habisnya berarti yang dirawat itu ada kemungkinan pulih, sementara jika infus begitu lama habisnya, itu pertanda buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya sadar kalau Pram sedang meregang nyawa. Susah betul ia menarik nafas. Sesekali dagunya terangkat. Mungkin untuk memudahkan masuknya oksigen. Tangannya lemah terkulai. Mujib menggenggam tangan kiri, Oma (panggilan untuk istri Pram) bergantian menggenggam tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi entah siapa yang memulai, tampaknya Mbak Titik (panggilan Astuti), beberapa orang yang hadir mulai menggumamkan do’a. Ada yang menggumam dalam hati, dan ada yang setengah berteriak. Seisi kamar seperti bergetar oleh do’a dan himpunan kalimat-kalimat suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Rahzen memecah suasana sakral dan menyayat itu dengan suara setengah berteriak: “Bung Pram… Bung Pram…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahzen mencoba menyadarkan, berupaya agar Pram tak kehilangan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, Mbak Titik, dengan nada antara kasihan melihat Pram yang meregang nyawa dan campuran rasa frustasi takut kehilangan, tiba-tiba berkata dengan keras: “sudahlah… biarkan dia pergi. Kasihan. Kasihan dia….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi kamar terhenyak. “Jangan, Bung! Jangan menyerah, Bung!” batin saya dalam hati seperti hendak menolak rasa pesimis yang pelahan mulai merayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini Pramoedya masih bertahan. Pelan tapi pasti, setelah 45 menit meregang-regang, ia kembali berhasil menguasai kesadarannya. Nafasnya mulai teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Opa… opa….” teriak Mbak Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram menengok ke arah Mbak Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seantero kamar menarik nafas lega. Pram sadar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Tetapi itu tak lama. Sekitar pukul 03.15 pagi, Pram kembali diterjang krisis. Kali ini lebih menyesakkan untuk disaksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat bagaimana orang yang berdiri tegar sendirian bertahun-tahun lamanya, dipenjara di semua rezim yang pernah berkuasa di sini (di penjara kolonial Belanda, rezim fasis Jepang, zaman Soekarno juga Orde Harto), tampak megap-megap. Dagunya sesekali terangkat. Ia berulang kali mengubah-ubah posisi tangannya. Sekali waktu ia merentangkan sepasang tangannya, dengan wajah terangkat, seperti hendak menantang duel sang maut. Kali lain ia meletakkan dua tangannya di atas kepalanya. Tentu saja masih dengan deru nafas yang makin lemah dan patah-patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deru do’a makin kencang menghambur dari seantero kamar. Semua-muanya. Tak terkecuali saya. Dalam hati tentu saja. Saya tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya meregang nyawa, menempuhi sekarat, bertarung dengan malaikat penjagal nyawa. Saya ingat sebuah do’a Rasulullah yang memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari sakitnya meregang nyawa, yang kata Rasul, sakitnya tujuh kali lebih menggidikkan dari sayatan pisau yang paling tajam.&lt;br /&gt;Saya bergidik. Begini rupanya meregang nyawa. Hih…. Dan, jujur saja, baru sekali itulah saya lihat orang sekarat. Dan entah ini anugerah ataukah kutuk, pengalaman pertama menyaksikan orang sekarat itu justru ketika Pram, orang yang saya anggap sebagai guru, yang menjadi “aktornya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali, Yudistira dan Astuti memegang lengan kiri ayahnya. Sesekali mereka mendekatkan kuping ke mulut Pram, berjaga jika sewaktu-waktu Pram membisikkan pesannya yang terakhir. Yudis sesekali membacakan kata-kata suci ke telinga ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apa yang ada dalam batin Pram ketika di detik-detik terakhir hidupnya ia dido’akan, dihujani oleh kata-kata yang diyakini suci. Adakah Pram menolak? Mungkinkah Pram menampik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan saya khawatir, jangan-jangan Pram merentangkan tangan atau menggeleng-gelengkan kepala sebetulnya sebagai bentuk penolakan Pram atas cara keluarga, karib dan pengagumnya memerlakukan dirinya. Saya khawatir, jangan-jangan Pram hanya ingin mati dengan caranya sendiri, bukan seperti cara orang-orang yang saat itu ada di sampingnya sewaktu sedang bertarung dengan wabah maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tidak pernah akan tahu apa yang ada di kepalaPram saat itu. Kita tak akan tahu apakan Pram menolak atau tidak. Dan kita juga tak akan tahu bagaimana sebetulnya Pram ingin menghadapi maut. Lagipula, saya dan barangkali semua orang yang hadir yang mendoakan Pram dengan kata-kata suci yang dalam seumur hidup Pram jarang sekali ia ucapkan, hanya bergerak mengikuti insting, naluri. Saya, dan barangkali juga yang lain, tak pernah terlintas pikiran hendak meng-Islam-kan Pram, sebab saya dan yang lain juga tak tahu apakah Pram muslim atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat Pram pernah berkata bahwa orang ateis yang menjadi ateis karena pilihan sadar biasanya adalah orang yang paling banyak memikiran Tuhan. “Orang ateis,” dalam kata-kata Pram sendiri, “adalah mereka yang telah melewati banyak ‘stasiun’ pemberhentian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu Pram sudah melewati berapa stasiun. Yang saya tahu, Pram, seperti bisa kita baca dalam Bukan Pasar Malam, membisikkan kata-kata suci yang memuji kebesaran Tuhan ke telinga ayahnya yang baru saja meninggal dunia, 57 tahun lalu, di pengujung warsa 1949 yang muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah barangkali adalah sebentuk persilangan dan tumbukan antara satu pengulangan menuju pengulangan yang lain. Semacam circle. Tak peduli betapa para sejarawan memeluk teguh doktrin ein