Sabtu, lalu, gue dibangunkan oleh teman. Katanya, tonton saja Metro TV. Ternyata Debat Capres Amerika, McCain Vs. Obama. Gue penasaran, katanya Obama bicara seperti Malcom X yang melegenda. Ah, masa? ternyata tidak. Tapi bukan itu maksud tulisan ini. Bukan juga mau membahas kebijakan politik, ekonomi, atau gosip tentang mereka. Pasti banyak pengamat politik kita yang lebih jago soal itu.
Kalau ada yang melihat debat itu memasuki topik Iran. Di sinilah masalahnya. Baik Obama ataupun McCain masing-masing memaparkan bagaimana mereka menangani Iran. Mereka bilang Iran begini, maka akan ditangani begitu. istilahnya, kalau dia (Iran) begini, gue gebuk dia, yang satu lagi bilang, dia begitu, bakal gue damprat dia. Masing-masing membicarakan Iran ini-itu. Pikiran gue cuma satu. Bagaimana rasanya jadi Iran, warga Iran, atau Ahmadinejad ya? Coba bayangkan, di depan jutaan orang, kita di bilang biang masalah, dan di depan jutaan orang pula dua orang berdebat bagaimana menangani kita. Tapi yang paling menyesakkan kita tidak dilibatkan sama sekali. Ibaratnya kita diadili atas kesalahan kita, dan mau diputuskan hukumannya, tapi kita tidak hadir di pengadilan itu, baik untuk membela diri ataupun sekedar ditanya. Pertanyaanya, Siapakah AS itu, hingga berhak menilai, mengadili dan menghukum negara lain?
Sepertinya kita seperti dipaksa mengakui kalau AS adalah polisi dunia, berhak mengatur segalanya. Ketika mereka bilang kita salah, berarti siap-siap ia masuk ke dalam kehidupan kita. Sepertinya sudah menjadi hukum alam. Pantaslah kalau Ahmadinejad berteriak-teriak, mencak-mencak terhadap Amerika dan sekutunya. Bagaimana tidak, negaranya dinilai, diadili bahkan diberi sanksi tanpa ia dilibatkan. Negaranya jadi bahan kecaman dua kandidat yang berkampanye.
Entah ada apa dibenak jutaan orang lainnya. Yang jelas, wajar kalau Ahmadinejad mencak-mencak, Hugo Chavez memaki-maki, Eco Morales mengecam. Kita? Presiden kita? Sudah untung ia tidak ikut-ikutan mau "tampil" dalam debat itu.
Omong-omong, Obama itu buat gue lebih baik dari McCain, but he's just another prick on the wall.
0 pendapat:
Post a Comment