malig, sejarah hanya terjadi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jam-jam terakhirnya itu, saya, lewat sebuah koinsidensi yang menakjubkan, bisa berada langsung melihatnya, menjadi penyaksi dari satu tahap paling genting setiap manusia: mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase krisisnya yang terakhir, sebelum kemudian ia meninggal pada jam 9 pagi itu, saya menyaksikan bagaimana Pram terus dikendalikan oleh hidupnya, kenangannya, dan aktivitas-aktivitas hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah badai lara yang makin menyiksa, dengan suara yang parau dan nafas megap-megap, Pram masih sempat menanyakan kabar apakah sampah sudah dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram memang punya hobi aneh: membakar sampah. Jika kita baca Nyanyi Seorang Bisu, kumpulan surat-surat Pram untuk anak-anaknya yang ditulis dari Buru, kita akan tahu bahwa membakar sampah adalah salah satu cara menyibukkan diri seorang Pram selama diburu. Membiarkan diri melamun kosong di pulau pengasingan yang mengerikan sama saja dengan menyerahkan jiwa kita pada kegilaan. Membakar sampah adalah cara Pram melawan waktu yang menggerus, sekaligus sebentuk rsistensi Pram atas pengkondisian rezim Harto yang memang menginginkan agar dia jatuh bukan oleh tangan-tangan kasar aparat, melainkan jatuh dalam kegilaan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Pram tak hanya ingin membakar sampah. Ia juga ingin jenazahnya dibakar, dikremasi. Bukan dikubur. Permintaan yang kelak tak dikabulkan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya makin tergetar adalah betapa Pram dalam perlawanannya yang terakhir terhadap kematian, akhirnya luruh juga dalam ketakutan. Saya saksikan bagaimana Pram menitikkan air mata. Berkali-kali. Anaknya Yudistira Ananta Toer, dalam perbincangan beberapa jam sebelumnya, mengatakan bahwa ia tak pernah melihat Pram menangis, baik menangis terharu maupun menangis karena sedih, tidak juga ketika Pram pertama kali kembali ke rumahnya di Utan Kayu setelah sepuluh tahun lebih diasingkan ke Pulau Buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Pram akhirnya masih bisa bertahan juga, seperti memenangkan sebuah ronde dari serangkaian pertandingan melawan maut. Pukul 4 pagi Pram kembaali bisa tersadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Saya dan beberapa teman akhirnya pamit undur dari rumah Pram. Saya letih. Lelah. Semalaman tak tidur. Tapi yang jauh lebih membikin letih adalah pengalaman menyaksikan seorang Pram, yang sama-sama kami kagumi itu, meregang nyawa, menahan sakit, melawan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya percaya Pram memang melawan sebisanya. Ia masih ingin hidup hingga 100 tahun. Ia masih ingin bertemu dan berdialog terus menerus dengan angkatan muda yang ia harapkan bisa mengembalikan laju Indonesia ke relnya yang benar. Ia juga masih ingin menyelesaikan Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia yang baru tergarap sebagian, kendati sebagian di sini artinya bahan-bahan itu telah menumpuk setinggi 3 meter lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga yakin Pram akan bertahan. Tidak, Bung Pram pasti bisa bertahan. Pasti. Begitu saya mencoba meyakinkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya keliru. Ketika sedang berada di bus kota, sekitar pukul 9 pagi, sebuah sms dari Taufik Rahzen yang isinya pendek sekali, tapi justru membikin dada seperti runtuh: “Pram baru aja jalan….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian sms Muhidin masuk. Isinya membikin badan meriang: “Pram telah meninggal dunia. 09.02. Inilah erangannya yang terakhir: “Saya tak kuat. Bakar saya dalam mati saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyesal tak ada di sampingnya ketika ia terbang pergi. Saya menyesal. Sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas bus kota yang reyot yang membawa saya ke arah Tanjung Duren di wilayah Jakarta Barat itulah saya terima kabar kematiannya. Saya kirim sms pendek ke semua teman yang bisa saya hubungi. “Pram wafat. Barusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Pram dimakamkan di Karet, satu pemakaman dengan si binatang jalang Chairil Anwar. Ia memang diantarkan oleh ribuan pelayat dan anak muda yang mengaguminya. Ia dimakamkan secara islami, kepergiannya juga diiringi oleh Internationale dan Darah Juang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada akhirnya ia pergi sendiri. Sendirian. Sesuatu yang sudah dipahami oleh Pram 57 tahun sebelumnya. Dalam paragraf penutup Bukan Pasar Malam, Pram menulis sesuatu yang akhirnya ia alami juga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pada kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta-Jogja, 5-6 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by zenrs88@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-2274227594459037783?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/2274227594459037783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=2274227594459037783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2274227594459037783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/2274227594459037783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/05/menjelang-berakhirnya-pasar-malam.html' title='Menjelang Berakhirnya Pasar Malam'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/Rj8HMIJogaI/AAAAAAAAAA0/V79SyQXnO7o/s72-c/untitled.0' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-1077797761584942394</id><published>2007-05-02T00:50:00.000-07:00</published><updated>2007-05-02T01:36:18.470-07:00</updated><title type='text'>Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut</title><content type='html'>Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-1077797761584942394?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/1077797761584942394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=1077797761584942394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1077797761584942394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/1077797761584942394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/05/detik-detik-rasulullah-saw-menjelang.html' title='Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6209242621978557892</id><published>2007-04-26T02:38:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T02:41:40.540-07:00</updated><title type='text'>Innocent Voices</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/RjBzp4JogZI/AAAAAAAAAAs/gtzn5FK15Sc/s1600-h/voi.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/RjBzp4JogZI/AAAAAAAAAAs/gtzn5FK15Sc/s320/voi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057669544821686674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innocent Voices&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat kemaren gue ga masuk kerja. Sakit. Ternyata bengong dirumah itu ga ada enaknya. Mati gaya. Gue obrak-abrik stok dvd di rumah. Aha! Ada film. Gue nonton lah film “Innocent Voices”.&lt;br /&gt;Ceritanya yang bagus bikin gue pengen bagi-bagi dikit. Referensi buat siapa aja yang mau film yang “Gak Hollywood banget”. Gue udah rada-rada enek' liat film Hollywood. Terutama film aksinya. &lt;br /&gt;Kisahnya film ini adalah kisah nyata. Film ini bercerita tentang situsai perang sipil di El Salvador (negara di Amerika latin lah..). Geriliyawan FMLN melawan tentara pemerintah El Salvador. Gak jelas apa yang di perjuangkan geriliyawan ini (atau guenya yang kurang nyimak yah??). Intinya ada sebuah desa yang terjepit diantara daerah kekuasaan geriliyawan dan pasukan tentara pemerintah. Desa tersebut selalu menjadi medan pertempuran antara pasukan pemerintah dan geriliyawan.  Ceritanya tentang kisah seorang anak  11 tahun bernama Chava beserta keluarga dan teman-temannya. Bapaknya kabur meninggalkan mereka. Kata Ibunya, “You're the man in this family now”. Jadilah si anak itu, Chava, bantu-bantu ibunya, ngerwat adiknya dua orang. Nasib jelek buat anak-anak di desa itu, setiap yang sudah berumur 12 tahun, anak-anak laki-laki didesa itu di ambil oleh tentara pemerintah untuk di didik jadi tentara. Si Chava jadi takut. Sering di liat tentara itu masuk ke sekolahnya dan ngangkut temen sekolahnya untuk jadi tentara. Si Chava tidak mau ikut jadi tentara. Dia jadi takut untuk memasuki umur 12 tahun. Takut senasib dengan teman-temannya yang lain, dianghkut jadi tentara dan jauh dari keluarga. Di tambah-perlakuan tentara pemerintah yang sering menteror warga desa tersebut. Chava jadi semakin benci dengan perlakuan tentara pemerintah. Apalagi paman Chava ternyata adalah seorang geriliyawan FMLN. Kisahnya berkutat soal kehidupan sehari-hari Chava dan pengalaman yang tidak mengenakkan hidup di medan perang.&lt;br /&gt;Inti dari film ini adalah, siapapun tidak ingin mengalami nasib jelek berada di antara tengah-tengah peperangan. Orang hanya ingin hidup tenang. Apalagi anak-anak seumur Chava yang hanya ingin bermain-main dengan teman-temannya, malah di paksa pemerintah untuk terlibat melawan geriliyawan. &lt;br /&gt;Adegan favorit gue di film ini adalah saat Ibunya Chava tidak ada dirumah, rumah mereka menjadi medan perang antara geriliyawan dan tentara. Rumah Chava menjadi sasaran baku tembak. Di saat ketakutan seperti itu Chava harus melindungi adiknya dan menenangkan adiknya yang nangis ketakutan. Sambil berlindung dibawah hujan peluru di bawah kasur, Chava menghibur adiknya yang ketakutan dengan mencoret mukanya dengan lipstik ibunya dan berlagak seperti monyet hingga adiknya berhenti menangis dan tertawa-tawa di bawah hujanan peluru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, nonton aja sendirilah, dijamin puas....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6209242621978557892?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6209242621978557892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6209242621978557892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6209242621978557892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6209242621978557892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/04/innocent-voices.html' title='Innocent Voices'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_KekTkgZveso/RjBzp4JogZI/AAAAAAAAAAs/gtzn5FK15Sc/s72-c/voi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-3168115517627249618</id><published>2007-04-12T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T21:33:25.932-07:00</updated><title type='text'>Mari latih mental kita seperti Praja biar perkasa!!</title><content type='html'>Minggu-minggu ini tivi dirumah gw dihiasi aksi-aksi yang lebih seru dari pada Smack Down di Lativi. Gimana nggak? Smack down itu bo'ongan. Cuma akting. Lah ini? Beneran cuy! Smack down badannya gede-gede, jelas dipukul ga sakit. Yang ini? Beeeh...gw liat ada juga yang kerempeng. Yang paling seru, Smack Down, serame-ramenya, kalo TAG Team cuma berempat ato lima orang, yang di tivi ini?? puluhan man!di gilir lagi, tinggal baris.....di hajar deh...Jelas ini lebih menakjubkan. Smack Down udah lewat. Aksi Praja IPDN lebih menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yg gw denger pada komentar negatif. Mereka bilang pendidikan kaya gitu nggak bener. Itu bukan melatih mental kata pengamat di TV, tapi penyiksaan. Gw mah iya-iya aja. Tapi tunggu dulu dong, kenapa kita nggak lihat dari sisi si Praja-praja perkasa itu? Pasti ada alasan yang jelas dari mereka untuk melakukan tindakan pukul-pukulan, tendang dan lainnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya sih semua tindakan kekerasan itu, kata mereka, untuk melatih mental para calon pamong kita itu. Kalo kita liat di tivi paling nggak ada beberapa tindakan fisik yg paling mencolok. Yang pertama aksi guling-gulingan, trus ada pukulan di dada. Yang paling mendebarkan, sikutan diperut saat praja malang itu lagi kayang. Yang ini poll banget!!!&lt;br /&gt;Gw coba ngayal-ngeyel, kira2 apa hubungannya tindakan tadi dengan melatih mental praja ya??selidik punya selidik, pikir punya pikir,......Ooh, mungkin aksi guling-gulingan di tanah itu merupakan simbol bahwa hidup itu susah, penuh perjuangan, kita harus jungkir balik biar bisa selamat dalam hidup....jadi dengan guling-gulingan mental praja itu jadi terlatih ketika menghadapi hidup yang bisa bikin kita jungkir balik. Trus gimana dengan pukulan para senior buat junior di dada? Apa hikmahnya?mungkin aja itu simbol bahwa kejadian-kejadian di selama nanti praja itu  jadi pamong itu penuh dengan kejadian yg menyesakkan dada. Jadi dadanya harus kuat di pukulin, biar ga gampang sesak. Biar sabar kalo ada kejadian yg menyesakkan dada...Yang paling sadis tentunya sikutan di perut pas kayang...yang ini pasti maknanya adalah nyari duit itu susah, kadang bisa makan kadang enggak. kadang kita musti nahan lapar, menahan sakit di perut karena kelaparan, jadilah para praja calon kelaparan itu harus mau perutnya disikut sambil kayang, sebagai ajang pelatihan mental, kalau-kalau nanti setelah lulus merasakan susahnya menahan lapar karena ga punya duit buat makan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setelah gw pikir-pikir, mungkin itu hikmahnya pelatihan mental mereka. Itu bukan tindakan kekerasan, tapi pelatihan mental. Pasti para senior tukang pukul itu 100% setuju ma gw....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari kita laith mental kita seperti para praja-praja perkasa di IPDN itu..Setuju???&lt;br /&gt;Ya...setuju...dalam mimpi!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyuuuukkk....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-3168115517627249618?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/3168115517627249618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=3168115517627249618' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/3168115517627249618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/3168115517627249618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/04/mari-latih-mental-kita-seperti-praja.html' title='Mari latih mental kita seperti Praja biar perkasa!!'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6987576081273965917</id><published>2007-04-12T03:50:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T03:52:11.917-07:00</updated><title type='text'>cerita bangsa kita</title><content type='html'>Alkisah menurut primbon-primbon yang tersisa di keraton-keraton, wong ndeso yang katro' kalo mau lewat di depan para Raja-Ningrat Jawa harus ngesot-ngesot di tanah. Haram jadah hukumnya buat berdiri setara di depan para ningrat. Raja - Ningrat itu keturunan para dewa. Kehendak raja berarti kehendak dewa. Maka sepantasnyalah raja itu lebih tinggi kodratnya dari pada manusia biasa. Wong ndeso nan katro' mau bicara sama para keturunan dewa tersebut harus tau diri. Jangan sampai salah bahasa. Bisa-bisa bakiak melayang ke muka. Titah raja wajib dituruti. Mau  harta, wanita atau perbuatan nista semua harus tersedia. Jadilah wong ndeso katro harus menyediakan semuanya. Semua itu karena wong ndeso nrimo. Pasrah. Melawan raja nanti kualat. &lt;br /&gt;Jaman berubah, Jawa dijajah. Orang-orang bule mulai merambah tanah jawa. Katanya mereka mau cari hasil bumi,  bernama rempah-rempah. Buat para mahluk dari negeri seberang itu, raja bukan siapa-siapa. Orang-orang bule itu lebih takut sama bedil. Raja Jawa shock berat. Kuasa mereka jadi impoten di depan para bule. Prajurit setia para raja pun dikerahkan. Mereka jelas bukan tandingannya. Pasukan pria bertelanjang dada, bercelanakan sarung, bersenjatakan golok. Jelas goblok dimata mereka. Satu per satu bertumbangan. Golok jelas tak bisa melayang secepta timah panas para bule. Raja minta ampun dikasih kuasanya pada para bule. Raja minta ikut jadi bagian era baru. Kolonialisme. Jelaslah sekarang raja jawa pun menjadi tak kuasa. Mereka jadi kacung para bule untuk urusan penjajahan. Raja Jawa menjual rakyatnya sendiri buat cari selamat.Nasip para rakyat ndeso. Derita mereka sama, bertambah malah. Berganti lah penguasa di tanah Jawa. Dari raja menjadi Bule. Buat para ndeso hal ini sangat menakutkan. Jika melawan raja saja bisa mampus apalagi melawan Bule. Kualatnya minta ampun. Para bule itu lebih hebat dari raja. Raja di Raja.Tongkat mereka lebih sakti dari pada golok sang raja. Tongkat mereka bisa mengelurkan timah panas. &lt;br /&gt;Jaman kembali bergulir. Kehendak Yang Maha Kuasa telah memberikan anugerahnya pada beberapa putra bangsa ini. Sebagian dari Jawa, lainya dari Sumatra, lainnya lagi dari pulau-pulau di Nusantara. Putra-putra Bangsa terpilih ini tahu semua manusia itu sama. Tak ada yg boleh menguasai manusia satu dengan yang lainnya. Semua sama. Cuma Tuhan yang boleh berkuasa. Lainnya tidak. Manusia hanya di beri kepercayaan untuk mengurus manusia yang lain. Bukan menguasai manusia yang lain. Sungguh, Putra terpilih bangsa ini adalah manusia yang di beri seberkas cahaya oleh Tuhan. Para kolonialis bule itu akhirnya lari tunggang langgang. Mereka sadar bangsa kita sudah bukan bangsa yang mudah ditakut-takuti.  Sudah lama rakyat bangsa kita yang sekarang bernama Indonesia itu merindukan pemimpin yang cinta pada rakyatnya. &lt;br /&gt;Sayang Bangsa kita sendiri pun tak mampu bersyukur atas nikmat yg diberikan Tuhan. Merasa lupa akan perjuangan para pendahulunya. Sikut menyikut, sikat menyikat. Negara dilanda prahara. Satu kejadian mengakhiri kejadian lainnya. Nasip orang-orang pun ikut tumbang. Naiklah Satu manusia Pintar nan Culas. Semua orang tertipu dengan Topengnya. Topeng manusia yg mau menyelamatkan bangsa katanya. Begitu diatas dia puas. Semua kesempatan memperkaya diri dia libas. Yang mau protes dia tindas, Nyaris tak berbekas. Bangsa kita kembali dipimpin raja bengis penghisap darah versi moderen. Anak cucunya mendadak menjadi penguasa negeri. Teman-temannya terbawa menjadi Patihnya. Dia menyebarkan virus bernama Korupsi. Birokrasi menjadi sosok yang berkuasa. Rakyat menjadi sapi perah para birokrat. Pengusaha hitam, mencium bau laba. Birokrasi lah pintu gerbang laba yang luar biasa. Mereka (birokrat memegang anak kuncinya). Asal suap mulut para birokrat menganga, tak kuasa menahan suapan memenuhi perut buncit mereka dengan uang haram. Menyuapi anak cucu mereka dengan uang haram. Mendarah daging. &lt;br /&gt;Tatkala rakyat kelaparan, rasanya melihat kehidupan para birokrat, terasa melihat kehidupan yang utopis. Penuh dengan impian yang tak mungkin dicapai. Keindahan akan bayangan kekayaan yang tak terkira. Racun dari indahnya berkorupsi merasuki otak mereka. Merambah ke semua orang. Jadilah birokrat, pamong negeri ini.Kerja enak, di hormati orang, yang paling penting hidup penuh dengan gelimang nikamt uang. Korupsi itu lumrah. “Tuhan pasti mau mengerti”, gumam mereka. “Kalau kita korupsi toh kita turut membahagiakan keluarga kita?Membahagiakan keluarga kan berpahala?” Hancurlah bangsa kita....Kalau nabi bisa melihat tingkah pamong kita sekarang, mungkin cuma bisa geleng-geleng kepala, mengurut dada, karena wahyu menjadi cuma sekedar bacaan semata. Kita tunggu kisah bangsa kita selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6987576081273965917?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6987576081273965917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6987576081273965917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6987576081273965917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6987576081273965917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/04/cerita-bangsa-kita.html' title='cerita bangsa kita'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6101606577298543285</id><published>2007-03-28T19:24:00.000-07:00</published><updated>2007-03-28T19:31:51.359-07:00</updated><title type='text'>Korporatokrasi</title><content type='html'>Hari Selasa gw baca kompas. dan baca rubrik Politika (tulisannya wartawan Kompas, Budiarto Shambazy). Buat gw tulisannya Budiarto ini salah satu yg paling bagus di Kompas. Btw kali ini dia nulis ttg Korporatokrasi. Buat yg pernah baca bukunya John Perkins (Confessions of an Economic Hitman) hal ini udah jelas banget. Gw saranin deh buat baca buku ini. Bakal membuka pikiran kita yg tertutup selama ini. Sisi lain dari bisnis konglomerasi dunia. Nuff said. Just read this article below!!&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korporatokrasi&lt;br /&gt;Budiarto Shambazy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingat John Perkins, penulis buku Confessions of&lt;br /&gt;An Economic Hit Man (2004)? Buku baru berjudul A Game&lt;br /&gt;As Old As Empire: The Secret World of Economic Hit Men&lt;br /&gt;and the Web of Global Corruption (2007) yang disunting&lt;br /&gt;Steven Hiatt mengungkap lebih jelas petualangan&lt;br /&gt;"ekonom pembunuh bayaran". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EHM bekerja untuk korporatokrasi (corporatocracy),&lt;br /&gt;jaringan kerja sama antara MNC (multinational&lt;br /&gt;corporations) dengan lembaga internasional (World&lt;br /&gt;Bank/IMF), elite negara maju, dan penguasa negara&lt;br /&gt;Dunia Ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikon korporatokrasi yang nyata Wapres Amerika Serikat&lt;br /&gt;Dick Cheney. Ia mantan CEO Halliburtonâ€”kontraktor&lt;br /&gt;terbesar di duniaâ€”dan sampai kini menjadi penasihat&lt;br /&gt;bisnis MNC itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheney penganjur serbuan ke Irak yang dipalsukan lewat&lt;br /&gt;senjata pemusnah massal. Kini Halliburton bersama MNC&lt;br /&gt;lainnya menikmati keuntungan dari ladang minyak Irak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Empire, penyingkiran pemimpin dibenarkan&lt;br /&gt;korporatokrasi, termasuk pembunuhan Perdana Menteri&lt;br /&gt;Iran Mohammad Mosaddeq (1951- 1953) yang&lt;br /&gt;menasionalisasi industri pertambangan. Menurut&lt;br /&gt;Perkins, EHM juga mengatur terjadinya kecelakaan yang&lt;br /&gt;menewaskan Presiden Ekuador Jaime Roldos dan Presiden&lt;br /&gt;Panama Omar Torrijos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korporatokrasi dimulai saat World Bank/IMF menyalurkan&lt;br /&gt;pinjaman untuk pembangunan megaproyek di negara miskin&lt;br /&gt;atas rekomendasi fiktif buatan EHM. Kredit cair jika&lt;br /&gt;dengan syarat tender-tender pembangunan dihadiahkan&lt;br /&gt;kepada MNC/mitra lokal atas restu korporatokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, negara miskin itu terjebak utang luar negeri&lt;br /&gt;ratusan miliar dollar AS yang takkan bisa dilunasi&lt;br /&gt;sampai tujuh turunan. Sebaliknya, profit MNC/ mitra&lt;br /&gt;lokal naik setiap tahun selama proyek dikerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derita negara itu belum selesai. Ia bukan cuma gagal&lt;br /&gt;menyejahterakan rakyat, tetapi juga tak mampu membayar&lt;br /&gt;utang sehingga akhirnya ditekan korporatokrasi untuk&lt;br /&gt;menjual kekayaan alamnyaâ€”misalnya ladang minyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empire mencontohkan PLTU Paiton I dan II yang nilai&lt;br /&gt;proyeknya 3,7 miliar dollar AS. Megaproyek ini tak&lt;br /&gt;bermanfaat sebab harga listrik yang dihasilkan 60&lt;br /&gt;persen lebih mahal dibandingkan di Filipina atau 20&lt;br /&gt;kali lebih mahal dibandingkan di AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana pembangunan Paiton ngutang dari ECA (export&lt;br /&gt;credit agencies) dari negara-negara maju. Korupsi&lt;br /&gt;dimulai ketika 15,75 persen saham megaproyek itu&lt;br /&gt;disetor kepada kroni dan keluarga penguasa Orde Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrak-kontrak Paiton, mulai dari pembebasan lahan&lt;br /&gt;secara paksa sampai monopoli suplai batu bara,&lt;br /&gt;dihadiahkan tanpa tender kepada berbagai MNC/mitra&lt;br /&gt;lokal. Setelah Pak Harto lengser ing keprabon, baru&lt;br /&gt;ketahuan nilai proyek itu terinflasi 72 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah coba menegosiasi ulang Paiton dengan&lt;br /&gt;argumen megaproyek itu hasil KKN. Alhasil, kita selama&lt;br /&gt;30 tahun harus membayar ganti rugi 8,6 sen dollar AS&lt;br /&gt;per kWhâ€”padahal kemampuan kita cuma dua sen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya manut, eksekutif ECA itu mengancam akan meminta&lt;br /&gt;G-7 menyatakan Indonesia tukang ngemplang yang tak&lt;br /&gt;layak mendapat kredit lagi dari World Bank/IMF.&lt;br /&gt;Lagi-lagi kita manut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empire mengungkapkan bagaimana industri minyak kita&lt;br /&gt;diperdayai korporatokrasi melalui perjanjian PSA&lt;br /&gt;(profit-sharing agreement). Perjanjian ini bertujuan&lt;br /&gt;menghindari nasionalisasi seperti yang dilakukan PM&lt;br /&gt;Mosaddeq atau Presiden Bolivia Evo Morales belum lama&lt;br /&gt;ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSA seolah-olah menempatkan kita sebagai pemilih sah&lt;br /&gt;ladang minyak, sementara MNC sebagai "kontraktor"&lt;br /&gt;saja. Namun, pada praktiknya MNC mengontrol&lt;br /&gt;pengembangan ladang yang mendatangkan profit berlipat&lt;br /&gt;gandaâ€”mirip seperti praktik kolonialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian ini ibarat pernikahan ideal antara kontrak&lt;br /&gt;bagi hasil yang secara politis seolah penting bagi&lt;br /&gt;kita sebagai majikan dengan sistem kontrak berbasis&lt;br /&gt;konsesi/lisensi yang mendatangkan profit maksimal.&lt;br /&gt;Pemerintah seakan memegang kendali, padahal MNC-lah&lt;br /&gt;yang mempunyai kedaulatan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klausul stabilisasi" dalam perjanjian PSA mengatakan&lt;br /&gt;UU kita tak berlaku bagi setiap kegiatan MNC dalam&lt;br /&gt;rangka memetik profit. UU tak bisa jadi rujukan jika&lt;br /&gt;sengketa terjadiâ€” yang berlaku hukum internasional&lt;br /&gt;yang tak mengenal istilah kepentingan atau UU&lt;br /&gt;nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cerita sukses PSA" yang dijual EHM bernama Dan Witt&lt;br /&gt;yang bekerja untuk ECA di AS, ITIC (International Tax&lt;br /&gt;and Investment Center). Witt atas nama British&lt;br /&gt;Petroleum, Chevron Texaco, Total, dan Eni SpA&lt;br /&gt;"menggarap" Irak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMF menyalurkan kredit untuk Irak sambil menetapkan&lt;br /&gt;syarat, termasuk mengurangi subsidi yang membuat harga&lt;br /&gt;BBM meroket. Syarat lain, parlemen harus mengesahkan&lt;br /&gt;UU Perminyakan akhir 2006 dan IMF wajib disertakan&lt;br /&gt;dalam proses perumusannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Witt yang bermodalkan best practices (senjata gombal&lt;br /&gt;World Bank dan IMF) menjadi negosiator antara para&lt;br /&gt;pejabat Irak yang korup, IMF, dan MNC. Semua untung&lt;br /&gt;kecuali rakyat Irak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah sulit mencerna kita menjadi korban&lt;br /&gt;korporatokrasi. Pertanyaannya, apakah kita masih&lt;br /&gt;peduli? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah para pemimpin kita hanya mematut-matut diri.&lt;br /&gt;Anggota DPR tak percaya diri dan tak mau kalah&lt;br /&gt;dibandingkan Tukul Arwana, menuntut dibelikan laptop&lt;br /&gt;yang mahal sekali. Para pengusaha kita menjual "Visi&lt;br /&gt;2030" yang isinya membuat saya seperti sedang bermimpi&lt;br /&gt;di siang hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada sakit hati, mari kita ber-ha-ha-ha dan&lt;br /&gt;ber-hi-hi-hi. Kepada mereka, kita acungkan telunjuk&lt;br /&gt;sambil berseru, "Ah, kalian sungguh lucu sekali!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6101606577298543285?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6101606577298543285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6101606577298543285' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6101606577298543285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6101606577298543285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/03/korporatokrasi.html' title='Korporatokrasi'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-6229305983779085005</id><published>2007-03-23T01:55:00.000-07:00</published><updated>2007-03-23T01:56:56.420-07:00</updated><title type='text'>Pertemuan dengan Tan Malaka</title><content type='html'>Pertemuan dengan Tan Malaka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bergabunglah pada kekuatan-kekuatan pembebasan yang nyata, yang ada di tengah-tengah kalian, seperti yang dilakukan oleh Tan Malaka. &lt;br /&gt;(De Tribune, 7-Maret-1922)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu seorang laki-laki yang berwajah tegas dengan sorot mata tajam, berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya dan dijabatnya tanganku dengan keras. 'Namaku Tan Malaka' begitu ucapnya sambil duduk di sebelahku. Aku tertegun dan belum sempat ngomong ketika ia kemudian bilang 'Katanya kamu ingin bertanya banyak padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mengingat-ingat wajah seorang yang duduk di sampingku ini. Bajunya putih bersih dengan garis wajah yang diselimuti kabut. Tan Malaka, pria yang telah berhasil membuat bangsa ini memiliki keharuman. Tan Malaka, pria yang telah menuliskan banyak karya raksasa. Tan Malaka, seorang aktivis pergerakan yang menggoreskan perlawanan dengan kata-kata lugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya aku ingin banyak bertanya dengan anda yang sering disebut-sebut sebagai seorang pejuang' tanpa ragu aku mengajaknya untuk bicara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'jangan kau sebut aku pejuang kalau apa yang aku dan teman-teman lakukan kalian sia-siakan' dengan muka lugas ia ucapkan kata-kata itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dan sembari agak menjauh kulihat paras mukanya dari samping. Tulang pipi yang kurus itu masih menampakkan kerutan yang teguh. Aku seperti menyaksikan seorang yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh badai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'kalian telah menjerumuskan rakyat ini dalam penderitaan. Kulihat kalian mewarisi sifat-sifat para penjajah. Malah kalian bukan hanya meniru dengan persis, tapi melebihi apa yang penjajah lakukan dulu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih saja diam mendengar suaranya yang berat dan kering. Ikal rambutnya yang agak bergelombang dengan sorot mata yang keras itu membuatku yakin, kalau Tan Malaka adalah aktivis yang tidak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'kusaksikan kalian yang masih muda tidak punya keberanian untuk menentang kesewenang-wenangan. Yang kalian kerjakan tidak seimbang dengan penderitaan rakyat yang sudah melampaui batas. Kupikir tulisanku sudah cukup bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan, tapi ternyata aku keliru'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka kulihat menundukkan muka. Matanya melihat tanah hitam di bawahnya dan kemudian menengokku. Matanya memandang diriku seolah-olah aku makhluk unik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'apa yang kaukerjakan selama ini anak muda? Begitu tanyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'aku seorang mahasiswa yang juga aktif dalam dunia gerakan, aku sama sepertimu' begitu jawabku agak yakin. Tan Malaka menatapku tampak agak ragu dan berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'ketika aku seusiamu kujelajahi dunia pengetahuan bukan dengan pesona tapi bertanya. Saat aku seusiamu kubikin sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Aku ajari anak-anak tiga pelajaran penting, ketrampilan agar mereka menjadi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Sayang orang-orang kolonial itu menangkapku jauh lebih cepat dari yang kuduga. Apa yang kaukerjakan sekarang anak muda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak terkejut aku dengan pertanyaanya yang tajam dan cepat. Kujawab dengan ragu-ragu 'yang kukerjakan diskusi, sesekali aku ikut merancang demonstrasi dan pernah aku tertangkap polisi gara-gara membakar foto penguasa. Aku juga ikut mengorganisir rakyat miskin dengan mendampingi mereka dan memaksa agar parlemen bicara dengan mereka. Kini aku aktif di salah satu LSM'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum dan kulihat kabut di wajahnya berangsur-angsur memudar. Kali ini ia mendekat dan menepuk pundakku 'dulu aku punya kawan yang wajahnya mirip denganmu. Namanya Semaun, ia seorang yang pintar dan berani. Kami percaya untuk mengangkat harga diri bangsa yang terjajah tidak ada jalan lain kecuali melalui pendidikan dan perlawanan. Kami berdua bikin sekolah dan aku diajaknya masuk Sarekat Islam. Apa LSM itu seperti Sarekat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun dan bingung memberi jawaban. Sesungguhnya aku sendiri tak tahu apa yang dikerjakan oleh LSM. Aku kadang disuruh nulis proposal lalu dibelakangnya ada anggaran dana yang jumlahnya besar sekali. Habis itu aku disuruh mengerjakan training, pelatihan bahkan pendidikan dengan honor dan biaya yang bisa untuk membeli HP. Tapi aku malu menjawab pertanyaan Tan Malaka. Malah aku kemudian ganti bertanya, 'apa yang dikerjakan Sarekat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Tan Malaka memandangku dengan heran. 'aku yakin kamu tak pernah diberitahu apa itu Sarekat Islam. Inilah kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan para penguasa kolonial. Kami terdiri dari anak-anak muda sepertimu. Kami ajak rakyat untuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak untuk menjadikan orang menjadi budak. Hal yang kemudian dikerjakan pula oleh PKI. Kami dulu menjadi anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota PKI. Aku yakin cerita sejarah tentang itu tak pernah sampai ke telingamu. Zaman sudah banyak berubah dan kulihat nasib bangsa ini jauh lebih buram. Aku banyak mendengar, kalau kalian sudah jadi penguasa yang menjajah rakyatnya sendiri. Rakyat itu kalian jadikan budak. Sekali lagi kalau kupandang muka para penguasa sekarang ini, aku jadi ingat muka para aparat kolonial dulu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa tertunduk. Kuingat beberapa temanku yang menjadi politisi curang. Mereka aktivis partai tapi tidak punya gagasan besar untuk memerdekakan rakyat. Kuingat temanku yang menjadi kaum profesional yang juga terlibat dalam persekongkolan dengan para kapitalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kalian memiliki penguasa diktator yang kejam pada rakyat kecil. Menggusur tempat tinggal mereka, membuat pendidikan dengan harga yang mahal dan membebani rakyat kecil dengan ongkos kesehatan yang tinggi. Beberapa kali kulihat kalian ikut mensukseskan program yang didanai oleh bantuan asing dengan sikap yang loyal. Jika kausebut dirimu seorang aktivis perubahan sosial apa yang akan kaukerjakan anak muda? Kaudiamkan seorang pejabat yang kekayaanya melebihi pendapatan jutaan penduduk miskin. Kaubiarkan seorang pejabat tinggi bergaji 110 juta per bulan jauh melambung melebihi UMR buruh. Apa yang selama ini kaulakukan anak muda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku terdiam lama sekali. Kuingat-ingat apa yang pernah kukerjakan selama ini. Ikut dalam solidaritas teman-teman memantau anggaran. Ikut melakukan pengorganisiran terhadap para pedagang kaki lima. Ikut serta dalam barisan oposisi menentang militerisme yang hendak berkuasa. Dan kadang-kadang ikut nimbrung dalam program demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka memandangku dengan rasa iba. Seolah-olah ia tahu kecamuk pikiran yang kurasakan. Ia berdiri dan menatapku, lalu perlahan-lahan ia mengucapkan serangkaian kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Anak muda apa yang kaukerjakan selama ini memang masih jauh dari kebutuhan rakyat. Kau dikepung oleh kekuatan kapitalis yang tumbuh dan berpengaruh luas. Kulihat kau sendiri susah untuk mempertemukan teman-temanmu yang punya komitmen serupa. Kulihat jumlah kalian yang sangat kecil dengan ikatan disiplin yang longgar. Anak muda organisasimu harus belajar banyak dari sejarah Sarekat Islam atau PKI. Dua kekuatan politik yang dulu mampu mengetahui kebutuhan rakyat. Rasa-rasanya kalian harus baca ulang apa yang kutulis dalam Aksi Massa, Madilog dan Gerpolek. Pahami pikiran kami bukan dengan pisau akademik semata melainkan juga dengan pisau gerakan. Pahami semangat dan spirit yang melandasi kami semua. Camkan bahwa struktur kapitalis hanya bisa dilawan dengan kekuatan pengetahuan dan kekuatan pergerakan. Pengetahuan yang mengabdi pada kepentingan rakyat bukan yang menjadi alat bagi penguatan sistem produksi kapitalis. Maka senjata gagasan harus kalian kerjakan lebih dulu. Disitu kulihat kalian malas. Tak pernah kubaca tulisan kalian yang menggugah dan memberi inspirasi rakyat untuk melawan. Tak pernahkah dalam benak kalian untuk mendirikan pendidikan yang baik dan murah untuk melayani rakyat miskin? Anak muda kau adalah tumpuan rakyat miskin, jika kau ingin mengenal, memahami serta membela mereka, maka yang kaukerjakan hanya satu: hidup dan hayati kehidupan bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menepuk pundakku dan melangkah pergi. Dari punggungnya kulihat ia berjalan bergegas. Aku berdiri ingin mengejarnya. Tapi langkah itu terlalu cepat dan ia menghilang di balik gubuk-gubuk yang baru digusur. Akh, Tan Malaka semasa hidupnya ia bersama orang miskin dan kini kutemukan dirinya di tengah perkampungan miskin. Kampung orang miskin yang jumlahnya sangat padat dan penduduknya menjadi golongan yang dulu diperjuangkan kemerdekaanya oleh Tan Malaka. Tan Malaka, bagiku kau adalah inspirasi yang tak pernah lekang oleh waktu. Menjadi martir untuk sebuah perubahan yang kini memakan korban anak bangsa sendiri. Andai kau masih di depanku tentu aku hendak mengatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya, kami memang tidak mampu melakukan seperti yang kaukerjakan. Kami berada dalam lingkungan pendidikan yang busuk. Pendidikan yang tidak bisa membuat kami dekat dengan penderitaan rakyat. Kami hanya memiliki sedikit intelektual besar yang mampu menuliskan penderitaan rakyat. Intelektual kami hanya sibuk dengan urusan perutnya sendiri. Kami juga tidak memiliki pemimpin gerakan yang berpandangan terbuka, bergerak progresif dan bisa memahami kebutuhan rakyat. Yang kami punya hanya pemimpin karbitan, pemimpin yang muncul sekejab dan tidak memiliki pikiran-pikiran besar yang menjangkau ke arah masa depan. Indonesia yang dulu kauperjuangkan kini sudah banyak berubah. Negeri ini telah membiakkan kebusukan: korupsi, perdagangan anak, pembunuhan, kriminalitas, dan kemiskinan. Tapi kami anak muda, yang ingin berbuat seperti yang kaulakukan. Kami ingin melawan, melawan, dan terus melawan. Terhadap penguasa yang diktator, aktivis yang menjadi broker politik, intelektual yang melacurkan ilmunya, dan preman yang menggunakan kekerasan pada rakyatnya sendiri. Itu yang ingin dan sedang kami kerjakan, Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari resistbook.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-6229305983779085005?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/6229305983779085005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=6229305983779085005' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6229305983779085005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/6229305983779085005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/03/pertemuan-dengan-tan-malaka.html' title='Pertemuan dengan Tan Malaka'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33785329.post-8321574449892908071</id><published>2007-02-28T22:50:00.000-08:00</published><updated>2007-02-28T23:03:49.908-08:00</updated><title type='text'>Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/ReZ4x0tfw6I/AAAAAAAAAAM/e2fRXimZyOE/s1600-h/tan_malaka_a1015a.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036846030618870690" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/ReZ4x0tfw6I/AAAAAAAAAAM/e2fRXimZyOE/s320/tan_malaka_a1015a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                                       Tan Malaka, salah satu pahalwan terlupakan Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33785329-8321574449892908071?l=beggysme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://beggysme.blogspot.com/feeds/8321574449892908071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33785329&amp;postID=8321574449892908071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8321574449892908071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33785329/posts/default/8321574449892908071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://beggysme.blogspot.com/2007/02/tan-malaka-salah-satu-pahalwan.html' title='Tan Malaka'/><author><name>beggysme</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06266590511037682658</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='20' src='http://3.bp.blogspot.com/-BlGCbb6yvDI/TgPkYxpe7YI/AAAAAAAAAHU/91nfeq9Y0NE/s220/808738287_8ff86b5544.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_KekTkgZveso/ReZ4x0tfw6I/AAAAAAAAAAM/e2fRXimZyOE/s72-c/tan_malaka_a1015a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
